
"Bagaimana sekolah kalian, sayang?" tanya si nenek menyambut kedatangan cucunya. Andi dan Rama baru saja pulang dari sekolah.
"Sangat seru, Nek Lidya! Kami makan bekal yang kami bawa di kantin sekolah tadi," balas Andi penuh semangat.
"Apa kalian sudah mendapat teman? Apa tak ada anak-anak yang menganggu kalian?" Nek Lidya bertanya dengan tak sabar.
"Nek, Rama ke kamar dulu, ya. Gerah. Nenek lanjut aja ngobrol sama Andi, nanti Rama balik kalau udah ganti baju."
"Ya, sayang!" balas Nek Lidya lembut.
"Jadi, bagaimana?" tanya perempuan tua itu lagi.
"Gak ada yang mengganggu kami, kok. Semuanya baik dan ramah. Kau juga berkenalan dengan beberapa siswa, sebenarnya ada juga siswi yang memperkenalkan diri, tapi Rama tak menggubris, Nek Lidya."
"Syukurlah, ganti baju sana, habis itu kita makan bersama!"
"Baik, Nek Lidya!"
__ADS_1
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Rama menghempas tubuhnya di atas kursi, dia terduduk lemah seraya menghembuskan napas panjang. Baginya berakting itu sangat gampang, mendalami peran juga tak susah, yang susah itu, saat dirinya harus berbicara panjang lebar. Itu terlalu memuakkan baginya, dia lebih sering mengadu kekuatan daripada berbicara omong kosong.
"Heh, ternyata memiliki keluarga sungguh merepotkan!" decih Rama setengah kesal.
"Bagaimanapun ini pilihanku dan aku harus menjalaninya sebaik mungkin!" pemuda itu bangkit lalu masuk ke kamar mandi, dia butuh mandi untuk menyegarkan isi kepalanya.
Pintu kamarnya diketuk, Rama pun segera membukakan pintu kamarnya. "Tuan muda, makanan sudah siap!" ternyata seorang pelayan yang mengetuk pintu kamar Rama.
Rama mengangguk paham. "Terima kasih, sebentar lagi saya akan ke bawah!" balas Rama memamerkan senyum simpul. Si pelayan menunduk singkat kemudian berlalu pergi.
"Maaf lama, nek," kata Rama begitu dia tiba di ruang makan.
"Tidak apa-apa, kami juga baru saja di sini, ya kan, An?" balas Nek Lidya lembut.
"Iya, apa yang dikatakan Nek Lidya benar," timpal Andi bersemangat.
__ADS_1
"Syukurlah, saya takut kalau-kalau membuat nenek menunggu."
"Sudah, sudah, ayo kita santap makanannya saja sekarang, nanti keburu dingin!" ketiganya makan siang bersama. Sang kakek tak terlihat karena ada urusan yang perlu ditanganinya saat ini, makanya hanya mereka bertiga yang makan siang sekarang.
"Nenek senang kalian mendapat teman sekelas yang baik semua, tak ada yang usil atau mengganggu kalian." Nek Lidya berbicara di sela-sela makannya.
"Saya juga suka, Nek Lidya. Saya sangat bersyukur semuanya baik dan mau menerima kami menjadi teman mereka. Ya, kan, Ram?" tatapan mata polos meminta tanggapan dari Rama.
Rama mengangguk singkat. "Ya, itu patut disyukuri." Rama tersenyum mengejek di dalam hatinya, yang harusnya bersyukur itu mereka, karena mereka tak akan mendapat balasan dan tetap aman. Jika ada yang berani mengganggu, Rama memiliki seribu cara untuk membereskan sumber masalah.
"Sekolah yang rajin, jadi anak pintar, dan bantu kakekmu. Kasihan kakekmu sudah sangat tua tapi masih sibuk bekerja," ucap Nek Lidya mengelus pucuk kepala cucunya, rama.rama mengangguk sebagai balasan.
"Kamu juga, An. Harus lulus dengan nilai yang bagus, lalu lanjut lagi sekolah. Setelahnya bantu Rama, temani dia agar tak lelah bekerja sendirian."
"Baik, Nek Lidya. Saya akan mendengarkan apa yang nenek inginkan!" balas Andi penuh semangat.
...°°°°°...
__ADS_1
...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...