The Ugly Duckling

The Ugly Duckling
48


__ADS_3

Pagi ini Yama terlihat lebih bahagia, dia memelukku gemas. "Lepasin, aku bau nih belum mandi," ucapku.


"Aku suka aromamu," ucap Yama.


"Yama! jangan mulai deh, aku mau mandi," aku melepaskan pelukkannya, tapi terlalu erat. Aku membuka mulutku lebar-lebar dan menggigit tangannya dengan kuat.


"Aaa!" teriak Yama kesakitan.


"Rasain tuh, udah dibilangin baik-baik nggak bisa," ucapku seraya menuju kamar mandi. Seperti biasa, Yama menungguku di sofa kebesarannya itu.


"Jangan lupa, besok hari pertamaku kuliah. Aku mau kamu yang mengantarku," ucapku dari dalam kamar mandi.


"Benarkah? bagaimana jika aku meminta dosen privat, jadi kamu di rumah saja," ucap Yama.


Aku membuka pintu kamar mandi sedikit dan melongokkan kepalku seperti biasa. "Jangan konyol! aku nggak mau dipenjara selamanya di rumah ini!" teriakku padanya.


Yama bukannya marah, ia semakin terkekeh geli melihatku berteriak dari balik kamar mandi. Aku mengomel sepanjang waktu mandiku. Yama dengan setia mendengarkan omelanku itu.


Aku sudah membawa pakaian, sedangkan handukku sudah bertengger disebelah handuknya. Hari ini aku memutuskan untuk memakai pakaian yang lebih sopan. Midi dress dengan tali sandatan kecil, tak lupa aku melengkapinya dengan bolero berkain kaca.


"Aku siap!" ucapku dengan melompat keluar dari kamar mandi.


"Baiklah, tunggu aku sebentar," ucapnya.

__ADS_1


Yama memasuki kamar mandi, aroma wewangian maskulin dapat kucium. Aku suka dengan aroma ini, sangat segar. Kemudian dia keluar dengan celana boxernya saja.


"Aa! Yama! cepat pakai bajumu!" teriakku dengan menutup kedua mataku.


"Kenapa? Aku memang terbiasa seperti ini setiap hari," ucapnya.


"Kamu ... kamu nggak malu apa?!" ucapku.


"Aku tidak malu, apalagi pada calon istriku ini." Yama berbisik di telingaku, membuat buluku merinding.


"Yama! Aku keluar!" ucapku dengan melangkah keluar.


Kenapa jadi aku yang malu? Aku merutuki diriku sendiri.


"Kali ini kamu nggak bisa buat aku jatuh," ucapnya dengan tawa mengejek.


"Aku yang dulu emang segede babon," ucapku dengan tawa.


Kami berjalan berdua menuju ruang makan, masih tidak ada orang. Aku berusaha bersikap biasa saja, tidak memberinya harapan. Tapi, aku juga tidak ingin suasana menjadi canggung.


"Kemarin kamu kemana aja?" tanyaku membuka obrolan.


"Jalan-jalan," ucapnya.

__ADS_1


"Pulangnya jam berapa?" tanyaku lagi.


"Baru aja, Kenapa? Khawatir?" godanya.


"Ya jelas khawatir, kamu kan bakalan jadi adik ipar aku. Nggak pulang semalaman, nggak tahu tidur dimana, apalagi matamu jadi kayak panda," omelku.


"Coba aku yang menjadi pasanganmu, pasti aku akan sangat bahagia dengan hidup yang baik," Ken menghembuskan nafas berat.


"Sayangnya itu tidak mungkin terjadi," Yama menginterupsi. Belum sempat Ken menjawab, Mama sudah datang terlebih dahulu.


"Bagus, semua sudah berkumpul," ucapnya dengan mengambil posisi duduk.


"Hari ini Mama ingin bertanya pada kalian berdua." Mama menunjukku dan Yama, " Apa tema pernikahan kalian dan akan diadakan dimana?" tanyanya lagi.


"Terserah," jawab kami bersamaan. Aku dan Yama saling pandang kemudian terkekeh bersama.


"Terserah Mama aja, adatku nggak sama dengan Yama. Aku nggak tahu tata cara pernikahan disini," sesalku.


"Setelah sarapan minta Sinta memajukan jadwal belajarmu, kemudian ikut Mama. Ok?" titah Mama.


"Ok." Aku menyatukan ibu jari dan jari telunjukku membentuk lingkaran.


Kami segera sarapan dan melakukan kesibukan masing-masing. Yama ke kantor, Ken tidur, Aku belajar, Mama sibuk dengan ponselnya.

__ADS_1


__ADS_2