The Ugly Duckling

The Ugly Duckling
74


__ADS_3

"Sakura_chan! Sayang, bagaimana perasaanmu?" tanya Yama.


Sarah duduk bersandar pada ranjang itu, kemudian ia memukul brutal kearah Yama.


"Kenapa kamu lama sekali! Aku nggak mau kehilangan anak ini!" teriak Sarah hingga membangunkan Hana.


"Maafkan aku, tetapi bayi kita baik-baik saja. Dia sangat kuat." Yama menenangkan Istrinya itu.


Sarah berhenti memukul dan menunduk melihat perut ratanya, dia mengusap perlahan perutnya itu. "Maafkan Mama, Mama ceroboh nggak bisa jaga kamu. Mama janji nggak akan berbuat aneh-aneh, Sayang tumbuh yang baik ya di dalam perut Mama." Sarah meneteskan ait matanya, dia bersyukur masih diberi kesempatan untuk menjaga anaknya.


Sarah memeluk Yama, dia menjelaskan kejadian yang dialaminya hari itu. Sarah juga bercerita mengenai Mia, kali ini dia tidak akan berbohong. Yama meminta Sarah untuk tidak berhubungan dengan Mia lagi.


Keesokan paginya, Keiko masuk kedalam ruangan Sarah dengan cemas.


"Nyonya ... maafkan Saya, maafkan kelalaian Saya."


"Keiko? ada apa?"


"Saya akan membayarnya nyonya."


Keiko duduk di sofa, dia mengambil belati tajam dari sakunya kemudian meletakkan tangan kirinya di atas meja. Yama melihatnya biasa saja, lain halnya Sarah yang menjadi panik. "Keiko! apa yang kamu lakukan!" Sarah berusaha melompat dari kasurnya, tetapi di tahan oleh tangan Yama.

__ADS_1


"Dia sedang menebus kesalahnnya." Yama memandang rendah Keiko.


"Tapi kenapa dengan cara ini?" Sarah menitikkan air matanya.


Keiko bersikeras memotong kelingkingnya, dia tidak tahan dengan rasa bersalahnya itu. Keiko benar-benar memotong kelingkingnya, hanya suara pekikan pelan yang keluar dari mulutnya. Setelah itu dia membalut lukanya dengan kain bersih yang telah di siapkannya.


Dia mempersembahkan potongan itu kepada Sarah, seketika tangisnya berhenti. Emosi Sarah berubah, dia menjadi sedikit arogan. Sarah menepis tangan Keiko hingga jarinya terpental.


"Sambung jarimu! aku nggak mau punya asisten pribadi yang cacat."


Keiko masih berdiri mematung di sana, sedangkan Yama merasa heran dengan perubahan mood Sarah yang sangat cepat sekali. Tadashi menepuk pundak Keiko untuk menyadarkannya sebelum Nyonya mudanya itu kembali berteriak. Keiko berjalan menuju ruang Ortopedi dan segera dilarikan ke ruang operasi sebelum jarinya membusuk.


Beruntung Keiko melakukannya di rumah sakit, sementara itu beberapa orang sedang membersihkan sisa darah tadi. Hana kembali menuju perusahaan untuk menggantikan Yama, sedangkan Yama sedang menyuapi Istrinya makan pagi. Suasana kembali tenang dan harmonis.


"Baiklah, Tadashi akan memesan makanan untukku."


Setelah beberapa saat Tadashi datang membawa makanan dan makan bersama di sana. Ponsel Sarah bergetar, tertulis panggilan dari Mia. Sarah menolak panggilan itu, kemudian suara notifikasi muncul. Sarah yang mempunyai rasa penasaran tinggi itu segera membuka ponselnya.


Pesan teks dari Mia yang berkata jika Yama adalah seorang pembohong besar. Pesan itu diikuti dengan file video. Sarah memutar video itu, dia menutup mulutnya tak percaya.


Sarah melempar ponselnya ke lantai dekat dengan kaki Yama dengan gambar yang masih bergerak itu. Mata Yama melirik melihatnya, betapa terkejutnya dia melihat pemeran utama disana adalah dirinya. Makanan yang berada di dalam mulutnya menjadi sangat sulit dia telan.

__ADS_1


Sarah berdiri dan mencabut paksa infus ditangannya, membuat darah menyiprat dan menetes langsung dari tangannya. Rasa sakit tidak dihiraukannya. Sarah terus berjalan kearah Yama, dia menampar Yama 1x kemudian berjalan keluar ruangan.


÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷


Hai readers, mampir ke novel teman pena aku yuk. Airin wanita yang tangguh nih, jadi penasaran baca kan? check it out 👇


Judul : Petaka karena Perjodohan


Napen : Penulis Ratcheh


Pernikahan yang Airin Pranata jalani tak pernah membuatnya bahagia. Sifat Julian yang dingin, angkuh, bahkan acuh tak acuh kerap kali membawa kepedihan, keretakan, dan kesakitan bagi benak Airin.


Di tengah keterpurukan yang tidak ada jalan keluarnya, Airin hanya bisa mengatakan kalimat, "aku baik-baik saja," untuk menguatkan hati wanita malang tersebut.


Hingga Airin mendengar percakapan Julian yang mengatakan, "Buat rongsokan itu jatuh cinta dalam waktu 30 hari. Jika kau berhasil, aku akan menceraikannya dan memberikannya padamu."


Bagai dihujam ribuan pisau tak kasat mata, rasa sakit langsung menyerang dada Airin.


Apakah Airin mampu membisikkan kalimat "aku baik-baik saja" pada dirinya sendiri?


Jika Julian memintanya mencintai laki-laki lain, apa Airin akan memilih mempertahankan rumah tangganya? Atau

__ADS_1


Melangkah untuk menempuh kehidupan baru?



__ADS_2