The Ugly Duckling

The Ugly Duckling
52


__ADS_3

Aku memekik pelan saat bahuku menghantam dada kerasnya, rupanya dia menangkap itu. Yama ******* bibirku, tak ada tanda-tanda pemaksaan. Dia ********** dengan lembut seperti biasa.


Ini aku yang mikirnya rusuh atau memang dia nggak ada maksud, batinku.


Yama melepas per pagutan bibir ini, kemudian ia memunggungiku. Dia menepuk pundak belakangnya dan berkata, “pijat aku seperti tadi.”


Aku melongo mendengar permintaannya itu, “Tadi kapan?”


“Waktu aku menggendongmu.”


What! Bukannya tadi aku memukul punggungnya keras? Kenapa dia merasa seperti di pijit? Aku menggelengkan kepalaku.


Aku memukul-mukul bahu dan punggungnya dengan sekuat tenaga, suara erangan pun lolos dari mulutku. Aku mengintip wajahnya dari belakang, tak ada mimik wajah kesakitan darinya. Beberapa menit berlalu, tanganku sudah mulai pegal, aku berhenti memukulnya.


“Udah ah, aku capek!” ucapku dengan membetulkan posisi dudukku. Yama memakai jasnya kembali, dia juga membetulkan dasinya.


“Kemarilah.” Yama memosisikanku tidur berbantal kan pahanya. Aku menikmati tiap belaiannya, hingga aku terlena menuju alam mimpi.

__ADS_1


Aku terbangun oleh suara-suara bising, suaranya seperti orang yang sedang bertengkar. Anehnya aku tidak berada di dalam mobil, tetapi di sebuah ruangan kecil dengan sebuah kasur. Ruangan asing ini membuatku penuh dengan kewaspadaan. Suara itu semakin menjadi, aku membuka pintu di depanku.


Tadashi sedang menginjak seorang perempuan tanpa busana, kepalanya berada di bawah kaki Tadashi. Aku yang baru saja terbangun dari tidur di suguhi pemandangan seperti ini. Yama memandangku, dia mengulurkan tangannya agar aku bergabung dengannya.


Aku tidak menyambut uluran tangan Yama, sebagai sesama perempuan, naluriku untuk membelanya begitu kuat. Aku kembali ke kamar untuk mengambil sebuah selimut. Aku segera keluar kamar dan mendorong Tadashi mundur, kemudian aku memberikan selimut itu pada wanita yang di injak Tadashi.


“Kamu gila! Tega banget sih nyiksa perempuan sampai seperti ini!” teriakku padanya, aku membantunya untuk berdiri.


“Jangan lengah!” teriak Yama.


Terlambat, aku sudah berada di pelukan wanita itu. Rupanya dia mengambil bolpoin yang ada di atas meja saat aku berteriak. Aku menyesal dengan tindakan bodohku ini. Kulihat senyum mengerikan dari wajahnya.


Yama bergegas melakukan panggilan untuk membantuku, dia menganggukkan kepalanya sedikit pada Tadashi. Wanita itu menyeretku hingga menuju lift, dia meminta ruang untuk kabur. Wanita itu benar-benar menekan ujung bolpoin ke arah leherku, rasanya sakit. Aku mengaduh sedikit keras, Yama yang mendengarnya bergegas maju dan menebas wanita itu.


Cipratan noda merah itu ada di mana-mana. Yama menebas bahu kanannya hingga terputus, menggunakan pedang samurai yang di berikan oleh Tadashi sewaktu wanita itu lengah. Aku merinding ngeri melihat hal ini, Yama bergegas menarik dan memelukku, “Maafkan aku, inilah sebabnya aku tak ingin kamu bergaul dengan banyak orang asing.”


Aku hanya bisa menangis sesenggukan di pelukannya. Yama mengajakku duduk di sofa di dalam ruangan. Ia memerintahkan beberapa orang untuk segera membereskan kekacauan yang di buatnya. Kejadian berdarah seperti ini secara berurutan membuatku berpikir 2 kali untuk menikahi Yama.

__ADS_1


Yama meminta Keiko untuk menemaniku berganti pakaian. Tubuhku masih bergetar karena syok, membuatku menjadi lambat untuk berpakaian. Keiko menawarkan bantuannya, aku mengangguk setuju. Dia membasuh wajahku yang terciprat noda merah itu, kemudian membantuku berganti pakaian.


Setelah bangun dari tidur, tenagaku bukannya pulih malahan kembali lemas melihat kejadian tadi. Sungguh naas diriku memiliki calon suami seorang Yakuza. Kini aku berpikir dua kali untuk berada di tengah kumpulan orang banyak.


Yama mengajakku berkeliling kota, dia memperlihatkan tempat-tempat indah padaku untuk menghilangkan memori jelek tadi. Aku bukan orang yang mudah lupa, sulit bagiku untuk melupakan kejadian tadi. Yama mencium pipiku dan berbisik, “Tenang saja, aku tidak akan mengizinkan orang lain menyakitimu.”


Aku memeluknya erat-erat, “Aku takut, aku nggak mau hidup seperti ini.”


“Ini bukan pilihan, jika kamu takut maka jadilah lebih kuat,” ucap Yama.


Aku memeluk tangannya erat, lalu menggigitnya kuat. “Kamu nggak punya perasaan! Aku bilang takut, kamu bilang harus lebih kuat.” Aku mencubit keras dadanya.


“Aauu ... au! Sakit Sakura_chan!” Yama berteriak kesakitan.


“Aku nggak habis pikir lelaki mana yang ngajak istrinya jadi Yakuza!” Marahku padanya.


“Jadi, kamu benar-benar menerimaku sebagai suamimu dengan tulus?” Yama menggenggam tanganku dengan sorot mata yang bercahaya.

__ADS_1


“Iya, tapi aku nggak suka dengan pekerjaanmu ini!” ucapku yang masih terus mencubit badannya.


Yama terus mengaduh sambil tertawa lepas, tawa yang nyaring dan bahagia. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk menjadi kuat dan pintar seperti dirinya. Metamorfosis keduaku di mulai disini.


__ADS_2