
"Lepasin!!"
Sarah dengan refleks mendorong tubuh suaminya itu menjauh saat mendengar teriakan dari Ichiro. Yama terpaksa melepas tangannya yang sudah nyaman berada di tempat kenyal itu, wajahnya frustasi. Sarah segera memeluk buah hatinya itu, berharap dia tidak akan paham yang dilakukan Ayahnya tadi.
"Jangan dekat Mama aku lagi! kamu jahat!" teriak Ichi.
"Ichi ... Papa dan Mama hanya berpelukan, Mama rindu ketemu sama Papa." Sarah mencoba menjelaskan.
"Mama cuma punya Ichi."
"Iya, Ichi mandi dulu ya sama Papa."
"Nggak mau!"
Yama tanpa suara sudah memanggul anaknya itu menuju kamar mandi. Ichiro memukul-mukul punggung Yama keras, tapi kekuatan anak itu tidak ada apa-apanya bagi Yama. Seperti biasa, acara mandi masih di ramaikan oleh Ichiro.
Hari ini keusilan Ichi adalah, meletakkan sabun cair di depan bathtub. Yama tanpa menaruh curiga melangkahkan kakinya keluar bathtub, alhasil dia terjerembab kebelakang dan menimbulkan suara 'Duk' yang keras.
__ADS_1
Kepala Yama terantuk badan bathtub, meninggalkan benjolan sebesar kepalan tangan Ichi. Lagi-lagi Ichi mengambil shower dan menyiram Yama dengan air dingin. Teriakan Yama memanggil nama Sarah begitu menggema.
"Sakuraaa!! cepat kemari! Dasar bajingan kecil, beraninya kamu membuatku terluka!" Yama berdiri dan mengejar Ichiro yang tentu saja berlari ke arah Sarah.
Sarah memeluk Ichi dan melayangkan gelitikan untuk anaknya itu. Yama keluar dari kamar mandi dengan nafas terengah-engah.
"Bajingan kecil! kemari kau!" teriak Yama dari jarak sekitar 5 meter.
Sarah melotot melihat keadaan Yama yang tanpa busana itu. Yama melihat ekspresi Sarah, dia menunduk memeriksa badannya. Sarah berdiri dan mencubit perut Yama yang keras.
"Dasar nggak tahu malu! Ngejar anak sendiri sampe lupa nggak pake apa-apa! Di rumah ini juga ada para pelayan!" Sarah memberondong Yama dengan omelan, pukulan dan cubitan, memaksanya untuk masuk lagi ke dalam kamar mandi.
"Aku tidak akan menyia-nyiakan waktu ini." Yama melanjutkan aksinya, membuat Sarah memejamkan mata tak dapat menolak. Samurainya telah masuk kedalam lubang favoritnya, membuat Sarah memejamkan mata dan mengigit bibir bawahnya.
Hana yang mengerti kegiatan pasangan muda itu pun segera menghela Ichiro untuk menuju ruangan lainnya.
"Obaachan, Mama lagi apa?"
__ADS_1
"Mamamu lagi mandi, udah yuk main sama Obaachan aja."
1 jam kemudian Yama keluar dari kamar mandi dengan senyum mengembang secerah mentari, lain halnya Sarah yang terlihat kelelahan. Mereka berjalan berdua menuju ruang makan.
"Mama lama sekali mandinya?" tanya Ichi.
"Mama tadi minta tolong Papa buat gosokin punggung Mama." Sarah mencari alasan.
"Lain kali biar Ichi aja yang gosok punggung Mama." Bocah itu mengerucutkan bibirnya.
Yama mengambil sumpit dan menyumpit bibir Ichiro, perang dimulai.
"Jangan banyak bicara. Habiskan makanmu," ucap Yama tegas.
Ichi menarik sumpit itu hingga bibirnya bebas dari jepitan sumpit. Ia menatap Ayahnya tajam dengan otak yang terus berpikir cara balas dendam setelah makan. Ichi menemukan sebuah ide, wajahnya menyeringai menakutkan.
Ayah anak sama aja! kalo pikirannya udah gila, senyumnya jadi ngeri! Batin Sarah.
__ADS_1
Acara makan berlangsung dengan tenang, hingga semua makanan telah tandas dan semua orang pindah menuju ruang keluarga. Seperti biasanya, mereka pun pindah untuk duduk di ruang keluarga. Berbincang hangat sambil melihat acara kesukaan Hana.
Ichi tiba-tiba berlari naik ke atas, dia beralasan ingin mengambil mainan dari kamarnya. Ternyata, dia sedang mempersiapkan jebakan untuk sang Ayah tercinta.