
Yama tersenyum menatapku, tapi aku membuang muka kearah yang lain. Kemudian, lelaki tadi mengantar kita berdua menuju ruangan kamar tempat kami menginap. Di rumah ini, nenek justru memintaku merawat Yama sepanjang hari. Artinya aku harus tidur bersama Yama.
Si Yakuza gila itu nggak mungkin aneh-aneh, dia kan lagi sakit. pikirku.
Saat akan berpamitan undur diri, lelaki tadi meminta maaf padaku. Aku masih tidak mengerti mengapa dia meminta maaf padaku.
"Kenapa dia minta maaf padaku?" tanyaku pada Yama.
"Itu karena kekacauan ini disebabkan oleh anaknya." ucap Yama dengan berbaring di atas kasur.
"Anaknya? apa aku kenal anak itu?" tanyaku.
Aku duduk di sofa yang ada didalam kamar itu.
"Haruka adalah anak dari paman Akira, dia adalah asisten kakek Yamamoto " ucap Yama.
"Asisten kakek Yamamoto, tapi kok masih muda? Harusnya sudah tua seumuran kakek kan?" protesku.
"Dia adalah generasi ke dua, ayahnya telah meninggal lebih dahulu." jelas Yama.
__ADS_1
"Aaa!!! udahlah, sebutin nama dia bikin hati aku makin nyesek! Lalu kenapa kamu ikutin aku kesini?!" aku mulai menaikkan nadaku serta mengangkat daguku.
"Karena aku tidak bisa jauh dari kamu sayang, apakah kamu cemburu?" Ucap Yama menggodaku.
"Bukannya bubur Haruka itu enak? bukannya kamu lebih suka kalau diperhatikan dia? dia aja panik setengah mati saat tau kamu sakit." ucapku kesal.
"Aku tidak memakan bubur itu, bahkan aku mengusirnya dari rumahku. Tidak ada yang boleh masuk kedalam kamarku, hanya kamu dan aku." Ucapnya.
"Mana aku tahu kamu jujur atau nggak." aku melipat kedua tanganku di dada.
"Aku akan minta seseorang untuk mengirim foto kamarku." Ucap Yama serius.
Kemudian dia mengeluarkan ponselnya dan meminta seseorang untuk mengirim gambar kondisi kamarnya. Ternyata dia serius.
"Lihat? aku tidak akan pernah berbohong padamu." ucapnya seraya memperlihatkan gambar pada ponselnya.
"Terus, kamu kesini nyetir sendiri?" tanyaku.
"Ya, aku menggunakan sisa tenagaku. Walaupun kepalaku terasa sangat pusing." ucapnya.
__ADS_1
"Seharusnya kamu nggak boleh keluyuran sendiri! untung aja nggak ada apa-apa di jalan." ucapku sedikit khawatir.
Yama beranjak dari atas kasur dan menghampiriku, dia tiba-tiba saja menarikku berdiri dan memelukku.
"Terimakasih telah mengkhawatirkanku, aku tahu jika kamu akan mencintaiku."
Krucuk ... krucuk ...
Suara perut Yama terdengar keras.
"Salah satu bukti jika aku tidak makan apa-apa malam ini." Ucap Yama dengan senyum tampannya.
"Harusnya kamu makan bubur buatan Haruka tadi, kalau sampai nggak makan bisa jadi sakit perut." Ucapku masih ngambek.
"Aku tidak mau, aku ingin makan bubur buatanmu. Bisakah kamu memasak semangkuk bubur untukku?" tanya Yama.
"Tunggu disini." perintahku.
Aku hendak menuju dapur, mencari ruangan itu di rumah yang besar ini sedikit susah. Semua pintu tampak sama, kemudian aku mendengar suara-suara dari balik salah satu pintu.
__ADS_1
Aku mengintip sedikit dengan melubangi kertas Washi pada pintu itu, sesuatu yang terjadi membuatku marah sekaligus sedih.
Sekedar informasi, kertas washi merupakan material pada pintu dan jendela yang menjadi penyekat bagian dalam dan luar rumah. Sinar matahari dan sinar bulan yang masuk ke dalam ruangan melalui shoji berbahan kertas washi ini juga menghasilkan pantulan sinar yang indah dan menakjubkan.