Topeng.

Topeng.
67.


__ADS_3

Ibunya Jonathan menyusul anaknya yang tak juga masuk bersama dengan para sahabatnya. Masa menyambut tamu saja lamanya seperti itu. Sayup-sayup sang ibu mendengar ocehan mereka berempat, si ibu pun tersenyum kecil. Merasa kalau para sahabat anaknya adalah anak-anak baik yang jujur dan juga baik. Ahh, dia sebagai ibu jadi bangga, anaknya bisa mendapatkan kawan yang baik seperti itu.


"Harusnya kamu mengajak kawan-kawan kamu langsung masuk, bukannya menahan mereka di sini, nak," tegur sang ibu sengaja membuat suara agar anaknya tahu dirinya ada di sini.


"Ini juga baru mau masuk, ma," kilah si Jo tersenyum lebar.


"Halo tante, saya Kiara, senang bertemu dengan tante," sapa Kiara dengan sopan.


"Saya Andi, tan. Temannya si Jo!" ucap Andi memperkenalkan dirinya, dia bahkan menyalami ibunya Jonathan.


"Rama," ucap Rama mengangguk singkat, seakan bertemu dengan rekan bisnis saja.


"Ha-ha-ha, kalian semua tampan-tampan dan cantik, ya," puji si ibu tertawa hangat. "Ayo, masuk. Ayo, masuk. Jangan hanya berdiri di depan pintu saja!" lanjut si ibu dengan ramah. Jonathan dan yang lainnya mengekori si ibu dari belakang.


"Pa, lihat. Kawan-kawan anak kita sudah datang," seru si ibu di depan pria paruh baya.


Si ayah mengangguk singkat. "Ayo, duduk senyaman kalian..Anggap saja rumah sendiri!" kata sang ayah dengan suara datar.


"Asal jangan dijual atau digadaikan saja!" celetuk si Jo bercanda.


"Jaga sikap, Jo. Teman-temanmu ada di sini! Apa kamu gak malu bersikap seperti tadi?" tegur sang ayah. Jonathan dan, senyum di wajahnya hilang. Meski hangat dan penyayang, tetapi ayah si Jo ini sedikit keras kalau di depan sahabat anaknya. Kiara tak berani bersuara, takut kalau ditegur juga. Sedangkan Andi malah melirik ke sembarang arah, biar tak terlalu diperhatikan.


"Tak apa, kami sudah terbiasa dengan semua tingkah Jo, tuan!" sela Rama yang dengan berani balas menatap mata ayahnya Jo.


Ayah Jonathan berdehem keras. "Ya, sudah kalau begitu!" katanya lebih melembutkan suaranya. Beliau lalu menatap ke arah anaknya. "Kamu harus bersyukur mendapatkan teman yang penuh pengertian!" katanya disertai senyum kecil.


"Tentu saja! Jo selalu bersyukur setiap harinya untuk hal yang satu ini!" kata pemuda itu dengan penuh semangat.


"Saya dengar Nak Rama sangat sibuk? Terima kasih sudah bersedia datang walau kami mengundang secara dadakan," kata si ayah menatap Rama lebih bersahabat.


"Sudah seharusnya, tuan. Lagi pula saya tak sesibuk itu sampai-sampai tak memiliki waktu luang," balas Rama formal.


"Tolong jaga dan ajari anak kami, nak!" kata si ibu menatap penuh pengharapan.


"Itu berlebihan, saya tak memiliki kemampuan untuk menjaga seseorang, nyonya!" timpal Rama tak ingin berperan sebagai penjaga.


"Kami sudah dengar dari Jo kalau dia banyak belajar dari kamu, nak," ucap si ibu tersenyum tipis. "Ahh, dan panggil saya lebih nyaman. Kamu bisa memanggil saya, tante. Dan suami saya, om," lanjut wanita paruh baya itu. Rama mengangguk mengiyakan permintaan wanita paruh baya tersebut.


"Mari kita ke ruang makan, nanti baru kita lanjut ngobrol lagi," ajak si ayah langsung berdiri.


Si ibu mengangguk setuju. "Ayo, anak-anak. Dan maaf kalau makanannya cuma seadanya dan tak sesuai selera kalian. Tante menyiapkan dengan terburu-buru soalnya," tukas ibunya Jo terkekeh pelan.


Sesampainya di meja makan, Kiara dan Andi tak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutnya. Ini yang namanya 'Seadanya' tadi. Terus kalau lebih dari seadanya, yang bagaimana itu. Apa seperti makanan yang ada di perjamuan pesta-pesta begitu. "Ayo, ayo, silakan dicicipi. Semoga sesuai dengan selera kalian," ucap si ibu dengan nada ramah.

__ADS_1


Rama tetap memasang tampang datar dan tenang, padahal dalam otaknya sedang berpikir kalau semua makanan yang ada di meja ini dibawa ke dunia sisi gelap, pasti semua orang yang ada di sana akan berebut. Bahkan mungkin ada yang saling baku hantam hanya untuk sesuap makanan yang saat ini sedang disajikan.


Lidah Andi sudah mulai gatal, dia terbiasa makan sambil berbicara dengan Rama. Dan di meja makan ini, sekarang, terlalu hening menurut pemuda itu. Tak ada suara lain selain suara denting sendok dan piring, itu pun hanya sesekali terdengar. Astaga, Andi hampir tercekik saking heningnya suasana meja makan kawannya ini.


Suapan terakhir, Andi menghela napas lega. Akhirnya dia bisa bersuara lagi. Rama tersenyum tipis melirik sekilas ke arah Andi, dia paling paham kelakuan sahabatnya yang tak bisa diam satu ini. "Kenapa, Nak Andi? Ada yang tak nyaman?" tanya ibunya Jo dengan raut khawatir. Siapa yang tahu kalau mungkin saja sahabat anaknya itu merasa sakit setelah menyantap hidangan yang dia sajikan.


"Tak ada, tan. Semua baik-baik saja!" balas Andi cepat, tak ingin membuat orang tua sahabatnya khawatir.


"Temani kawan-kawanmu berkeliling, nak," suruh sang ibu. Katanya setelah makan lebih baik berjalan pelan, agar membantu makanan yang dimakan tadi tercerna dengan baik.


"Baik, ma," balas si Jo mengajak ketiga kawannya ke pekarangan rumahnya.


"Fyuhh, aku hampir ngerasa dicekik tadi gegara terlalu hening pas makan," aku Andi mengeluh saat mereka sudah tiba di tempat yang cukup sepi. Tentunya sebelum berbicara, Andi memastikan tak ada seseorang pun di dekat mereka.


"Ha-ha-ha, aku tahu, aku tahu. Wajah kamu terlihat seakan mau meledak tadi, An!" timpal Kiara tertawa lebar.


"Jangan nyaring-nyaring juga kali, Ra. Ntar ada yang denger, gak enak kalau sampai sama mamanya Jo," tegur Andi melirik sekitar, siapa tahu suara sahabatnya itu membuat para pelayan mendekat. Untungnya tak ada pelayan yang datang mendekati mereka. "Kamu terlalu berisik, Ra!" lanjut pemuda itu melotot menatap kawannya


"Ya elah, segitu takutnya kalau kedengeran!" timpal Kiara santai. "Mamanya Jo baik, kok," lanjut gadis itu sambil nyengir lebar.


"Ngomong-ngomong, Jo, kamu bilang apa aja sampai-sampai mama kamu nitip jagain kamu sama Rama?" tanya Kiara menatap Jonathan. Andi mengangguk setuju, dia juga ingin bertanya itu tadi.


"Gak banyak, aku cuma bilang kalau Rama itu sangat sibuk. Siang kerja, malam kuliah. Terus aku juga bilang kalau aku banyak belajar tentang bisnis dari Rama. Udah, itu aja. Gak banyak, kan?" timpal Jonathan dengan tampang polos yang minta ditimpuk.


"Gimana menurut kamu orang tua aku, Ram?" tanya si Jo tiba-tiba.


"Baik!" balas Rama singkat.


Jonathan menunggu beberapa menit, ya siapa yang tahu mungkin Rama akan melanjutkan komentarnya soal yang ditanyakan Jonathan tadi. Sayangnya, Rama tak juga melanjutkan. "Udah? Gitu aja?" tanya si Jo tak percaya. Itu terlalu singkat untuk dijadikan komentar.


Rama mengangguk yakin. "Ya!" katanya irit bicara. Jonathan memasang tampang memelas, Kiara dan Andi menertawakan nasib sahabatnya itu.


"Tapi makasih kamu udah datang, Ram. Aku kira kamu bakalan nolak karena lagi sibuk atau capek!" ucap si Jo setelah selesai pundung tadi.


"Lagi gak ada kegiatan, makanya biar ke sini," balas Rama dengan kalimat yang lumayan panjang.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Tak sampai pukul delapan, Rama dan yang lainnya pamit untuk pulang. Rama dan Andi mengikuti mobil Kiara dari belakang, ceritanya mereka akan mengawal Kiara sampai ke rumah gadis itu, habis itu baru mereka lanjut menuju rumah mereka sendiri. Kiara yang sudah sampai, melambai pada sahabatnya. Tak lupa mengucapkan terima kasih karena sudah ditemani sampai ke rumahnya.


"Ahh, tadi makanannya sangat enak, tapi suasananya yang gak mendukung," keluh Andi mulai mengoceh. "Dan apa kamu lihat, Ram? Makanan yang katanya SEADANYA? Astaga, itu jauh dari kata seadanya!!!" lanjut Andi memekik pelan.


"Itu seadanya menurut mamanya Jo, An," timpal Rama tetap fokus menyetir.

__ADS_1


Andi mengangguk paham. "Kata seadanya dari mamanya Jo, gak boleh dipercaya begitu aja!" timpal Andi dengan tatapan berapi-api, seakan mendapatkan kesimpulan yang paling penting saat ini. Rama tersenyum tipis mendengar ucapan kawannya itu.


Begitu sampai di rumah, Andi langsung masuk ke kamar. Dia memilih langsung tidur saja. Rama sendiri memilih mengecek jadwalnya besok sebelum tidur. "Ahh, aku harus ke panti untuk mendapatkan anak yang cocok dijadikan perisai untuk membantuku menjauhkan makhluk berisik dan berbau yang sering muncul aneh di sekitarku!" gumam Rama. Pemuda itu tak mengharapkan anak yang penuh dengan kepintaran, atau pun lucu dan menggemaskan. Cukup hanya jadi anak polos yang ingin menguasai dirinya sendirian tanpa mau berbagi pada yang lain. Dengan begitu anak itu akan menjadi perisai sempurna untuk mengusir para pengganggu. Alangkah lebih baiknya kalau anak itu memiliki lidah yang tajam, jadi dia tak repot-repot mengajari cara untuk membuat seseorang menjauh hanya dengan satu kata saja. "Semoga ada anak yang bisa diharapkan!" kata Rama sebelum masuk ke alam mimpi.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Keesokan harinya, Andi yang tak memiliki kelas hari ini pun ikut dengan sahabatnya. Daripada dia sendirian di rumah, lebih baik dia ikut dan bermain bersama anak-anak di sana. Seperti sebelumnya, Andi membeli banyak makanan ringan dan es krim. Kali ini pemuda itu membayar sendiri karena dia tak melupakan dompetnya. "Kamu mau nyari anak ceritanya ini, Ram?" tanya Andi memastikan untuk kesekian kalinya.


Rama mengangguk pelan. "Kan tadi kamu udah nanya, An. Dan aku juga udah ngasih jawaban," desah pemuda itu. Entah berapa kali kawannya itu sudah bertanya pertanyaan yang sama, hingga dia malas untuk menghitungnya.


"Hanya memastikan, Ram, he-he," cengir Andi menimpali. "Tapi apa kamu serius, Ram?" tanya pemuda itu lagi. "Susah, loh ngurus anak kecil!" lanjutnya berkomentar.


"Sewa pelayan, baby sitter, atau apa pun terserah," balas Rama enteng. Dia bisa mempekerjakan beberapa orang untuk menjaga anak yang akan dia adopsi nanti, semua kebutuhan anak itu juga pasti bisa dia penuhi.


"Ck, aku juga tahu kalau itu. Maksud aku itu, kamu kan sangat-sangat sibuk, mana ada waktu untuk memperhatikan anak yang bakalan jadi keluarga kita!" timpal Andi menjelaskan. "Gak semuanya bisa diselesaikan dengan uang, Ram. Harus ada perhatian dan kasih sayang juga," lanjut pemuda itu menasihati.


"Ada kamu!" balas Rama santai.


Andi melongo menatap kawannya. "Kok, aku? Aku gak bakalan bisa, Ram!" kata Andi menimpali dengan cepat. "Aku tuh gak bakat jaga anak kecil, gak juga pinter ngurusin bocah. Lah, aku aja masih bocah!" lanjut Andi mengakui dirinya masih seperti anak kecil terkadang.


"Malah bagus, jadi pola pikir kalian akan seimbang!" kata Rama membalas dengan entengnya.


"Ram, Ram. Plisss, kalau aku yang harus ngasih perhatian sama tuh anak, mending gak usah adopsi anak kecil, Ram. Kamu cukup pasang tampang datar aja kayak biasanya, atau pura-pura kalau kamu punya cinta pertama yang susah dilupakan. Makanya kamu gak mau berhubungan dengan cewek lain. Itu lebih mudah ketimbang membesarkan anak, Ram!" kata Andi mencoba membujuk sahabatnya agar berubah pikiran.


Rama tampak berpikir dengan serius, apa yang diucapkan oleh kawannya itu tak ada salahnya. Tapi ada yang sedikit mengganjal dari cerita yang sahabatnya itu buat menurutnya. "Apa ada yang bakalan percaya?" tanya Rama melirik sekilas kawannya.


"Tenang saja, Ram. Kalau urusan itu, biar aku, Jo, dan Ara yang mengurus. Dalam sehari akan banyak yang mengetahui alasan di balik wajah kamu yang selalu dingin dan datar!" kata Andi penuh keyakinan, dia bahkan sudah menyusun skenario yang paling menyentuh. "Ara bisa memerankan sebagai gadis yang kamu tolak dan karena terlalu sakit hati, dia akan menangis, meraung, dan menceritakan kisah yang aku karang sebagai cerita cinta kamu!" lanjut Andi dengan semangat membara.


"Memangnya dia bakalan mau ngebantu?" tanya Rama ragu.


"Tentu, Ara itu selalu pengen main akting, tapi sayang kelasnya udah penuh dan dia gak bisa menyediakan waktu lebih buat main di klub kami," balas Andi meyakinkan sahabatnya.


Rama mengangguk pelan, selama dia tak melakukan apa pun, tak ada salahnya mencoba. Biarlah gadis bayangan akan hadir untuk menjadi perisai Rama, gadis bayangan tak akan lebih merepotkan daripada membesarkan seorang anak seperti kata kawannya. "Oke, kita tunda dulu mencari anak yang tepat. Kita lakukan sesuai kata-kata kamu saja, An!" putus Rama. Andi bertepuk tangan di dalam hati, dia bisa membantu sahabatnya dengan kemampuan aktingnya yang tak seberapa. Ahh, tentunya dia harus meminta kerja sama dari kedua sahabatnya yang lain agar semuanya berjalan lancar sesuai keinginan.


"Mungkin akan ada rumor dan tatapan aneh yang menghujani kamu nantinya, Ram!" ucap Andi mengingatkan.


"Tak masalah! Rumor bisa menghilang, juga tak akan berisik dan mengganggu di depanku. Tapi makhluk-makhluk yang terus dan terus dikenalkan padaku sangat menggangu, berbau, dan berisik!" balas Rama enteng.


"Ngomong-ngomong, mereka pada pakai parfum, Ram. Bukannya bau," timpal Andi membenarkan ucapan kawannya.


"Sangat bau dan menyengat menurutku! Membuat mual dan pusing!" aku Rama mendesis kesal membayangkan baru para wanita yang dikenalkan padanya. Karena itu juga Rama sering membawa baju ganti ke kantor, dia tak tahan dengan bau parfum menyengat yang seakan menempel. Padahal dia sudah menjaga jarak. Rama tak akan tahu berapa banyak botol parfum yang dipakai oleh gadis-gadis tersebut sebelum bertemu dengannya.


...°°°°°...

__ADS_1


...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...


__ADS_2