
Memang benar kata orang pada zaman dahulu, waktu adalah sesuatu yang tak bisa dihentikan atau dikembalikan. Saat ini Rama menghadiri kelulusan sahabat baiknya, Andi. Pemuda itu sudah lulus dengan nilai tertinggi. Bahkan Andi ditawarkan untuk melanjutkan pendidikan, tentu saja biayanya akan ditanggung pihak kampus. Sayangnya Andi tak berniat menerima tawaran tersebut, dia hanya ingin mulai merintis karir dan membantu kawannya.
Rama sudah lulus dua tahun lalu, pemuda itu menyelesaikan semua tugas yang diberikan dan menempuh pendidikan lebih cepat. Kenapa bisa, ya karena Rama sangat jenius dan tak ingin repot buang-buang waktu untuk pendidikan yang bisa diselesaikan lebih cepat.
Untuk Jonathan sendiri, pemuda itu ikut hijrah bersama dengan papa dan mamanya. Jo kuliah sambil belajar mengurus bisnis sang ayah, persiapan sebagai pewaris kata papanya. Jangan tanya bagaimana hebohnya pemuda itu saat akan berangkat, dia bahkan sampai mogok makan, tapi akhirnya ikut juga setelah mamanya turun tangan membujuk. Andi dan yang lainnya juga mengatakan kalau mereka bertiga akan berkunjung saat liburan, Jo pun akhirnya berangkat walau masih dengan wajah tertekuk. Dalam setahun, mereka saling mengunjungi secara bergantian. Bermain bersama, menikmati liburan yang singkat tapi menyenangkan.
Kiara terlihat lebih dewasa, gadis itu menuruti keinginan kakeknya setiap dia dikenalkan dengan cucu dari teman-teman sang kakek. Tentu saja dengan perjanjian kalau sang kakek tak boleh memaksakan semuanya, keputusan akhir tetap menjadi pilihan Kiara. Gadis itu akan memilih lanjut atau tak lagi bertemu dengan salah satu di antara mereka yang dikenalkan padanya.
"Selamat, kakek dan nenek pasti bangga pada kamu, An," kata Rama tersenyum simpul, tak lupa pemuda itu menyerahkan karangan bunga yang sengaja dia beli di jalan.
"Makasih, Ram. Seneng kamu bisa datang," balas Andi tersenyum ceria, tak menyangka kawannya yang sibuk itu bisa meluangkan waktu untuk hadir.
"Ceh, tak peduli sesibuk apa pun, aku bakalan tetap datang. Jangan remehkan saudara mu ini, kawan!" timpal Rama yang banyak bicara kalau sudah bersama Andi, meski hanya terkadang saja tapinya.
"Sayangku!!!" panggil sebuah suara yang cemprengnya minta ampun, terlihat Kiara berlari dengan tangan membentang lebar, seakan ingin memeluk seseorang. "Kamu datang untuk aku, ya?" kata gadis itu semakin narsis sambil terus berlari ke arah Rama.
Rama memutar bola matanya malas, sudah terlalu kebal dengan kelakuan aneh kawannya yang satu ini. "Jangan aneh-aneh!" kata Rama datar seraya menyingkir ke samping, membuat Kiara memeluk udara kosong.
"Aisshh, yang benar saja? Bahkan di hari sebaik ini aku juga gak bisa dapat pelukan dari sahabat aku?" keluh Kiara menendang udara saking kesalnya.
"Udah kelar? Bisa pulang? Atau masih mau foto-foto dulu?" tanya Rama tak menggubris Kiara yang sedang kesal.
"Foto-foto dulu, dong!" sahut Kiara penuh semangat.
"Siapa yang ditanya, siapa yang jawab coba?!" dengus Andi menatap Kiara yang tak peduli kalau dirinya sedang disindir.
"Hai, aku gak telat, kan?" kata sebuah suara yang mereka kenal menyela.
"Jo!!!" pekik Kiara memeluk ringan kawannya itu. "Aku kira kamu gak bakalan datang!" kata gadis itu lagi.
__ADS_1
"Ha-ha-ha, masa aku gak datang? Tapi, kalian juga harus datang kalau aku udah lulus!" balas si Jo sambil tertawa kecil.
"Apa kabar, kawan?" tanya Andi bergantian memeluk kawannya itu.
"Tentu saja baik, kalau gak mana mungkin aku dibolehkan ke sini," kekeh si Jo balas memeluk Andi.
"Ambil foto sana cepat, baru kita balik!" kata Rama menyela jumpa kangen kawan-kawannya, padahal baru beberapa bulan yang lalu mereka bertemu, tapi sekarang serasa belum bertemu selama beberapa tahun saja.
"Ayo kita foto berempat!" ajak Andi disertai cengiran lebar. Kiara mengangguk penuh semangat, menyetujui ucapan kawannya. Jonathan juga sama,.dia sudah siap berpose untuk foto kenangan mereka. Rama pun akhirnya ikut di samping Andi, berdiri dengan wajah data andalannya.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Selesai foto-foto, Kiara pulang ke rumahnya sendiri. Jonathan ikut ke rumah Andi dan Rama, tepatnya Andi yang mengundang kawannya itu untuk menginap di tempat mereka hingga sahabatnya itu kembali. Buat apa buang uang untuk tinggal di hotel kalau kawannya memiliki rumah dengan cukup kamar kosong yang tak terpakai.
"Aku jadi ngerepotin ini," kata si Jo tak enak hati.
"Ngerepotin apanya? Udah di sini aja biar kita bisa main sepuasnya sampai kamu balik!" timpal Andi.
"Apanya yang mau diubah? Belum lama ini juga kamu mampir, gimana mau ada yang berubah," celetuk Rama dengan nada malas.
"He-he, kan biar kedengerannya keren aja, Ram. Biar berasa kita udah lama gak ketemu dan aku udah lama gak mampir ke rumah ini," balas si Jo cengengesan.
"Huh," dengus Rama disertai senyum kecil. "Gimana kabar om dan tante?" tanya pemuda itu menanyakan kabar mama dan papa Jonathan.
"Semuanya baik-baik saja, mama lagi sibuk ngurusin rumah sambil ngurusin papa. Dan kalau papa kayaknya lagi ada proyek baru, aku gak terlalu tahu soalnya aku gak ikutan di proyek itu," jawab si Jo tak yakin.
"Stop bahas bisnis! Ayo kita main game aja?!" sela Andi mengajak Rama dan si Jo untuk bermain game.
"Mending kamu ganti baju, An. Kita jalan-jalan dan makan-makan untuk ngerayain kelulusan kamu," timpal Rama.
__ADS_1
"Ahh, kamu benar. Bentar aku ganti baju dulu," ucap Andi cepat-cepat berdiri dari duduknya dan segera berlari ke kamarnya.
"Awas jatuh!" teriak Rama mengingatkan.
"Masih saja ceroboh," kata si Jo mengomentari.
"Yah, setidaknya tak terlalu buruk," timpal Rama setuju.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Andi menyeret si Jo yang tak mau ikut dengan mereka berdua, alasannya agar kedua sahabatnya bisa menikmati hari dan berbincang dengan santai tanpa memikirkan dirinya. Andi langsung mengatakan bahwa semakin banyak yang berkumpul, maka akan semakin seru waktu yang mereka habiskan. Akhirnya si Jo pun ikut dengan setengah terpaksa, tapi akhirnya pemuda itu menikmati juga waktu jalan-jalan mereka.
Rama mengajak keduanya makan-makan, ke mall membeli baju dan sepatu, bahkan Andi memilih kacamata yang sama untuk kedua kawannya. Tentu saja dia juga memilihkan untuk Kiara, jadi mereka berempat memiliki satu barang yang sama.
"Ahh," ini melelahkan tapi menyenangkan di saat yang sama!" kata Andi ketika mereka beristirahat sebentar.
"Gak kerasa banyak waktu terbuang untuk jalan-jalan dan berkeliling seperti tadi," timpal si Jo sambil melihat jam di pergelangan tangannya. "Balik sekarang? Sekalian mandi begitu sampai, gerah nih," lanjut pemuda itu bertanya pada kedua temannya.
"Sekalian aja makan di luar," ucap Rama menjawab.
"Aku ngikut aja!" timpal Andi setuju.
"Gak ada kata 'Tidak' untuk yang namanya makanan!" tambah si Jo disertai senyum lebar.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Begitulah waktu yang mereka habiskan bersama, setiap harinya tak ada adu mulut yang berarti. Jika pun ada, itu hanyalah sekedar bercanda saja. Tak ada serius-seriusnya.
Ini hanyalah kisah empat sahabat yang menjalani keseharian mereka dengan bahagia, mungkin ada saat mengeluh, tapi semua harus dijalani walau sesusah apa pun. Hidup itu penuh warna, maka jalani saja meski kesedihan mungkin akan datang sebagai pelengkap. Tapi sedih tak pernah abadi, bahagia pasti akan menutup di akhir cerita.
__ADS_1
...°°°°°...
...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...