
Ichi menarik kimono Yama kuat-kuat, membuatnya terjerembab keras. Ichiro tertawa keras, dia merasa sangat puas melihat sang Ayah yang kesakitan. Suara berdebum itu begitu keras, mengingat rumah peninggalan Megumi berlantai kayu. Sarah dan Hana berlari mendatangi arah suara itu, terlihat kedua perempuan itu menepuk dahinya serentak.
Yama sangat kesal, wajahnya menjadi merah. Dia berdiri dan mengangkat Ichiro di bagian kakinya, membuat sang anak bergelantungan dengan posisi terbalik. Yama menyentil dahi anak itu keras.
Tak! "Beraninya kamu membuatku terjatuh! Aku akan membuatmu menyesal!" Yama membawanya menuju taman belakang rumah, sentilan untuk anak berusia 2 tahun sudah pasti terasa sakit.
Ichiro menangis meronta berusaha menggapai Ayahnya yang jauh dari jangkauannya. Sesampainya di taman sebelah rumah, Yama mengajaknya duduk di dalam gazebo dengan posisi Seiza.
"Duduk!" perintah Yama. Dia membetulkan posisi duduk Ichiro yang salah, kemudian Yama melantunkan kotozawa.
Yama duduk berhadapan dengan Ichiro, kotozawa yang keluar dari mulutnya membuay Ichi menjadi bosan.
"Aku capek!" Anak berusia 2 tahun itu mengeluh, kakinya terasa sakit.
"Duduk! jangan coba-coba bergerak." Yama masih melantunkan kotozawanya.
"Mamaaa! aku lapar!" Ichi berteriak keras, matanya mulai berair.
__ADS_1
Sarah melihat dari kejauhan dua orang laki-laki yang telah meramaikan hari-harinya. Dia melangkah menuju gazebo, memberi isyarat mata kepada Yama. Yama mengikuti istrinya keluar dari gazebo.
"Jangan bergerak!" Yama menoleh ke arah Anaknya.
Yama memeluk mesra Sarah dari belakang, "ada apa Sayang," ciuman sayang mendarat di pipinya.
"Jangan terlalu keras sama Ichi, dia masih kecil. Usianya baru 2 tahun, dia juga anakmu!" Sarah mulai mengomel. Yama memutar tubuh istrinya, dia membungkam Sarah dengan bibirnya. Ichiro memutar matanya jengah, dia tidur terlentang di atas lantai kayu itu.
Yama melihat Ichi yang sedang berbaring dari sudut matanya yang tajam itu, dia melepas perpagutan bibirnya dengan sang istri. Yama berjalan ke arah Ichi, tangan sebelahnya ditarik oleh Sarah. Sarah menggeleng pelan.
"Bocah! ayo kita makan malam," panggil Yama.
Mereka berempat telah duduk di ruang makan, makanan yang tersaji membuat mata Ichi berbinar. Ada makanan kesukaannya di sana, ebi furai. Ichi mengulurkan tangannya bermaksud mengambil ebi itu, kemudian sebuah pukulan dilayangkan ke tangan Ichiro.
"Auh! Aku lapar!" Teriak Ichiro ke arah Yama.
"Ichi_chan kita berdoa dulu ya." Ichi mengangguk mendengar ucapan lembut Sarah.
__ADS_1
Seusai berdoa, mereka makan dengan tenang. Ini adalah peraturan pertama saat berada di meja makan, lain halnya bersama Kenjiro dahulu yang suka berbincang saat makan. Sesekali Ichi mengeluarkan suaranya, tetapi Yama memberinya tatapan tajam.
"Sayang, mengapa kamu memberinya gorengan?" Yama memulai pembicaraan saat semua telah selesai makan.
"Nggak papa, aku masak gorengan juga jarang-jarang kok." Sarah membantu mengusap mulut Ichi.
Ichiro terlihat asyik bermain dengan Obaa_chan nya di ruang keluarga. Yama dan Sarah memperhatikan mereka, sesekali tawa memenuhi ruangan itu. Tak terasa waktu menunjukkan pukul 8 malam, Sarah menggendong Ichi dan membawanya menuju kamar mandi.
Berbeda dengan Yama yang mendidik anaknya dengan keras, Sarah melakukannya dengan lembut. Dia mengajarkan cara menggosok gigi yang benar. Sarah menirukan nyanyian dari film kartun kesukaan Ichiro, Shimajiro.
*Sikat bagian dalam ...
Gosok-gosok ... ya, kuman di gigiku hilang.
Sikat bagian depan ...
Gosok-gosok ... ya, kuman di gigiku hilang*.
__ADS_1
"Kita tumpas kumannya bersama-sama, ayo gosok-gosok Ichi." Mereka berdua bergoyang di depan cermin sambil menggosok giginya.
Setelah semua selesai, Sarah membawa Ichi ke dalam kamarnya. Yama sudah duduk di sana memainkan kotonya, alunan melodi dan suara nyanyian nina bobok dari Yama mengantarkan Ichiro ke dunia mimpi. Mereka berdua mencium pipi Ichiro bergantian, mengucapkan selamat malam.