
Yama melajukan mobilnya setelah memastikan anaknya itu memasuki gerbang sekolah. Bukan tanpa alasan Yama memberi Ichi peringatan itu, dalam sebulan ia dipanggil ke sekolah paling sedikit 5 kali. Ichiro adalah anak yang sangat cerdas, dia akan merasa bosan mendengarkan penjelasan guru yang bertele-tele sehingga Ichi menjadi anak yang jahil.
Sarah tidak tahu semua kejadian itu, seingkali Yama yang menghadap ke Kepala Sekolah. Tentu saja mereka hanya diam gemetar melihat tatapan mata Yama, bahkan Kepsek itu tidak berani berkata apa-apa. Guru kelas Ichiro lah yang sering mengobrol dengan Yama, dia tampak anggun dan cantik.
Perawakannya sangat lemah lembut, matanya akan berbinar ketika melihat Yama datang menjemput Ichi. Beberapa kali Ichi membuat masalah saat melihat Bu guru itu berusaha merayu Yama. Seperti hari ini sepulang sekolah, Yama datang seperti biasa untuk menjemput Ichiro.
"Selamat siang tuan Ito," sapa guru itu.
Yama membalas senyum gadis itu, wajah Yama melunak di hadapannya. Ichiro sangat kesal melihat senyum Ayahnya itu, ia menendang tulang kering Yama dengan keras. Yama menoleh ke bawah dengan tatapan tajam, tetapi itu tidak membuat Ichiro gentar sama sekali.
Guru bernama Ayumi itu berlutut dan berbicara lembut pada Ichiro, dia menasehati Ichiro dengan baik. Yama menatap gadis itu dengan tatapan yang sulit diartikan, Ichiro menyadari arti tatapan Ayahnya itu. Hari ini Ayumi hendak bercerita mengenai kenakalan Ichiro di kelas, dia meminta waktu makan siang Yama untuk bertemu dengannya di sebuah cafe.
Yama menyetujui permintaan Ayumi, dia bergegas mengantar Ichiro pulang. Yama tidak makan siang di rumah, dia beralasan akan bertemu dengan seorang klien. Sebelum sampai di rumah, Yama terlebih dahulu membungkam mulut sang Anak.
__ADS_1
"Bocah, aku akan berbicara dengan Bu guru Ayumi mengenai kenakalanmu. Aku harap kamu tidak memberitahu ibumu, atau dia akan menjadi kecewa terhadap kelakuanmu di sekolah." Yama secara tidak langsung telah mengancam Ichiro.
Saat ini perasaan Ichiro sangat tidak nyaman, pikirannya kalut. Dia tidak ingin membuat sang Ibu bersedih. Ichiro pun bertekad untuk menjadi anak baik, meminimalkan waktu bertemu Ayumi dengan Ayahnya.
Sarah memang tidak dapat mengantar jemput anaknya sendiri sebab dia masih kuliah, dia juga mengambil kursus seni menyulam. Kegiatannya sedikit padat. Usapan lembut di kepala Ichiro membuyarkan lamunannya, Ichiro mendongak melihat siapa yang membelainya. Hana membelai Ichiro sayang.
"Ada apa Sayang, dari tadi ngelamun terus?"
"Apakah laki-laki itu benar-benar mencintai Mama?'
"Laki-laki yang membuatku ada di dunia ini!" Ichiro menggeram kesal mengingat sang Ayah yang tidak pernah memanggil namanya.
"Ichiro-chan, Yama adalah ayahmu. Kamu harus menghormatinya." Hana menyadari jika ini dimulai dari Yama yang tidak pernah memanggil anaknya dengan benar.
__ADS_1
"Kenapa dia makan dengan Bu Ayumi?"
"Siapa? Ayahmu?" Hana memastikan dan dijawab anggukan oleh Ichiro. Hana sedikit kaget mendengar pernyataan Ichiro. Dunia Yakuza memang penuh dengan perempuan tetapi jika hal ini membuat sakit hati Sarah, Hana tidak akan tinggal diam.
Ichiro kemudian bercerita tentang masalahnya di sekolah, sebelumnya dia mengaitkan jari kelingkingnya dengan Hana. "Obaa-chan janji nggak akan bilang mama ya." Hana mengangguk setuju.
"Ichi sering pukul teman di sekolah."
"Kenapa?"
"Mereka suka ganggu Mayumi! Ichi suka Mayumi." Anak itu memainkan kedua jari telunjuknya. Hana menjadi gemas melihat tingkah cucu nya itu.
"Hebat sekali, Ichi udah jadi pahlawan donk kalo gitu."
__ADS_1
"Tapi Bu Ayumi marah, dia pukul Ichi."
"Jadi, Ayumi suka menghukum Ichi?" Ichiro mengangguk.