
Bayangan itu kemudian berhenti bergerak.
Gila nih Yakuza, beneran tidur di depan kamar aku. Apa besok ku beli gembok aja ya, supaya nggak di bobol kamar aku. ucapku dalam hati.
"Dulu kakek Yamamoto memintaku untuk menjadi penerusnya, yaitu seorang pemimpin Yakuza." dia bercerita tiba-tiba.
"Tapi, aku menolaknya dan hukuman yang lebih kejam diberikan padaku. Hingga aku dewasa dan kakek telah meninggal, aku memutuskan untuk berhenti menjadi Yakuza. Aku menutup semua usaha ilegalku dan mengembangkan usaha legal lainnya yang berpotensi. Tapi, kenyataannya tak semudah yang kubayangkan. Banyak musuh yang ingin membunuhku, berharap untuk menjadi yang nomor satu." Yama menjeda.
"Maaf, hidup denganku bagaikan seorang buronan. Aku harus menjaga diriku dari para musuhku, jika aku lengah akan menjadi mangsa empuk bagi mereka."
"Bukankah musuhmu telah kau kalahkan?" tanyaku dari dalam kamar.
"Belum, selain paman Akuma masih ada kelompok lainnya yang ingin menjatuhkanku." Yama mengambil nafas panjang.
"Nenek tak dapat dihubungi dikarenakan sedang menyembunyikan keberadaanmu dari mereka, para penjahat yang meminta pengakuan nenek atas kekuasaan mereka."
"Nenek?" tanyaku.
"Ya, sebetulnya bukan aku ketua kelompok Tsuki, ketuanya adalah nenek Megumi Ito." ucap Yama memberitahuku kebenaran yang membuatku kaget.
"Benarkah? lalu mengapa aku harus sembunyi?" tanyaku.
__ADS_1
"Karena kau adalah calon istriku, penerus kelompok Tsuki. Mereka akan berusaha untuk menculikmu demi sebuah barang." Ucapnya.
"Barang apa? aku nggak ada barang-barang berharga." ucapku.
"Bukankah nenek memberikan stempel giok padamu?" tanya Yama.
"Oh ya, patung giok kecil itu sangat indah." jawabku.
"Dimana patung itu berada?"
" Patung itu kusimpan didalam lemari, dirumah mama." ucapku.
"Maafkan aku." ucapku.
" Tak perlu minta maaf padaku, sebenarnya yang salah adalah Haruka. Dia paling tau sifatku, tapi malahan tidak membawamu medekat padaku."
Apa?! Haruka, Haruka, lagi-lagi Haruka?!
Aku tersulut api cemburu. Kubuka pintu kamarku.
"Kenapa selalu Haruka?! Kenapa hanya dia yang tahu segalanya tentangmu?! Apakah dia lebih baik dariku?!" ucapku dengan meledak-ledak di hadapannya.
__ADS_1
Yama terlihat sedikit bingung, kemudian dia terkekeh. Yama menarikku untuk duduk disebelahnya.
"Dengarkan aku baik-baik, dia hanya seorang pelayan, seorang asisten. Dia tak lebih baik darimu dalam segala hal, aku berjanji untuk tidak berbicara tentangnya lagi. Jika kamu cemburu itu bagus." ucapnya dengan membelai kepalaku.
Aku memajukan bibirku marah, tapi Yama justru menciumku. Ciuman yang semakin lama semakin menuntut, membuatku tak dapat berpikir jernih. Hingga saat aku kehabisan nafas karna tak dapat mengikuti permainannya, aku mendorongnya kuat.
"Stop! lebih baik kita tidur. Selamat malam Yama, Aishiteiru." Ucapku kemudian berdiri dan menutup pintu kamarku.
"Aku juga mencintaimu Sakura, kuharap kau dapat bertahan disisiku selamanya." Ucapnya lagi.
"Iya, iya, udah malam nih, kamu balik kamar gih tidur." Ucapku.
"Tidak, aku benar-benar ingin tidur denganmu."
"Tapi hari ini cuacanya dingin banget, nanti kamu bisa sakit Yama." aku masih membujuknya.
"Aku tidak akan beranjak dari sini, hingga kamu memutuskan untuk tidur denganku."
"Ya udah, terserah kamu aja." Aku tak ingin ambil pusing.
Udara malam itu cukup dingin, aku menarik selimut hingga menutupi telingaku. Perlahan aku mulai terlelap, tidur terbawa mimpi.
__ADS_1