The Ugly Duckling

The Ugly Duckling
87


__ADS_3

"Sarah ... "


Sarah hanya menoleh ke arah Hana yang saat ini sedang menghampirinya. Mata Sarah sudah berair, dirinya ingin menumpahkan air matanya itu. Bukan untuk menangisi kelakuan Yama, tetapi menangisi bocah kecil itu.


"Mama, kita harus tolong anak itu."


"Anak siapa?"


"Ayumi bukan orang baik ma, tadi aku lihat dia culik anak. Aku ... aku nggak mau dia di jual." Tangis Sarah pecah, tubuhnya merosot.


"Sayang ... kita nggak bisa langsung bergerak, lebih baik kamu bicara dengan Yama."


"Nggak akan bisa, dia sepertinya udah cinta mati sama Ayumi. Senyumnya aja selebar itu, kemarin dia juga belain Ayumi." Sarah mengerucutkan bibirnya.


"Rubah akan tersenyum lebar saat menemukan mangsanya, Iblispun akan tersenyum lebar saat berhadapan dengan incarannya."


"Maksud Mama? Yama udah tau kalo si Ayumi itu penjahat?"

__ADS_1


"Kamu lupa siapa suamimu? dengar penjelasannya dulu, jangan asal tuduh. Kemarin anak buah Mama melihat anak buah Yama berkeliaran di daerah sana."


"Tapi, kenapa dia nggak jujur sama aku? Ichi juga nggak mau cerita sama aku."


"Itu karena mereka berdua sangat mencintaimu, mereka nggak mau lihat kamu sedih Sayang." Hana membelai kepala menantunya itu.


"Tadi Mama bilang anak buah Mama? jadi Mama punya anak buah di Jepang?" Sarah merubah posisi duduknya saat otaknya telah mencerna kata-kata Mama sambungnya itu.


Hana mengangguk mantap, "Ya, jangan remehin Mama. Mama ini anak Yakuza, kalo kamu lupa."


Suasana di dalam rumah masih ramai seperti biasa, Ichiro selalu bertengkar dengan Yama. Ayah dan anak itu meramaikan suasana di dalam rumah. "Bocah! jangan menempel terlalu lama pada istriku!" Yama menghardik Ichiro.


"Biarin! dia Mama Ichi! Wek!" Sarah masih dengan posisinya, mencuci sayuran yang akan dimasaknya untuk makan malam.


"Minggir, ini giliranku!" Yama menggeser Ichiro, mereka berdua saling dorong. Sarah menggelengkan kepalanya melihat kedua orang itu. Anak yang memang masih bocah dan satu lagi bayi tua alias Suaminya.


Tentu saja kemenangan diraih Yama, dia menarik baju bagian belakang Ichiro dan membawanya ke pangkuan Hana. Ichiro berteriak dan meronta, tetapi wajah Yama tetap datar. Yama bergegas berlari ke dapur dan menutup pintu dapur.

__ADS_1


"Akhirnya aku dapat memelukmu." Yama menghirup aroma tubuh istrinya itu. Sarah tersenyum saat merasakan nafas panas di lehernya. Sedetik kemudian dia teringat kejadian tadi siang, membuatnya ingin membahas masalah itu.


"Kalo ada apa-apa di omongin, jangan di simpan sendiri." Sarah berbicara dengan nada ketus.


"Apa maksudmu?" Yama masih menciumi leher Sarah, membuatnya sedikit geli tetapi masih menikmatinya.


"Awas aja kalo kamu sampe bermain di belakangku!"


TAK! Sarah memotong timun yang panjang itu menjadi dua dan melirik ke arah Yama. Yama menelan salivanya kasar, meskipun dia seorang Yakuza tetapi membuat istrinya marah adalah kesalahan terbesar.


"Semua tidak seperti yang kamu lihat atau dengar." Yama memegang tangan Sarah dan melepaskan pisau itu, kemudian memutar tubunya hingga berhadapan.


Mulut mereka sudah saling menyesap hingga Sarah melepas perpagutan itu untuk menarik nafas panjang. "Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Tidak akan pernah ada wanita lain di hatiku selain kamu." Yama kembali menikmati bibir Sarah yang semakin merah itu.


BRAK!


"Lepasin!" teriaknya

__ADS_1


__ADS_2