The Ugly Duckling

The Ugly Duckling
46


__ADS_3

"Maafkan aku," ucap Yama yang tiba-tiba memelukku dari belakang.


"Aku ... aku nggak tahu ini benar atau enggak. Aku bingung, semua terlalu cepat buatku," tangisku pecah.


Yama merubah posisinya, ia berlutut dihadapanku dan memandang wajahku yang pastinya jelek saat menangis, "Katakanlah apa yang menjadi bebanmu," ucap Yama.


"Aku masih nggak siap nikah. Kamu juga udah punya banyak wanita, aku nggak mau dimadu," tangisku semakin keras.


"Dahulu aku memang mempunyai banyak wanita, bahkan mereka akan dengan suka rela menyerahkan tubuhnya. Tapi, aku tak pernah bermain wanita semenjak mengenalmu. Hanya kamu satu-satunya wanitaku," ucap Yama.


"Tapi ... tapi ... aku harus gimana? aku benar-benar belum siap," ucapku memohon padanya.


"Maafkan aku, tetapi aku harus segera menikahimu. Aku tak ingin orang lain merebutmu dariku," ucap Yama.


Aku tak dapat berkata apa-apa lagi. Memang benar kata Mama, watak Yama sangatlah keras. Aku mencoba menerima takdirku ini, mungkin memang inilah jalan hidupku.


Yama mengajakku kembali kedalam mobil, kulihat dari kejauhan Keiko sedang berdiri di dekat pohon. Dasar asisten nggak setia! beraninya dia laporin aku ke Yama. Batinku dalam hati.

__ADS_1


Mobil melaju menuju pemakaman, Yama mengajakku masuk dan menunjukkan padaku cara menggunakan IC itu. Sangat canggih, aku terpukau dengan kecanggihan fasilitas di Jepang ini. Kami memanjatkan doa untuk nenek dan memberitahunya kapan kita akan menikah.


Kami kembali menuju rumah, di tengah jalan Yama memberiku beberapa kartu. "Ini adalah IC nenek, yang ini adalah kartu kredit untukmu, yang ini kartu apartemen baru kita, dan satu lagi kartu rumah nenek," terang Yama.


"Banyak sekali kartunya, jadi semua nggak pake kunci? pakenya kartu?" tanyaku yang dijawab anggukan kepala oleh Yama.


"Satu lagi, apartmen baru kita? memangnya kenapa dengan apartmen lama kita?" tanyaku.


"Sudah tercemar dan sangat kotor," jawab Yama santai.


"Tapi kamu beli itu pakai uang," ucapku dengan ngotot.


"Nggak! nggak! udah cukup olahraga bibirnya, makin dower aja nih bibir aku," gerutuku.


"Tidak, justru terlihat lebih seksi," ucap Yama.


Aku memukulinya lagi, jawabannya membuatku sangat gemas. Kami tiba di rumah, Keiko membukakan pintu mobil untukku. "Terimakasih," ucapku.

__ADS_1


Kenjiro bergegas memelukku, dia selalu mengkonfrontasi Yama. Ken mengajakku menuju meja makan. Dia menunjukkan masakannya padaku.


"Makanlah, kamu pasti capek seharian keliling," ucapnya dengan memijit pundakku.


Aku mengkap kilatan mata cemburu dari Yama, dengan segera aku menepis tangan Kenjiro. "Aku baik-baik saja. Terimakasih makanannya," ucapku.


Yama tersenyum puas melihat tindakanku itu, lain halnya Ken yang menjadi frustasi. Kami berempat makan dalam diam, tenggelam dengan pikiran masing-masing. Setelah selesai makan, Ken mengajakku menuju taman belakang.


Aku menoleh kepada Yama, dia menganggukkan kepalanya. Rupanya dia sudah mulai mempercayaiku. Aku harus siap menjawab pertanyaan Kenjiro dengan bijak.


"Kamu habis nangis?" tanya Ken mengawali pembicaraan.


"Iya, tadi aku ... " kata-kataku terpotong.


"Tinggalin dia kalau bikin kamu nangis! Aku udah pernah bilang, aku paling nggak suka lihat kamu nangis," ucapnya.


"Ken, aku cuma keinget Bapak dan Ibuku. Itu aja, Aku dan Yama baik-baik aja kok," ucapku membela Yama.

__ADS_1


"Apa dia selalu memaksakan kehendaknya?" Pertanyaan Kenjiro.


__ADS_2