
Kenjiro terkekeh pelan, aku menjadi sedikit lega melihatnya tersenyum. Tidak ingin menjadi canggung, aku meminta Yama untuk mengantarku ke kamar. "Yama ... aku capek nih, tolong antar aku ke kamar," pintaku.
Yama tersenyum penuh kemenangan, dia menuntunku menuju kamar. Aku berharap Ken dapat menerima keadaan ini. Melihatnya tidak terawat membuatku sedikit merasa bersalah.
Sesampainya di kamar, Yama menutup pintu. Dia mendorongku hingga menempel dinding kamar. Tangannya mengkungkungku.
"Aapa? Ada apa ini?" tanyaku panik.
"Ternyata kamu sangat naif, berani-beraninya kamu menggodaku di hadapan Mama dan Kenjiro," ucap Yama.
"Aku nggak bermaksud apa-apa." Aku memalingkan wajahku.
"Benarkah? Bukankah kamu selalu menolak untuk berada satu kamar denganku?" tanya Yama.
"Jadi, kamu nggak mau berada satu kamar denganku? Kalau gitu aku sekamar dengan Kenjiro aja." Godaku.
"Tidak! aku tidak akan pernah mengijinkan itu terjadi," ucapnya panik.
__ADS_1
Panik nggak tuh? dasar Yakuza gila kepedean! aku tinggal baru tau rasa! ucapku dalam hati. Aku mendorongnya keras hingga aku dapat keluar dari kurungannya. Tubuhku terasa sangat lelah, aku memilih berbaring di atas kasur.
"Kalau mau tidur, silahkan. Kalau nggak mau aku disini, aku akan keluar. Aku udah baik loh, tau diri kalau pacarku ini posesif. Harusnya kamu terimakasih dong sama aku." Aku mengomel tanpa sadar.
Ranjang terasa sedikit bergoyang, benar dugaanku ternyata Yama sudah berada di sampingku. Jantungku berdetak tak karuan. Kalau kata Ahmad Dani seperti genderang mau perang.
Lindungi aku ya Tuhan, jangan masukkan aku kedalam lubang Harimau ini. Aku berdoa dengan mata terpejam rapat dan selimut yang membungkus rapat diriku.
Aku dapat mendengar nafasnya, kemudian tangannya mulai melingkar di pinggangku. Aku coba untuk berpikir jernih. Tapi, aku menyerah kemudian.
"Aaaa ... Sudah! Aku tidur di sofa aja!" teriakku tiba-tiba.
Aku mengambil posisi tidur yang nyaman, kemudian aku memejamkan mataku. Sangat tenang dan damai. Aku pun terlelap, tenggelam dalam dunia mimpi.
Keesokan paginya, aku terbangun karena sinar matahari yang mulai masuk kedalam kamar. Beberapa hari ini jam tidur dan bangunku sangat kacau, sehingga aku sering bangun kesiangan. Aku meregangkan otot-otot badanku di tempat yang luas ini. Sedetik kemudian aku tersadar akan sesuatu hal.
Bukankah aku tidur di sofa kemarin? Kenapa aku disini sekarang? Batinku. Saat ini aku berada di atas kasur yang luas dan empuk itu.
__ADS_1
"Aaa ... Yamaaa!" teriakku.
"Apa?" jawabnya dari balik sofa.
Aku menutup mulutku sejenak, " Kamu ... nggak tidur disini?" tanyaku.
"Kamu berkata jika tidak ingin tidur denganku. Aku menghormati keputusanmu, lebih baik aku yang tidur di sofa," jawbnya dengan kepala yang tiba-tiba muncul dari balik sofa.
Aku melompat turun dari atas kasur kemudian berlari kecil kearahnya dan mengecup pipinya sekilas. "Terimakasih," ucapku.
"Sakura_chan! kenapa kamu selalu menggodaku!" teriaknya.
"Hi ... takut." godaku dengan berlari memasuki kamar mandi.
"Buka ... aku akan menghabisimu." Yama menggedor pintu kamar mandi.
"Nggak mau! Weekkk!" ucapku diri balik pintu kamar mandi.
__ADS_1
Aku bergegas membersihkan diriku. Yama sangat menghormatiku, tak salah jika aku memilihnya. Semoga hubungan kami langgeng terus seperti kakek dan nenek Ito.