
Setahun berlalu, Ponco tak pernah lagi menampakkan batang hidungnya. Namun, meski begitu. Rama tetap masih bisa merasakan kalau ada beberapa mata yang mengintainya di balik kegelapan.
Andi dan Rama kini telah menjadi mahasiswa, Andi mengambil jurusan hukum untuk membantu pekerjaan kawannya, dia berniat menjadi pengacara pribadi Rama saat lulus nanti. Rama tak ambil pusing, dia bisa belajar semua apa yang dia mau, kebetulan sang nenek menyarankan untuk mengambil jurusan manajemen, katanya agar Rama bisa memperdalam pengetahuan soal bisnis. Rama mengiyakan saja, dia menuruti saran sang nenek tanpa pikir panjang.
Rama dan Andi juga ditawari untuk mengikuti klub-klub di kampus mereka, Andi akhirnya memilih klub seni dan juga klub drama. Andi mengajak Rama, tapi Rama menggelengkan kepalanya. Ayolah, hidupnya sudah penuh akting dan kepura-puraan. Masa dia harus bermain peran di kehidupan kampusnya, Rama pun menolak ajakan kawannya. Rama lebih memilih ikut klub olahraga, selain bisa melepaskan stress, dia juga bisa berlatih meski sedikit.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
__ADS_1
Sebagai hadiah kelulusan dari sekolah lama dan juga diterimanya Rama ke kampus yang cukup terkenal, pemuda itu diberi hadiah berupa mobil keluaran terbaru, warna biru tua menjadi pilihan sang nenek untuk cucunya. Andi tersenyum senang melihat keakraban yang terlihat manis di depan matanya.
"Wah, ntar aku nebeng, ya!" celetuk Andi begitu melihat nenek dan cucu itu melerai pelukan mereka. Sekarang gantian, dia yang merangkul bahu kawannya. Rama mengangguk setuju, lagi pula mereka juga memilih kampus yang sama, jadi arah mereka pasti sama juga. Yah, kecuali kalau mereka ada perlu di tempat yang berbeda suatu saat nanti.
"Buat apa nebeng, kalau bisa nyetir sendiri!" Nek Lidya memamerkan satu kunci mobil lagi.
"Ini buat saya?" tanya Andi yang merasa tak percaya kalau dirinya juga mendapatkan hadiah.
__ADS_1
"Tentu saja. Masa iya untuk Mang Ujang penjual sayur yang sering lewat-lewat kalau pagi?!" Nek Lidya cukup senang melihat ekspresi wajah Andi yang terlihat terkejut dan juga tak percaya di depannya ini. Sangat jauh berbeda dengan cucunya yang terlihat tanpa ekspresi, hanya senyum tipis sesaat yang bisa dia lihat dari sang cucu tadi ketika dia memberikan kejutan.
"Saya tak menyangka kalau saya juga akan mendapatkan hadiah," ucap Andi terharu, dia sudah ikut dengan keluarga ini sejak dirinya lupa ingatan. Tak ada yang pernah mencarinya dan dia terus menerima bantuan tanpa bisa mengembalikan kebaikan mereka. Terlebih sang nenek yang sangat hangat dan menyayanginya seperti cucu sendiri, Andi bersyukur dengan semua yang dia punya saat ini. "Terima kasih, terima kasih, Nek Lidya," lanjut pemuda itu menyeka sudut matanya, dia tak mau diejek kalau kawannya tahu dia terharu hingga menitikkan air mata.
"Ho-ho-ho-ho, tapi itu tidak gratis sayang. Dapatkan nilai tertinggi untuk membayar nenek tua ini!"
"Tentu saja, nek!" ketiganya tertawa bersama. Hari itu, kedua pemuda itu berkeliling mencoba mobil baru mereka.
__ADS_1
Keesokan harinya, keduanya berangkat ke kampus menggunakan mobil yang baru diberikan sang nenek. Banyak mata yang menatap, bagaimana tidak, mobil yang mereka gunakan adalah keluaran terbaru. Andi merasa malu diperhatikan banyak mata, berbeda dengan Rama yang cuek-cuek saja. Keduanya berpisah dan masuk ke kelas yang harus mereka hadiri.