
Kami sampai di rumah saat makan malam, Mama telah duduk terlebih dahulu di meja makan menunggu kami. Kali ini giliran Mama yang berbicara panjang lebar, semua tentang pernikahan kami. Aku dan Yama hanya menganggukkan kepala tanda setuju dengan semua ide Mama.
Setelah acara makan selesai, Yama hanya meminta 1 hal kepada Mama. “Acara ini akan diadakan secara tertutup, daftar tamu undangan harus melalui Aku. Aku yang akan memutuskan siapa yang boleh dan tidak boleh datang.”
“Itu bukan 1 sayang tapi 2, kamu bikin aku gemas banget.” Aku mencubit kedua pipinya.
“Baguslah jika kalian berdua dapat saling menerima,” ucap Mama dengan raut wajah lega.
Kami berdua kembali menuju kamar.
Seperti biasa, kejadian remeh menggangguku saat malam datang. Kali ini Yama memelukku erat-erat hingga aku tak dapat bergerak. Aku tak dapat memukul, ingin mencubitnya saja tak bisa sebab posisi tanganku berada dibawah lengannya.
Mau tak mau aku mengeluarkan jurus gigitan maut dan kepala batu. Pertama-tama aku memberinya jurus kepala batu, aku memajukan kepalaku kemudian menghantamnya keras dengan kepala bagian belakangku. Yama berteriak kesakitan, aku pun sama sakitnya.
Dia melepaskanku dan mengusap dahinya. Kesempatan ini tak aku sia-siakan, aku segera menggigit area termudah. Telinga. Sepanjang malam kami bergelut sebelum kemudian tertidur.
Pagi hari ini sudah memasuki H-2 menjelang pernikahan kami, aku menjadi semakin cemas. Yama dan Mama terlihat semakin sibuk. Aku pun mengembangkan kemampuanku dengan Sinta, aku tidak ingin membuat Yama malu saat pengucapan janji nikah nanti.
Kesibukan di kampus belum terlalu banyak, sehingga aku mempunyai banyak waktu untuk bersama Mama. Beberapa tata cara pernikahan telah kupelajari. Kami melompati berbagai susunan upacara pernikahan sebab aku tinggal sebatang kara.
Untungnya Nenek Megumi sudah tiada, sehingga pernikahanku dapat dilangsungkan secara modern. Aku dan Mama mencoba pakaian yang akan aku pakai nantinya. Dua buah gaun yang sangat indah. Satu buah kimono putih dengan rajutan benang emas dan perak, serta sebuah gaun putih polos dengan kilauan yang akan muncul jika terkena sinar.
Kami pun menuju tempat katering makanan dan mencoba tester berbagai makanan yang akan tersaji nantinya. Banyak makan membuat perut kami kenyang sebelum makan malam. Kami pulang saat hari menjelang malam, tetapi aku tidak menemukan Yama di rumah.
Aku memutuskan untuk membersihkan diri dan beristirahat, mataku sudah lelah. Malam ini terasa berbeda tanpa Yama disisiku. Aku membungkus rapat diriku agar terasa hangat dan segera tertidur.
__ADS_1
Pagi ini aku juga tak melihat Yama, tetapi semalam aku merasa ada yang memelukku. Aku bertanya kepada Mama dan para pelayan, mereka hanya menjawab jika Yama sudah berangkat ke kantor karena banyak urusan. Aku menepis pikiran burukku.
Hari ini aku tidak masuk kelas, hanya memperbaiki aksenku dengan Sinta di rumah. Setelah itu, Mama mengajakku untuk memanjakan diri di salon langganannya dulu. Kami bersantai bersama, menikmati hari terakhir bujangku. Esok adalah lembar baru bagiku.
Lagi, malam ini aku tak melihat Yama. Esok adalah hari pernikahan kita, tetapi Yama menghilang. Aku menghubungi ponselnya berkali-kali, tetapi hasilnya nihil. Yama ke mana sih? Kok hilang pas aku lagi sayang-sayangnya, batinku dengan membuat pola abstrak di bantalnya.
Aku tak dapat memejamkan mataku, kuputuskan untuk menunggunya pulang. Jam menunjukkan angka 1 dini hari, Yama pulang dengan langkah gontai. Dia berjalan tertatih menuju kamar mandi, aku menutup mataku berpura-pura tertidur.
Lama kudengar suara air, tetapi Yama belum muncul. Aku memutuskan untuk mengetuk pintu kamar mandi, "Yama ...," panggilku perlahan.
Tak ada jawaban, aku menggeser sedikit pintu kamar mandi. Pemandangan yang aku takutkan kini ada di depanku, orang yang aku cintai tengah tergeletak dengan luka di bagian perutnya.
"Aku tidak apa-apa, maafkan aku yang telah membangunkanmu," ucap Yama dengan mengusap pipiku lembut.
"Kamu ... kenapa bisa seperti ini?" Suaraku bergetar.
"Tenang lah, aku baik-baik saja. Tolong aku untuk membasuh lukaku," ucapnya.
Aku membuka kancing bajunya, ini kali pertama aku melihat tubuh seorang lelaki. Bukan saatnya aku malu, ini tentang nyawanya. Aku melihat luka tusuk pada perut bagian samping. Tidak begitu dalam, tetapi mengapa Yama sangat terlihat lemas.
Aku membasuh lukanya, kemudian membantunya untuk membasuh wajah dan badannya. Tiba saat bagian bawah, aku memberikan spons itu padanya. "Gosok sendiri!" ucapku ketus.
Yama hanya tersenyum lembut dan menggosok badannya sendiri, aku meletakkan pakaian bersih untuknya diatas meja wastafel. Aku mempunyai inisiatif untuk membuat makanan, Yama pasti lapar. Aku melangkah menuju dapur dan bergegas membuat telor dadar, segelas teh hijau dan pudding telor susu kukus.
__ADS_1
Aku kembali ke kamar dan melihatnya sudah berbaring di atas kasur. "Makanlah dulu sebelum tidur," ucapku seraya meletakkan nampan diatas nakas.
"Terimakasih sayang." Yama merubah posisinya.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanyaku.
"Aku hanya membereskan beberapa musuhku. Menurut informasi yang kudapat, mereka akan menggagalkan pernikahan kita besok. Aku tak ingin hari penting kita menjadi petaka," ucap Yama seraya menyeruput teh hijau yang masih hangat itu.
Aku memeluknya dan mencium seluruh wajahnya, seseorang yang sangat dingin begitu peduli dengan hari penting kami besok. Aku memberikan suapan besar telur dadar itu padanya. Kurasa dia dapat merasakan betapa besarnya rasa cintaku padanya sekarang.
Kini makanan sudah tandas dan waktu menunjukkan pukul 3 dini hari. Kami memutuskan untuk tidur sebentar sebelum hari bahagia kita besok. Kali ini tak ada pertengkaran di atas ranjang, kami berpelukan saling menyalurkan rasa cinta yang ada.
Halo para readers, mampir juga yuk di karya temen aku. Ceritanya seru, bikin adrenalin juga naik turun.😍😍👍
Judul : Dendam
Karya : nazwa talita
Setelah disiksa, dikhianati, dan dibuang di suatu tempat dalam keadaan tak bernyawa, Gendis bertekad mengubah takdir demi membalas dendam pada Arga Demian, pria tampan berhati iblis yang pernah menjadi kekasih rahasianya.
Akankah Gendis berhasil membalaskan dendam dan sakit hati pada pria yang selama ini terus bersemayam di hatinya? Ataukah dia justru kembali terjebak dan terjerat pada pesona Arga Demian dan kembali menjatuhkan hatinya pada pria itu?
Jangan lupa like dan komen ya semua. 😘
__ADS_1