
Pagi ini Yama mengajakku ke suatu tempat. Ia merahasiakan tujuannya ini hingga kami sampai di depan sebuah rumah sakit. Aku mengerutkan keningku bertanya padanya, "kamu sakit?"
Yama menggelengkan kepalanya. Senyum secerah mentari terulas di bibirnya. Semua orang disapanya, bahkan sang Dokter pun di jabat tangan olehnya.
Aku menempelkan punggung tanganku pada dahinya, tidak panas. Yama tertawa kecil, membuatku semakin penasaran. Dokter membawa kami menuju ruang periksa dengan papan bertuliskan ruang USG.
Aku membelalakkan mataku dan menutup mulutku kaget. Kemudian aku menarik tangannya untuk berbicara berdua. "Yama, dari mana kamu tahu jika aku hamil? Aku bahkan nggak merasa mual atau muntah. Malu kalau ternyata nggak hamil nantinya," ucapku.
Yama masih tidak menjawab, dia hanya membelai rambutku dan mengecup keningku lama. Dia menghelaku untuk masuk ke ruang periksa. Disana sang Dokter bertanya kapan terakhir kali aku menstruasi. "Aku lupa," jawabku singkat.
Dokter mempersilahkanku untuk berbaring, dia mulai melakukan cek USG dalam. Benar saja, dia menjelaskan jika bulatan sebesar kacang itu adalah janin kami. Yama berteriak gembira, dia sangat senang.
"Terimakasih sayang, aku berjanji akan menjadi ayah yang baik untuk mereka," ucap Yama yang menghujaniku dengan ciumannya.
"Kok mereka? bukannya anak kita hanya 1?
"Aku ingin memiliki banyak anak darimu Sayang,"
"Udahlah aku lapar!" ucapku ketus.
Yama bertanya kepada sang Dokter tentang emosiku yang sering berubah-ubah. Dokter menjelaskan jika hal itu wajar dialami oleh ibu hamil. Dokter juga menjelaskan untuk mengurangi frekuensi berhubungan badan, jika sangat ingin harus dilakukan dengan lembut.
"Dengerin tuh! Papanya ngebet amat dari kemaren." Aku meliriknya sinis.
__ADS_1
Dokter meminta Yama untuk bersabar dalam menghadapi emosiku yang labil. Usia kandunganku masih 1 bulan, tidak menutup kemungkinan aku akan mengalami morning sickness. Dokter meresepkanku obat dan vitamin, kemudian dia meminta kami untuk chek up 1 bulan 1 kali.
Yama masih memelukku erat walaupun kita sudah berada di dalam mobil. Dirinya semakin menempel padaku. Aku menggoyangkan badanku keras agar dapat terlepas dari pelukannya, tetapi tidak bisa.
"Sayang, jangan terlalu banyak bergerak," ucap Yama dengan membelai perut rataku.
"Aku lapar ... lapar sekali," ucapku sedih.
"Baiklah, kita akan mencari makan. Jangan menangis." Yama memintaku untuk berbaring di pangkuannya.
Aku terlelap oleh belaiannya, entah berapa lama. Saat bangun, aku sedang berada di kamar kecil didalam kantornya. Aku keluar dari kamar dan mencari keberadaan Yama, ternyata dia sedang melakukan rapat. Yama terlihat sangat berwibawa dan tampan.
Aku melihatnya dan mengusap perut rataku, berharap si bayi akan setampan dan sepintar Ayahnya. Yama melihatku, aku berdiri di depan ruangan itu dan melambaikan tanganku. Yama menyerahkan rapat itu kepada Tadashi.
"Yama, aku bukan orang sakit. Kamu lanjutkan aja pimpin rapatnya, aku ingin lihat suamiku yang keren ini sedang bekerja," ucapku.
"Aku sudah selesai, ayo kembali ke ruanganku."
"Nggak mau! selesaikan dulu!" teriakku.
"Oke ... oke ... tenang Sayang, aku akan masuk kembali kedalam sana."
Semua peserta rapat menoleh kearah kami, tetapi hal itu tidak membuatku malu. Aku memberikan senyum lebarku pada Yama. Dia dengan mudah mengambil alih ruang rapat.
__ADS_1
Tadashi mempersilahkanku untuk masuk dan duduk di sebelah Yama, aku menolaknya. Aku ingin melihatnya dari belakang. Kini Tadashi tidak berada di sebelah Yama, melainkan disebelahku.
**Kira-kira sanggup nggak yah si Yama bertahan dalam menghadapi kerewelan bumil muda itu?๐ค**
รทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรท
Halo readers, yuk mampir juga di novel teman aku yang pastinya juga menarik ๐๐
Judul: Takdir Gadis si Buruk Rupa
Author: Imamah Nur
Blurb:
Rindu Maharani harus menerima kenyataan pahit saat terbangun dari koma, akibat kecelakaan yang menimpa diri dan keluarganya.
Tidak hanya kehilangan kedua orang tua, tetapi ia juga dihadapkan dengan kenyataan bahwa kini wajahnya menjadi buruk rupa.
Bukan hanya wajah tetapi pekerjaan yang sebagai pencabut bulu itik dan ayam menjadi sorotan dan hinaan di sekolah.
Cobaan demi cobaan senantiasa menemani perjalanan hidupnya. Namun, Rindu tidak patah semangat. Dia menjadikan hinaan dan cercaan sebagai semangat untuk bangkit dan berkembang.
Mampukah ia mengubah takdirnya?
__ADS_1