The Ugly Duckling

The Ugly Duckling
38


__ADS_3

"Aku tutupin pake bedak aja ya kali ya," ucapku.


"Nggak usah, Yama justru ingin menunjukkan pada semua orang jika kamu adalah miliknya," ucap mama.


"Tapi aku malu Ma, nanti mereka pikir aku ini masih kecil udah gitu-gitu an." Aku memonyongkan bibirku.


"Gitu-gitu an apa?" tanya Mama.


"Ah Mama, ya gitu-gitu an," ucapku dengan menautkan jari telunjuk dan jari tengahku. "Aku kan belum Ma, aku nggak mau. Masih muda aku, masih ingin kuliah dan kerja dulu."


Mama tertawa mendengar ucapanku, "Sakura_chan, biar saja mereka mau pikir apa. Kamu adalah wanita dewasa dan memang Kamu adalah milik Yama."


"Iya. Tapi ma, Kita belum nikah," rengekku.


"Cepat atau lambat, kalian pasti akan menikah. Ayo cepat, orang-orang sudah menunggu," ajak Mama.

__ADS_1


Aku berjalan mengikuti Mama menuju gazebo yang ada di samping rumah, tempat orang-orang berkabung atas meninggalnya nenek Megumi. Semua mata memandangku, aku mengusap leherku berusaha menutupi tanda merah yang di buat oleh Yama tadi. Tapi, itu seperti mustahil. Ken yang menyadari tanda itu menatapku, tatapannya masih sama sendu dan kecewa.


Aku tersenyum kecut kepadanya, Yama yang menyadari hal itu segera menarikku hingga aku masuk kedalam dekapannya. Dia berusaha menunjukkan siapa pemilikku yang sebenarnya. Aku mengusap perlahan dadanya supaya ia tenang.


Semua tamu telah pulang, menyisakan kami dan para pelayan. Aku merasa sangat lelah duduk bersimpuh, sehingga ketika aku berdiri tubuhku menjadi oleng. Posisi dudukku berada di antara Yama dan Kenjiro. Ken menangkapku ke dalam pelukannya, seketika mata Yama seperti berkilat.


“Terimakasih Ken,” ucapku singkat, kemudian aku berpindah pada Yama.


Ken tidak menahanku, sedangkan Yama terus merasa was-was. Aku masuk kedalam dekapannya tanpa paksaan. Senyum tipis terurai di bibirnya.


Tiba-tiba saja Yama menggendongku, aku memekik sedikit karena kaget. Tapi, aku tahu jika itu sengaja dilakukannya. Aku tersenyum lembut pada Yama yang saat itu sedang mencoba menjauhkanku dari Kenjiro.


Kami tiba di meja makan, posisi dudukku kini berhadapan dengannya. Aku sangat kasihan melihat Kenjiro. Tubuhnya terlihat semakin kurus dengan mata cekung, walaupun masih terlihat tampan.


Acara makan kali ini tampak sedikit canggung, kami tidak saling bicara. Akhirnya setelah makan selesai, aku membuka obrolan. "Mama tinggal disini?" tanyaku.

__ADS_1


"Mama nggak bisa di sini terlalu lama, masih ada pekerjaan yang harus Mama urus," jawab Mama.


"Nanti sakura sama siapa? biasanya ada nenek, sekarang jadi sepi." Aku mengerucutkan bibirku.


"Tenang saja, nanti rumah ini akan penuh dan ramai oleh anak-anak kita." Yama menjawabku.


Aku memukulnya keras-keras, " Aku sudah bilang, aku nggak mau nikah muda. Apalagi punya anak di usia muda." Aku melipat kedua tanganku di dada.


"Mama menikah dan punya anak di usia muda. Tapi kami menikmati hari-hari kami," ucap mama merayuku.


"Ingat pesan nenek," ucap Yama dengan terkekeh pelan.


Aku mengerucutkan mulutku masih marah. Tiba-tiba Kenjiro membuka suaranya. " Aku akan sangat senang mendapat seorang keponakan."


Aku sedikit terkejut, tapi juga merasa lega. Dirinya tidak menyimpan rasa padaku lagi. Aku tak ingin membuatnya tersiksa.

__ADS_1


"Enak aja kalau ngomong, aku kuliah dan kerja aja belum," ucapku dengan menjulurkan lidah padanya.


__ADS_2