
Pesawat mulai terbang rendah, tak lama kemudian mendarat dengan perlahan. Kami berjalan menuruni pesawat, Yama tidak seperti biasanya. Dia berjalan dengan merangkulku posesif.
"Yama, aku nggak bisa jalan kalau kamu seperti ini," ucapku. Yama tidak menggubrisku, dia semakin mengetatkan rangkulannya membuatku sedikit melayang.
"Yama, kenapa nggak sekalian aja kamu gendong aku," ucapku kesal. Yama menoleh ke arah ku dan kemudian dia benar-benar menggendongku ala bridal style. Semua orang bersorak dan bertepuk tangan, membuat aku malu.
Yama tiba-tiba saja berteriak, "We just merried!" Kemudian ia tertawa bahagia dengan memandang wajahku.
Banyak orang memberikan selamat kepada kami, wajahku sudah merah padam. Malunya aku, untung suamiku tampan dan keren, batinku. Kita berjalan menuju tempat parkir mobil, aku celingukan bingung mencari barang bawaan kita.
"Yama, dimana barang-barang kita?" tanyaku.
"Sudah ada di tempat kita menginap," jawab Yama dengan melajukan mobilnya.
"Emang kita mau ke mana sih, rahasia banget." Aku melipat tanganku didada.
"Kita akan menuju tempat untuk bulan madu."
"Iya sayangkuh ... aku tahu kita akan bulan madu tapi dimana? di gunung? di hotel? atau dimana?" tanyaku mencubit pipinya gemas.
"Aku akan membawamu ke tempat dimana tidak akan ada orang yang dapat mendengar teriakanmu nanti malam." Yama menurunkan sedikit kacamata hitamnya. Aku memalingkan wajahku yang memerah karena malu.
Yama memasang GPS untuk membantunya, dengan lancar kami menuju lokasi tempat tinggal sementara kami. Mobil memasuki kawasan pantai, lagi-lagi Yama menggendongku menyeberangi jembatan untuk menuju kamar kita.
Ini seperti kamar apartemen, lengkap dengan dapur dan ruang keluarga. Mini tetapi sangat nyaman, suara deburan ombak yang tenang membuatku semakin mengantuk. Kami berangkat pukul 10 pagi dan sampai disini pukul 6 sore, tetapi waktu di Maldives lebih lambat 4 jam dari waktu di Jepang.
Langit masih tampak biru, Yama menunjukkan jam tangannya yang menunjukkan angka 2 siang. Aku menguap pelan, perjalanan ini membuatku sedikit lelah. "Mari kita tidur siang," ucap Yama. Aku mengangguk dengan mengusap mataku, kami tidur siang bersama untuk melepas lelah.
Aku mengerjapkan mataku saat mendengar deru ombak yang sedikit keras, rupanya sudah sore. Yama tidak ada di sana, akupun segera mencarinya. Tidak lucu jika terjadi sesuatu yang mengerikan di negeri orang.
Ternyata Yama baru saja selesai mandi dan hanya melilitkan handuk kecil pada tubuh bagian bawahnya. Handuk itu tidak menutup penuh, terlihat bagian pahan yang terbuka.
"Yama! cepat pakai bajumu!" teriakku dengan memalingkan wajahku.
Aku merasakan hembusan nafas pada tengkukku, nafas hangatnya berpadu dengan harum aroma mint bercampur cengkeh.
"Lihat aku," ucapnya berbisik di telingaku.
__ADS_1
"Nggak mau! kamu cepat pakai baju!" aku menghardiknya.
"Aku akan memuaskanmu malam ini," ucapnya diselingi hembusan nafas.
"Yamaaaaa ...." teriakku dengan berlari keluar dari kamar.
Aku berlari menyebrangi jembatan, kemudian aku duduk di tepi pantai sendirian. Hamparan pasir terlihat sangat bersih dan indah. Aku membuat pola-pola aneh di atas pasir dengan jariku, memikirkan apakah tindakanku ini benar. Yama datang dan ikut duduk disebelahku, dia menatap langit sore itu.
"Aku berjanji tidak akan menyakitimu," ucap Yama menghembuskan nafasnya kasar.
"Aku takut." Aku mulai terisak.
"Aku tidak akan memaksa, meskipun aku seorang Yakuza." Yama berusaha membuat lelucon yang bagiku sangat garing.
"Aku mempunyai masa lalu yang buruk, kehidupanku penuh dengan paksaan. Apa yang akan kau lakukan saat usiamu baru 15tahun dan kamu dipaksa untuk melakukan itu?" ucap Yama dengan mata menerawang.
"Hah? maksudnya kamu diso***i?" tanyaku kaget.
Yama tertawa renyah, "Tidak, mereka memaksaku untuk melakukannya dengan seorang gadis. Salah satu syarat untuk menjadi Yakuza." pandangannya seketika berubah menakutkan.
"Cerita itu sangat membekas, aku melihatnya menangis. Aku pun menangis saat melakukannya. Dahulu, hatiku tak sedingin ini."
"Maafkan aku," aku menghambur di pelukannya.
"Aku mau melakukan kewajibanku, aku hanya ... malu." Aku menyembunyikan wajahku malu.
"Untuk apa malu? Bagiku, kamu sangat sempurna. Satu-satunya di dunia ini." Yama mengangkat wajahku.
Kami bertukar saliva menyalurkan rasa saling mencintai, tak lama kemudian Yama mengajakku untuk makan malam. Kami tidak pergi jauh, ada beberapa rumah makan di tempat kami menginap. Aku melihat semua menu makanannya seafood, kupilih sesuatu yang hangat untukku.
Acara makan tidak membutuhkan waktu lama, sebab kami sudah sangat lapar. Aku mengulur waktu dengan memintanya untuk mengajakku berkeliling. Aku berharap dia akan kelelahan dan cepat tertidur, tapi apa dayaku jika mengingat stamina seorang Yakuza.
Aku mengambil nafas dalam dan berkata kepada diriku sendiri, Aku siap!
Yama sudah berada di atas ranjang, sedangkan aku masih berlama-lama di dalam kamar mandi. Mondar-mandir tak jelas membuatku semakin panik, terdengar suara pintu kamar mandi yang diketuk.
"Sayang ... Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Yama.
__ADS_1
Jangan lupa komennya readers ku tersayangš
Salah satu karya yang menarik, silahkan dibaca ya teman-temanšš
Judul : Tuan Mafia
Napen : Selvi_19
Alex hanya seorang anak jalanan, untuk memenuhi hidupnya Alex terpaksa
mencuri hingga suatu hari Alex bertemu dengan mafia dan di besarkan di
lingkungan mafia, hingga di umurnya yang ke 30 tahun Alex di angkat untuk mengantikan ayah angkatnya sebagai ketua mafia.
Suatu hari Alex mengetahui siapa kedua orang tuanya dan penyebab
kematiannya, ternyata Alex adalah keturuna dari Dādevil, Dādevil adalah
anggota mafia yang sudah berdiri puluhan tahun. Sehingga Alex berniat
membalas dendam atas kematian kedua orang tuanya dengan menikahi putri
dari pembunuh tersebut.
Laura gadis yang kurang beruntung karena hidup sebagai anak angkat dari
keluarga Gunawan dan lebih menyedihkan lagi ia harus mau menikah dengan
Alex sebagai balas budi karena telah menyelamatkan gunawan
Apakah Alex akan berhasil membalas kematian kedua orang tuanya?
Apakah akan ada cinta di antara Alex dan Laura?
Bagaimana reaksi Alex jika tau Laura bukan putri dari Gunawan?
__ADS_1