Topeng.

Topeng.
7.


__ADS_3

Matahari pagi menyambut, burung-burung kecil berkicau di luar sana. Si nenek sudah sibuk dari sebelum matahari terbit di ufuk timur, beliau menyiapkan sarapan untuk cucu tersayangnya.


Si kakek juga sudah sibuk dari pagi, beliau menyiapkan surat-surat agar Rama bisa bersekolah ketika anak itu sudah sehat. Tak lupa juga beliau mengurus untuk anak laki-laki yang bersama cucunya.


"Pagi kesayangan nenek!" wajah penuh senyum menyapa Rama di kamarnya. Ya, perempuan tua itu membawakan sarapan ke kamar cucunya. Si nenek tak mengizinkan cucu laki-laki satu-satunya itu untuk bergerak terlalu banyak, belum pulih benar, itu alasannya.


"Pagi, nek. Nenek terlihat lebih cantik pagi ini!" balas Rama sekaligus memuji sang nenek.


"Ho-ho-ho-ho, meski itu sebuah kebohongan, tapi nenek tetap senang mendapat pujian dari cucu nenek ini!"


"Tapi Rama gak bohong, nek. Rama menuju karena itu benar adanya!" kekeh Rama.


"Ha-ha-ha-ha, baiklah, baiklah jika Rama berkata demikian. Ayo, kita sarapan dulu, setelahnya baru minum obat."


"Ah, dan kamu juga harus sarapan, nak!" ucap si nenek menatap anak laki-laki yang satunya.

__ADS_1


"Baik, emm, nyonya," balas si anak ragu-ragu memanggil nenek yang sangat ramah padanya tersebut.


Si nenek tersenyum lembut. "Kamu bisa memanggil saya Nenek Lidya, nama saya Lidya, nak." anak laki-laki tadi mengangguk paham.


"Dan panggil suami saya Kakek Surya," lanjut Nek Lidya.


"Nama saya, nama saya? Akh, saya tak bisa mengingatnya sama sekali!"


Nenek Lidya mengelus pelan kepala anak laki-laki tersebut, dia merasa iba melihat anak itu meringis kesakitan. "Tak apa, tak apa. Mulai sekarang nama kamu Andi. Lupakan saja kalau memang tak bisa diingat, daripada kamu kesakitan." si Andi mengangguk paham.


"Dan kamu bisa menjadi teman cucu saya."


'Aku tak melarang kamu untuk dekat dengan nenek dan kakekmu yang asli. Namun, aku gak akan membiarkan kamu menghalangi rencana yang sudah aku siapkan. Jadi, teruslah lupa, agar aku tak harus menggunakan rencana cadangan


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...

__ADS_1


"Kakek mana, nek?" tanya Rama setelah dia menghabiskan sarapan yang dibawakan neneknya.


"Oh, kakek kamu lagi mengurus surat-surat untuk kalian," jelas si nenek.


"Untuk saya juga?" tanya Andi ragu.


"Tentu saja, kalian kan harus sekolah. Untuk sekolah kalian membutuhkan surat-surat, dan itu yang sedang diurus sekarang," jelas si nenek cepat.


"Kalian akan disekolahkan di sekolah yang sama, di kelas yang sama. Hmm, mungkin, sih. Soalnya kan pembagian kelas urusan sekolah, itu sudah bukan wewenang kakekmu sebagai wali!" lanjut Nek Lidya.


"Semoga kita bisa sekelas, ya!" ucap Rama memamerkan senyum riang.


"Hu-um, jadi saya bisa bertanya kalau ada yang saya tak pahami," balas Andi setuju.


"Kita bisa saling membantu sebagai sahabat!" kata Rama berakting senang dengan lancar.

__ADS_1


"Terima kasih sudah mau menerima saya dan berteman dengan saya!" kata Andi sopan, dia tak menyangka dirinya yang lupa ingatan masih mau diterima di rumah ini, padahal bisa saya tuan dan nyonya rumah ini menyerahkan dirinya ke panti atau malah tak menggubris dirinya. Tapi kedua orang itu malah merawat dan berencana mengurus dirinya, tentu saja dia harus berterimakasih.


Rama tersenyum dalam hati. 'Jangan berterimakasih padaku, karena aku mengambil apa yang seharusnya menjadi milikmu. Malah harusnya aku yang berterimakasih dengan menjaga dirimu untuk tetap di sisiku selamanya!'


__ADS_2