The Ugly Duckling

The Ugly Duckling
35


__ADS_3

"Karena, aku akan membuatmu sibuk merawat anak-anak kita nanti." Yama tersenyum lebar.


Aku memukulnya kuat-kuat, tapi itu tak berarti apa-apa baginya.


"Siapa yang mau punya anak cepat-cepat!" teriakku.


"Ssstt ... pelankan suaramu, nenek sedang tidur," pinta Yama.


"Dasar Yakuza gila!" aku memakinya lagi.


"Kamulah yang membuatku jadi gila," ucap Yama dengan membelai pipiku.


"Nggak usah rayu-rayu aku!" ucapku dengan memalingkan wajah.


"Sudah tengah malam, tidurlah," ucap Yama, dia mengelus punggungku. Terasa nyaman sekali, aku memang lelah.


Aku tidak menjawab, ku luruskan kakiku dan pahanya menjadi bantal bagiku. Terasa nyaman, Yama terus membelai ku hingga aku terlelap. Malam itu kami tidur berdua, Yama dengan posisi duduk sedangkan aku berbaring.


Sekedar informasi, kamar rumah sakit nenek cukup besar. Dengan televisi dan sofa yang terpisah dari ranjang tempat nenek berbaring. Cukup luas, tetapi tidak ada kasur tambahan untuk kami.

__ADS_1


Pagi hari ini aku bangun kesiangan, kulihat Yama sedang menyuapi nenek. Ternyata, dia bisa sangat lembut. Nenek terlihat lebih segar dari kemarin, aku sedikit lega melihatnya hari ini.


"Kenapa kamu nggak bangunin aku?" tanyaku pada Yama, membuatnya menoleh ke arahku.


"Aku tidak ingin mengganggu puteri tidur yang sedang bermimpi ini." Yama menggodaku, sedangkan nenek terkekeh pelan.


" Yama?! Jangan menggodaku terus, aku mau mandi tapi nggak ada baju," ucapku.


"Bajumu berada di dalam tas yang berwarna merah muda," ucap Yama sambil mengedikkan kepalanya.


"Loh, kamu udah mandi?" tanyaku padanya.


Tentu aja kamu selalu tampil sempurna, tampan, dan wangi. Aku tertawa sendiri mendengar suara hatiku.


"Kenapa kamu tertawa sendiri? Apakah aku lucu?" tanyanya kemudian.


"Oh, nggak ... nggak kok, kamu ... tampan," ucapku sambil berlari masuk ke dalam kamar mandi.


Malunya aku, ucapku dalam hati, aku menutup wajahku dengan kedua tanganku.

__ADS_1


Entah apa yang akan mereka bicarakan tentangku, aku berharap Yama tidak menjadi besar kepala dengan kata-kataku tadi. Aku menyelesaikan mandiku, kemudian memakai pakaian yang telah disediakan oleh Yama. Baju ini sangat pas untukku, bagaimana bisa dia tahu ukuranku.


"Yama, darimana kamu tau ukuran bajuku?" tanyaku setelah keluar dari kamar mandi.


"Nenek yang memberitahuku," jawabnya.


"Sakura_chan cantik sekali, kemarilah nenek ingin melihatmu," panggil nenek. Aku melangkah mendekatinya, sedangkan Yama tak beranjak dari tempatnya.


Nenek mengambil tanganku, kemudian dia meraih tangan Yama juga dan meletakkannya di atas tanganku. Aku tak mengerti apa maksudnya, kami hanya mengikuti kemauan nenek. Kemudian ia mulai berbicara.


"Yama, nenek takut tidak dapat melihat kalian menikah. Nenek akan memberikan restu sekarang," ucap nenek.


"Jangan gitu nek, nenek harus ada saat Sakura menikah." Air mataku sudah bersiap untuk meluncur turun.


"Silahkan Obaachan." Yama menundukkan kepalanya.


Aku menoleh ke arah Yama, bagaimana bisa dia menerima begitu saja. Nenek tersenyum dan mengangguk kecil ke arahku. Aku menundukkan kepala dengan air mata yang meluncur bebas. Nenek memberikan restunya, beliau memberikan wejangan-wejangan dalam bahasa Jepang.


"Kelak, kalian harus saling mempercayai hingga tua nanti. Bersama-sama menjadi lebih kuat, seperti nenek dan kakek. Kami tidak akan mengeluh dengan penderitaan, karena kami percaya jika suatu saat akan datang kebahagiaan" Nenek menepuk-nepuk kepalaku perlahan.

__ADS_1


__ADS_2