
Yama kembali berjongkok dihadapanku, dan memakaikan sepatu itu padaku. Kulihat para pelayan yang ada disana sangat kaget dan berbisik-bisik.
Aku memposisikan rambutku berada di belakang telinga dan membungkuk ke arahnya, "Mengapa mereka berbisik?" tanyaku pada Yama.
"Mereka hanya iri padamu." ucap Yama yang masih melanjutkan kegiatannya tadi.
"Hah! akhirnya kamu bicara juga, ada apa denganmu tadi?" tanyaku dengan nada sedikit marah dan kembali menegakkan badanku.
"Aku tidak tahu mengapa kamu lari begitu saja, apa kamu tidak sadar jika banyak orang jahat di luar sana?! bagaimana jika mereka menculikmu? bagaimana jika kau tersesat? jika kau terjebak dalam kerumunan itu, apa yang akan terjadi?!" Yama mengutarakan kekhawatirannya padaku.
"Yama ... jadi, kamu mengkhawatirkanku? kamu nggak marah karena aku mengerjaimu?" tanyaku.
"Aku tidak akan pernah bisa marah padamu, tapi mengapa kamu berlari keluar dari toko tadi?" tanya Yama dengan meletakkan sebelah tangannya di pipiku.
"Ehehe ... itu sebenarnya karena kulihat harga sepatu ini sangat mahal, kalau aku bilang nggak mau pun pasti tetap akan kamu belikan. Jadi, aku kabur aja." Aku menjawab dengan tawa cekikikan.
Aku mengira jika dia akan ikut tertawa, tapi ternyata respon Yama adalah memelukku.
"Harga sebuah sepatu tidak sebanding dengan nyawamu." ucapnya, membuat hatiku terenyuh.
"Yama_san, nggak semua yang aku lihat harus kamu beli." ucapku padanya.
Baru saja aku bicara perihal beli membeli, Haruka memberikan kotak kedua kepada Yama.
"Ini sepatu lain yang kamu inginkan, sepatu dari kulit buaya yang kamu minta tadi." ucap Yama dengan membuka kotak sepatu itu.
"Ya ampun Yama_san, kamu udah keluar berapa duit cuma buat beli sepatu-sepatu ini? mending buat beli yang lain, buku kek, gitar kek, baju kek." ucapku keceplosan.
Yama menganggukkan kepalanya kepada Haruka, tanda perintah untuk segera membeli itu semua. Aku menutup mulutku mengingat sifat Yama.
Astagaa!! si Yakuza gila! semua yang aku ucap benar-benar akan dibelinya! ucapku dalam hati.
Akupun menepuk keningku, sungguh pacarku ini sangat ringan dompet. Aku meminta Haruka untuk mengurungkan niatnya membeli semua barang itu.
"Haruka stop! jangan membeli apapun!" perintahku pada Haruka dalam bahasa inggris.
"Yama! hentikan ini, aku nggak suka jika kamu menghamburkan banyak uang hanya untuk hal-hal yang tidak berguna." ucapku pada Yama.
"Jika kamu ingin aku berhenti, maka kamu harus segera menikah denganku." Yama terlihat serius.
__ADS_1
Aku melipat kedua tanganku di dada dan berucap, "Terserah kalau kamu ingin hamburkan uang, aku tetap tidak akan mau menikah muda."
Semua pelayan disana membelalakkan matanya dengan mulut menganga saat melihatku berkata demikian pada Yama, entah seberapa besar kekuasaannya.
Yama serius dengan ucapannya, tak lama kemudian beberapa orang masuk dengan membawa beberapa buku, sebuah gitar dan beberapa baju.
Aku meminta mereka untuk mengikutiku berjalan menuju tepi jalan, mereka membawa beberapa barang itu. Aku mencari beberapa orang secara acak untuk menerima pemberian dariku ini, hingga tersisa sebuah gitar.
Aku melihat seorang anak kecil yang tengah mengamati etalase sebuah toko, kulihat dia sedang menatap sebuah kue disana.
Aku bertanya pada Haruka yang saat itu bersamaku.
"Haruka, apakah kamu membawa uang?" tanyaku.
Dia menganggukkan kepalanya dan kulihat dari kejauhan Yama berjalan mendekatiku.
Aku menarik Haruka dan anak kecil itu masuk kedalam toko kue itu, aku berjongkok dan menunjuk kue yang dimintanya. Kurasa dia mengerti bahasa isyarat yang kuberikan, Haruka membantuku untuk berbicara padanya.
Awalnya anak kecil itu terlihat takut, tapi setelah Haruka menjelaskan dan aku tersenyum padanya, dia pun mau menunjukkan kue yang diinginkannya.
Haruka membantuku memesan kue itu, lalu aku memberikannya kepada anak kecil itu. Aku juga memberika gitar pemberian Yama kepadanya, hatiku terasa senang sekali dapat memberi.
"Arigatōgozaimasu." Ucap anak itu sambil membungkukkan badannya dalam.
"Cobalah." Ucapnya dengan menyuapiku.
Aku mencobanya, rasanya memang sangat enak sekali. Krimnya lembut, manisnya pas dan sangat ringan rasanya.
"Ini enak banget!" Ucapku dengan ekspresi gemas.
Kemudian kami pun menghabiskan sisa kue tadi bersama-sama.
"Kamu nggak marah? semua barang yang kamu beli sudah ku bagikan ke orang lain." tanyaku, saat ini kita berada di dalam mobil.
"Tidak, milikku adalah milikmu. Asalkan kamu senang, aku tidak masalah walaupun harus keluar uang." ucapnya.
"Nggak bisa gitu juga, kalau nggak di pikir bisa bangkrut!" cerucutku.
"Hahaha ... aku nggak akan bangkrut semudah itu." Tawa Yama.
__ADS_1
"Iya, iya, aku ngerti kok. Mesin uangmu banyak." ucapku menggodanya.
"Darimana kamu tahu?" tanya Yama.
"Mama, mama bilang jika kamu punya banyak bisnis. Eh salah, bukan kamu tapi kakek Yamamoto." Aku menutup mulutku.
"Ya ... memang kakek yang merintis, tapi aku yang membuat usahanya besar dan berkembang." Yama merentangkan tangannya dan bersandar pada kursi mobil.
"Aku membayangkan jika ada di posisimu, mungkin aku akan menjadi gila." ucapku.
"Hahaha ... kamu tidak akan sanggup menjalani kehidupanku dulu."
"Eh, berarti kamu punya hobi yang nggak kesampaian dong." tanyaku semangat dengan melompat mengangkat kaki ke atas jok mobil.
"Hobi? ehem ... sepertinya bukan hal penting." jawabnya malu.
"Yama_san ... beritahu aku, apa hobimu?" aku merengek manja.
"Jangan buat aku ingin melahapmu." ucap Yama dengan menatapku.
Seketika aku melompat menjauh dan merubah posisi dudukku.
"Hobiku adalah menyulam" ucapnya dengan pipi merona, sangat menggemaskan.
"Ternyata Yama-ku sangat menggemaskan," ucapku dengan mencubit kedua pipinya, "Aku ingin tahu hasil rajutanmu." ucapku.
"Tidak ada, semua sudah aku buang." ekspresi wajah Yama berubah. Ada terbesit rasa kecewa dari raut wajahnya.
"Eh, kenapa? apa karenan kakek Yamamoto?" tanyaku menebak-nebak.
Yama semakin mengeraskan rahangnya, dia merasa marah akan sesuatu yang aku tidak tahu itu apa. Hal ini membuatku ikut merasa sedih, aku prihatin dengan kehidupan masa lalunya.
"Maafkan aku, bagaimana jika kamu mengajariku cara menyulam." ucapku bersemangat kembali, mencoba mengusir suasana canggung.
"Aku sudah lupa caranya." Jawab Yama jujur.
"Aku nggak percaya, pokoknya besok kamu harus mengajariku cara menyulam." ucapku dengan berpura-pura ngambek.
Yama akhirnya menyetujui untuk mengajariku menyulam, dia akan meluangkan waktunya untukku.
__ADS_1
Kami sampai di dalam apartmen dan aku langsung menuju ke kamar, menghindari hal-hal yang tidak aku inginkan. Aku masih berusaha menghubungi nenek Megumi malam itu, berharap dia akan menjawab teleponku. Tapi, hasilnya masih sama.
Aku pun berbaring dan memejamkan mataku, menikmati suasana baru. Malam ini berlalu dengan aman, tak ada gangguan dari Yama. Hingga akhirnya akupun tidur dengan nyenyak.