
Nenek membuka matanya perlahan, tak ada mimik wajah trauma. Dia kemudian tersenyum kearahku. Saat aku memberinya minum, para dokter telah datang dan memeriksa keadaan nenek. Mereka membuatku mundur beberapa langkah.
Beberapa saat kemudian, pemeriksaan telah selesai. Para dokter terlihat berbicara serius dengan Yama. Aku tak ingin mendengar percakapan dengan bahasa yang belum kukuasai betul.
"Nek, nenek baik-baik aja kan?" Aku bertanya pada nenek dengan wajah khawatir.
"Nenek baik-baik saja," ucapnya dengan senyum.
"Nenek kenapa tersenyum terus sih? waktu ada penjahat juga cuma tersenyum. Apa nenek nggak takut?" tanyaku.
"Nenek sudah terbiasa dengan hal ini, nenek juga sudah siap mati," ucap nenek.
"Nenek ngomong apa sih, operasi nenek berhasil dan penjahat itu sudah di buat kabur sama Yama," jelasku.
"Ingatlah jika suatu saat nanti terjadi hal seperti ini, nenek tidak ingin melihatmu mengambil tindakan sendiri. Larilah dan cari bantuan, mengerti?" ucap nenek.
"Baik nek," ucapku padanya.
__ADS_1
Mungkin nenek hanya meracau karena baru saja mengalami kejadian mengerikan itu. Aku meminta nenek untuk tidur, karena sudah tengah malam. Aku melihat beberapa pelayan masuk dengan membawa beberapa kotak makanan.
"Apa ini?" tanyaku pada Yama.
"Kazuo memesankan makanan untukku, dia berkata jika lambungku tidak dalam kondisi baik sebab terlambat makan," ucap Yama.
"Maafkan aku, aku lupa kalau kamu belu
m makan," ucapku menyesal.
"Tidak apa-apa, kemarilah kita makan bersama." Yama menarik tanganku untuk duduk dan makan bersamanya.
Yama justru menggendongku untuk naik ke atas pangkuannya, kemudian dia menyuapiku sepotong udang besar dengan saus mayonaise. Aku membelalakkan mataku kaget dengan perlakuannya itu. Dirinya seperti anak kecil yang sedang menyembunyikan mainan favoritnya.
Aku menuruti kemauannya itu, tapi udang yang besar tentu akan membuat mulutku penuh. Tentu saja saus itu akan tercecer di tepi mulutku. Yama tersenyum tipis dan kemudian dia membersihkannya menggunakan lidahnya. Aku memukulnya keras, kemudian beranjak berdiri dan pindah tempat duduk.
Dasar Yakuza gila! bisa-bisanya dia melakukan itu di hadapan Kazuo, mana si Kazuo biasa aja lagi. Gerutuku dalam hati.
__ADS_1
"Iya, iya aku tahu dia milikmu. Sudah, aku harus kembali tidur. Aku pamit dulu ya, bye Sarah," ucapnya dengan melambaikan tangan ke arahku.
Mulut penuhku tak dapat menjawab Kazuo, sehingga aku hanya membalasnya dengan lambaian tangan juga. Kulihat Yama tak merespon Kenzo, ia masih tetap dengan makanannya. Sepertinya mereka memang sangat akrab sekali.
"Kazuo itu siapa?" tanyaku ketika udang yang ada di mulutku habis.
"Dia adalah sahabatku sejak kecil, ayahnya adalah pemilik rumah sakit ini," jawabnya.
"Waow, berarti dia pintar. Aku akan bekerja di rumah sakit ini nanti jika sudah lulus." Aku mengutarakan keinginanku.
"Tidak boleh," jawab Yama santai.
"Kenapa nggak boleh? aku akan bekerja kalau sudah waktunya," ucap Sarah menautkan kedua alisnya.
"Segera setelah kita menikah nanti, aku akan membuatmu sibuk hingga tak dapat bekerja," ucap Yama dengan senyum penuh makna.
"Segera? aku nggak mau menikah muda! aku mau selesaikan kuliahku dan kemudian bekerja," ucapku.
__ADS_1
"Kamu boleh belajar apapun, tapi tidak boleh bekerja," ucap Yama serius.
"Kamu jangan aneh-aneh, kenapa aku tidak boleh bekerja?" tanyaku lagi.