
"Aku nggak goda kamu kok! Aku cuma minta tolong ambilkan handuk dan bajuku," elakku.
"Kamu yang menciumku lebih dahulu," ucapnya santai dengan membuka koran hari itu.
"Hehe ... itu, aku hanya berterimakasih karena kamu menghormati keputusanku." Aku menunjukkan cengiran khasku.
"Kamu juga menggodaku saat berada di kamar mandi," ucap Yama sangat santai"
"Mama jangan percaya, mana ada cewek yang godain cowok duluan." Aku menggoyan tangan Mama pelan.
"Sudah ... sudah ... Sepertinya kalian harus cepat menikah." Mama mengusap kepalaku.
"Nggak!" jawabku dan Kenjiro bersamaan.
Kenjiro tiba-tiba datang dan menjawab bersamaan denganku secara tidak sengaja. Aku melirik Yama menggenggam erat koran yang dipegangnya. Raut wajahnya tak terlihat, tapi aku tahu pasti itu adalah raut wajah jeleknya.
__ADS_1
"Kita akan menikah minggu depan!" ucap Yama tegas dengan suara baritonnya.
"Aapa?! tunggu ... tunggu ... Aku belum memulai apa-apa di hidup aku. Aku nggak mau nikah dulu," tolakku.
"Kamu dapat memulai hidupmu setelah kita menikah nanti," ucap Yama dengan menahan amarahnya.
Mampus aku! Kenjiro ngapain sih ikutan jawab nggak! Gimana ini? Aku harus cari akal, batinku. Aku meremas jemariku cemas dengan keputusan Yama. Sepertinya Ken dapat melihat kecemasanku.
"Kamu nggak bisa paksa orang seenaknya," ucap Kenjiro berusaha membelaku.
Aku hanya bisa pasrah, nenek yang biasanya menjadi tempat aku berlindung sudah tiada. Mungkin memang aku ditakdirkan menikah muda. Nenek juga sudah merestui kami.
"Udah jangan sedih, ayo kita sarapan diluar aja," ucap Ken dengan merangkul pundakku.
"Singkirkan tanganmu," ucap Yama dengan suara rendah mengancam.
__ADS_1
Mama yang mengetahui situasi itu pun memanggilku. " Sakura, lebih baik kita sarapan di luar aja yuk," ajak Mama padaku. Aku menganggukkan kepalaku cepat dan mengikuti langkahnya.
Kami berangkat menuju sebuah rumah makan kecil di pinggir jalan, masih bersama Keiko. Mama masuk kedalam dan berbincang sebentar dengan pemilik rumah makan tersebut. Sepertinya beliau kenal dengan pemiliknya.
Kami mengambil tempat duduk di dekat jendela besar, Mama memesan beberapa makanan untuk sarapan. " Ini rumah makan langganan Mama dulu saat berpacaran dengan Papa," ceritanya.
"Saat itu, Mama yang memaksa Papa untuk menikah." Mama terkekeh pelan mengingat masa mudanya.
"Hah?!" Aku terkejut mendengar pernyataan itu, Mama mengangguk mengiyakan kata-katanya.
"Waktu itu, kami berdua berada di kampus yang sama. Papa tidak tahu jika Mama adalah anak seorang Yakuza, hingga kami berpacaran dan mulai serius." Mama menjeda.
"Papa berniat meminang Mama, dia dengan berani datang ke rumah dan bertemu Kakek Ito. Saat itu Kakek sedang menangani salah satu anggotanya yang membelot, pas sekali dengan kedatangan Papa. Mama melihat tubuh Papa menegang, kemudian dia berusaha kuat sepanjang percakapan dengan kakek. Sejak hari itu, Papa selalu menjauhi Mama. Hingga suatu hari, Mama memaksanya untuk menikah. Aku menculiknya dan membawanya langsung menuju tempat upacara pernikahan. Lucunya dia tidak menolak, kemudian Kami pindah ke Indonesia sebab Kakek menekan Papa untuk menjadi penerusnya." Mama mengakhiri ceritanya.
"Ooo ... jadi kalian kabur dari Kakek? lalu mengapa kakek memilih Yama? Bukankah ada Paman Akutsu juga?" tanyaku penasaran.
__ADS_1
"Akutsu terlalu berambisi seperti Iblis, entah mengapa Kakek dan Nenek menamainya Akutsu. Kakek memilih penerus laki-laki pertama dariku, dia menculik Yama yang saat itu masih kecil dan melarangku untuk bertemu dengannya." Air mata meluncur di pipi Mama.