
Setelah pemberian restu selesai, nenek membuat permintaan terakhirnya.
"Sebelum sesuatu hal yang buruk terjadi, nenek akan memberikan rumah utama kepada Sakura_chan, apa kamu ingat batu giok pemberian nenek?" tanya nenek padaku.
"Iya nek, Sakura menyimpannya dengan baik." Aku berusaha menetralkan suaraku.
"Ingat baik-baik, jagalah benda itu dengan segenap kekuatanmu," pinta nenek.
"Tapi nek, Sakura nggak bisa. Memangnya batu itu untuk apa?" tanyaku penasaran.
"Itu adalah stempel giok, segala bentuk perjanjian tidak akan berguna tanpa stempel itu," ucap nenek. Aku manggut-manggut tanda mengerti.
"Kemudian Yama, kalung yang kamu pakai itu menjadikanmu ketua dari klan Tsuki. Nenek berharap, kamu dapat memimpin dengan baik. Jangan lupa, keluarga tetaplah nomor satu," wejangan terakhir nenek.
"Baik nek, aku berjanji," janji Yama.
__ADS_1
Kami bertiga berpelukan, kemudian nenek meminta kami untuk pulang dan beristirahat. Dia hanya meminta Haruka untuk menjaganya. Aku dan Yama setuju, melihat Haruka adalah wanita kuat.
Kami berdua kembali kerumah, tuan Akira menyambut kami dan bertanya dengan penasaran, "Selamat datang tuan dan nona muda. kalau saya boleh bertanya, siapa yang menjaga nyonya sekarang?"
"Nenek meminta haruka untuk bertugas di sana," jawab Yama.
"Apa?!" tuan Akira terkejut.
"Ada apa?" tanyaku.
Aku melihat Yama mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Dia segera menghubungi Kazuo dan memintanya untuk menutup akses menuju kamar nenek, serta menempatkan beberapa penjaga di sana. Kami bergegas kembali ke sana, berharap nenek baik-baik saja.
Perjalanan siang itu terasa sangat menegangkan. Aku tak dapat memikirkan apa yang akan terjadi pada nenek. Aku harap nenek dapat bertahan.
Mobil memasuki area parkir rumah sakit, dengan segera kami berlari menuju kamar nenek. Melewati beberapa lorong dan lift, hingga akhirnya sampai di kamar nenek. Jantungku semakin terpacu cepat, bersamaan dengan Yama yang sedang membuka pitu itu.
__ADS_1
Ceklek,
Betapa terkejutnya aku melihat pemandangan yang ada. Nenek telah bersimbah darah. Sebuah kunai menancap tepat di jantungnya. Aku menjerit keras.
Orang tua keduaku setelah bapak dan ibu telah meninggal dengan tragis. Orang yang mau menerimaku apa adanya, kenapa harus dipanggil secepat ini. Aku berlari menghampiri nenek. Aku memeluknya, tak peduli dengan cairan lengket itu.
"Nek, kumohon jangan tinggalkan Sarah. Sarah nggak punya siapa-siapa lagi. Cuma nenek yang bisa ngerti Sarah." Tangisku pecah saat tak melihat respon darinya.
"Kazuoo! cepat kemari dan selamatkan nenekku!" perintahku padanya yang baru saja datang dan bergabung. Kazuo hanya diam mematung memasang wajah menyesalnya.
"Kumohon, siapapun selamatkan nenekku. Yama, kumohon selamatkan nenek," panggilku putus asa padanya.
Tiba-tiba saja tuan Akira masuk dengan membawa pedang. Dia berlutut di hadapan nenek dan kemudian membawa pedang itu tepat menembus di dadanya. Pesan terakhirnya dia sampaikan dengan terbata-bata, "Maafkan saya ... tuan muda ... hutang nyawa ... di balas nyawa."
Aku semakin menangis melihat kejadian hari ini, bagaimana bisa seseorang bunuh diri semudah itu. Kakiku terasa lemas dan pandanganku semakin kabur. Perutku bergolak melihat banyak darah, kepalaku serasa berputar. Aku mengulurkan tanganku ingin menggapai Yama, tapi ia terlalu jauh. Pandanganku gelap, aku percaya Yama pasti menangkapku.
__ADS_1