
Pentas Andi berakhir sukses, Rama merasa bangga melihat kawannya. "Terima kasih untuk makanan dan minumannya tadi, kawan," ucap orang yang tadi dipanggil Andi bos.
"Tak masalah, itu hanya hal kecil yang bisa saya lakukan untuk sahabat saya!" balas Rama tersenyum tipis.
"Sebagai balasan, bolehkah saya mentraktir anda? Ahh, kenalkan nama saya, Rio," ucap si bos tadi yang ternyata namanya adalah Rio.
"Sebaliknya, biarkan saya yang mentraktir kalian," timpal Rama.
"Ram, Ram, gak usah sampai segitunya. Ini cuma pentas kecil, gak perlu dirayakan," cegah Andi, tak ingin kawannya menghabiskan uang lebih banyak hanya untuk hal sepele.
"Tak apa, tak ada ruginya juga," balas Rama menenangkan sahabatnya.
Singkat cerita, mereka berpindah ke sebuah restoran yang terkenal. "Sebagai ketua, saya mengucapkan terima kasih untuk traktiran anda," ucap Rio.
"Terima kasih banyak," sahut yang lain serempak.
Andi menggaruk pipinya, dia sedikit canggung. Sedangkan Rama hanya mengangguk santai. "Ya," balasnya singkat tanpa mengubah mimik wajahnya yang datar.
"Ha-ha-ha, sahabatku memang begitu, jadi jangan salah paham. Otot wajahnya kaku, jadi jarang senyum," jelas Andi tak ingin kawan-kawan di klub yang dia ikuti salah paham pada sahabatnya.
"Ahh, begitu? Kami mengerti," timpal si Rio mewakili yang lain.
Rama menjentikkan jarinya, beberapa pelayan resto datang dengan buku menu di tangan mereka. "Pesan apa saja yang kalian inginkan, jangan pedulikan harganya," kata Rama dengan nada yang sangat santai.
Suasana berubah, semua tersenyum senang. Meski ada yang ragu untuk memesan, tetapi akhirnya ikut juga karena melihat yang lain memesan tanpa malu atau canggung.
Rio menepuk tangannya meminta perhatian. "Sebelum kita mulai makan, bisa minta tolong sampaikan beberapa kata penyemangat buat kami?" katanya menatap Rama.
Andi menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Ha-ha-ha, tak perlu sampai begitu, kan? Mari langsung makan saja," katanya mencoba mengeluarkan sahabatnya dari hal merepotkan yang tak ada penting-pentingnya bagi sahabatnya itu.
"Ini sebagai bentuk rasa terima kasih kami," timpal Rio, yang lain mengangguk setuju.
Baru saja Andi akan bersuara lagi, Rama mencegahnya, dia memegang lengan kawannya. "Kalian sudah bekerja keras, nikmati makanan kalian dan semoga pertunjukan lainnya akan sukses seperti saat ini!" ucap Rama ditutup dengan senyum simpul.
"Uwahhh, tampannya!" pekik seseorang secara spontan begitu melihat senyuman Rama.
"Apa anda tertarik menjadi bagian dari kami?" tanya Rio antusias.
"Tidak!" tolak Rama datar.
"Dengan wajah dan karakter seperti anda yang mendukung, kami pasti akan selalu sukses," kata Rio bersemangat. "Kalau soal persyaratan, saya bisa membuat surat rekomendasi," lanjut pemuda itu.
"Ha-ha-ha,. temanku ini sangat-sangat sibuk. Kebetulan saja hari ini dia memiliki jadwal kosong, makanya bisa menonton pertunjukan kita. Itu pun karena aku yang meminta dengan sangat," jelas Andi mengaku.
"Benarkah?" tanya Rio, Andi mengangguk sebagai balasan. "Kalau begitu mungkin kamu bisa membujuk sahabatmu ini untuk bergabung dengan kita," lanjutnya memegang kedua tangan Andi. Yang lain menganggukkan kepalanya, menatap Andi dengan penuh harap.
"Mari kita mulai makan saja," sela Rama menatap lurus Rio tanpa ekspresi apa pun di wajahnya.
Rio berdehem canggung, melepaskan tangan Andi yang dia pegang tadi. "Ekhem, ya, ya, anda benar. Mari kita menikmati santapan yang sudah dipesan," katanya mencoba menghindari tatapan Rama yang menurutnya sedikit menakutkan.
"Mau langsung balik?" tanya Rama begitu semua telah selesai menyantap makanan mereka, dia hanya bertanya pada Andi tepatnya.
"Temani aku beli buku, boleh?" tanya Andi disertai cengiran lebar.
Rama mengangguk dan balas tersenyum tipis. "Baiklah, kita mampir ke toko buku nanti dalam perjalanan pulang," katanya menimpali. Andi tersenyum senang, dia suka menghabiskan waktu bersama temannya, meski hanya untuk jalan-jalan atau bermain saja. Kawannya itu terlalu sibuk, jadi Andi ingin Rama lebih bersantai.
"Ayo kita pergi," ajak Rama berdiri dari duduknya. Tentu saja semua pembayaran sudah dia selesaikan.
Rio ikut berdiri. "Sekali lagi saya ucapkan terima kasih!" katanya tulus. "Dan tolong pikirkan sekali saja tawaran saya," lanjut pemuda itu tak juga menyerah untuk merekrut Rama.
__ADS_1
"Sampai jumpa," balas Rama berlalu pergi, berjalan beriringan bersama Andi. Andi merangkul bahu kawannya, dan Rama tak keberatan sama sekali.
"Ah, aku seperti melihat lukisan yang menjadi kenyataan. Terlalu indah," desah salah seorang di antara mereka.
"Kenapa tak ada satu pun dari temanku yang memiliki tampang seperti dewa begitu, ya?" desah yang lain menunduk sedih.
"Ayo kita keluar juga, semua sudah selesai. Sekarang waktunya bangkit dari mimpi dan kembali bekerja keras lagi!" kata Rio menyela. Yang lain mengangguk dan mereka pulang ke rumah masing-masing.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Rama menemani Andi membeli buku, keduanya berkeliling di antara rak-rak buku, Andi memilih buku yang dia inginkan. Cukup lama karena Andi tak langsung memilih, dia malah mencari buku lain. Andi juga meminta pendapat sahabatnya, Rama sendiri hanya terus mengangguk dan mengatakan semua buku yang disodorkan oleh kawannya itu bagus. Jadilah Andi membeli lebih banyak buku dari yang dia perlukan. "Eits, biar aku yang bayar sendiri. Ini kan aku yang perlu," kata Andi ketika melihat sahabatnya hendak mengambil dompet. Ahh, saat ini keduanya sedang di depan kasir.
Rama mengangguk, tak jadi mengeluarkan dompetnya. "Oke," kata pemuda itu mengalah.
Andi tersenyum senang, dia merasa menang dan berhasil membayar sendiri apa yang ingin dia beli. "Makasih, mba," katanya begitu menerima kantongan berisi buku yang dia beli.
"Sama-sama, mampir lagi ke toko kami, ya," kata si petugas kasir dengan sangat ramah. Nadi mengangguk.
"Balik?" tanya Rama ketika urusan bayar membayar selesai.
"Yup," timpal Andi cepat. "Cepat pulang, cepat sampai, cepat ganti baju, dan cepat rehat!" lanjut pemuda itu bersemangat.
Begitu sampai rumah, Andi langsung masuk ke kamarnya. Karena dia sering mimpi buruk di malam hari, jadi hanya saat tidur malam saja dia tidur di kamar kawannya. Kalau di luar waktu itu, Andi menggunakan kamarnya sendiri. Setelah berganti baju, Andi mengambil salah satu buku di antara buku yang baru dia beli. Dia berbaring di tempat tidur sambil membaca buku tersebut, tak berselang lama, pemuda itu tertidur dengan buku di tangannya. Tidur yang sangat nyenyak, mungkin karena Andi terlalu lelah dan banyak melakukan aktivitas hari ini.
Rama sendiri memeriksa e-mail di laptopnya, siapa tahu ada berkas penting yang dikirim. Ternyata e-mail nya kosong, tak ada berkas baru. Rama pun mengangkat bahu acuh dan menutup laptopnya. Dia berbaring di tempat tidur dan memejamkan mata, kapan lagi dia bisa menikmati tidur siang yang langka. Jarang-jarang pemuda itu memiliki hari libur, selain di akhir pekan. Bahkan di akhir pekan pun terkadang ada jadwal dadakan yang harus dia lakukan, sungguh seberapa sibuk dan melelahkannya kehidupan Rama saat ini. Namun, pemuda itu dengan senang menjalaninya. Dia tak pernah mengeluh atau angkat suara mengatakan pekerjaannya terlalu banyak. Dia memikul semuanya di bahunya tanpa bicara apa-apa.
Selang beberapa jam, Rama turun ke bawah, tentunya setelah mencuci wajahnya yang baru bangun tidur. Dilihatnya Andi duduk di ruang tengah sambil membaca buku. "Seru?" tanya pemuda itu duduk di salah satu sofa di dekat kawannya.
"Gak tahu, baru aja mau baca, Ram. He-he, aku tidur tadi," cengir Andi membalas.
Rama menganggukkan kepalanya. "Aku juga baru bangun," timpal pemuda itu.
"Yeah, begitulah," balas Rama menengadahkan kepalanya menatap langit-langit.
"Napa? Capek, ya?" tanya Andi khawatir kalau temannya lelah.
Rama menengok, menatap kawannya sambil tersenyum simpul. "Sedikit. Bohong banget kalau aku bilang gak capek," aku Rama jujur. "Tapi aku suka, meski kadang ada aja masalah yang harusnya gak perlu aku urus, tapi tetep aku juga yang turun tangan," keluh Rama terkekeh pelan.
"Rama kan pinter, pasti semuanya bisa terselesaikan dengan mudah," ucap Andi menyemangati kawannya.
"Baiklah, lupakan soal pekerjaan yang harus diurus," timpal Rama. "Jadi, apa temen aku ini punya gebetan baru?" tanya Rama mode jahil.
Andi menyilangkan tangannya. "Gak ada! Aku mau fokus kelarin kuliah, terus bantuin kamu meski hanya sedikit!" jawab Andi serius.
"Ayolah, nikmati saja masa saat ini. Ntar kalau udah kelewat, aku lagi yang disalahin jadi penyebab kamu gak bisa menikmati masa kuliah kamu." Rama memutar bola matanya sambil tersenyum mengejek.
"Jangan kayak orang tua gitu, Ram. Padahal sendirinya juga sama aja," tukas Andi menimpali. "Kalau aku harus menikmati waktu, kamu juga harus begitu dong," lanjut Andi tepat sasaran.
"Ahh, aku kan sibuk," kilah Rama melirik ke arah lain. "Lagian cewek bikin pusing, banyak maunya. Belum lagi bau parfum-nya, astaga gak bisa napas aku," lanjut Rama melontarkan alasan dia malas dekat-dekat dengan seorang lawan jenis.
"Suruh berhenti aja pakai parfum," timpal Andi terkikik geli.
"Mending milih gak keluar rumah kali, An. Kalau kamu suruh begitu," kata Rama ikut terkekeh. Keduanya terus berbicara hingga makan malam tiba, mereka menyantap makanan yang terasa hangat dan enak. Masakan rumahan memang yang terbaik dari pada makanan di luar.
Keesokan harinya, Andi pergi ke kampus dan Rama berangkat ke kantor. Hari ini Andi membawa mobilnya sendiri, jadi sahabatnya tak perlu mengantarkan dirinya lagi.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Musim berlalu, Rama mengizinkan para pekerjanya untuk libur. Dia mengatakan dia bisa menyewa pekerja lepas selama pembantu-pembantunya kembali ke kampung masing-masing. Bibi yang paling dekat dan lama bekerja di sana, sedikit tak rela diberi liburan. Bukannya dia tak rindu kampung halaman serta keluarganya, tetapi dia sedikit khawatir dengan kedua tuan mudanya. Bagaimana kalau mereka berdua ditipu, bagaimana kalau orang yang disewa untuk membersihkan rumah ternyata penipu, dan kekhawatiran-kekhawatiran lainnya.
__ADS_1
"Saya gak harus balik sekarang, tuan muda," ucap si bibi untuk kesekian kalinya. "Biar saya menunggu di rumah dan mengerjakan semua, saya bisa pulang kampung tahun depan," lanjut si bibi membujuk Rama.
"Bi, saya bukan anak kecil yang butuh dijaga dua puluh empat jam penuh. Saya dan Andi bisa membagi tugas untuk mengurus pekerjaan rumah," kata Rama menenangkan si bibi pelayan.
"Tapi rumah ini terlalu besar, tuan muda!" timpal si bibi khawatir kalau majikannya semakin banyak pekerjaan dan kelelahan.
"Gak apa-apa, bi. Biar kami berdua tahu seberat apa pekerjaan yang biasa kalian kerjakan setiap harinya!" ucap Andi menyela.
"Bagaimana dengan makanan?" tanya si bibi.
"Masak sendiri, kalau sibuk bisa beli makanan jadi," balas Rama simpel.
"Cucian? Bersih-bersih? Kebun dan taman?" tanya si bibi dengan raut wajah khawatir.
"Bibi berangkat aja, nikmati waktu bersama dengan keluarga bibi. Titip salam buat si kecil yang fotonya dipajang di ponsel bibi," ucap Andi cepat.
"Ini dariku buat cucu bibi," kata Rama memberikan banyak bingkisan yang sudah dikemas rapi.
"Terima kasih, tuan muda. Cucu saya, Anggi pasti senang menerima semuanya," ucap si bibi terharu.
"Kalau yang ini dari saya, bi. Tapi setelah makan, suruh gosok gigi. Saya gak bisa tanggung jawab kalau giginya rusak," kata Andi bercanda.
"Baik, terima kasih sekali lagi. Kalian majikan paling baik dan tak menyusahkan yang pernah bibi layani," kata si bibi menundukkan kepalanya sedikit.
Setelah selesai acara pamit-pamitan yang sangat panjang, akhirnya si bibi berangkat juga. "Ha-ah, rasanya lebih panjang dari pada sebelumnya, ya?" desah Rama.
Andi mengangguk, menutup gerbang rumah mereka. "Lebih banyak larangan kali ini," timpal pemuda itu.
"Akhirnya, kedamaian datang juga," kata Rama menikmati waktu tenang.
"Ini terlalu tenang, Ram. Bukan damai lagi," balas Andi mengedarkan pandangannya ke sekitar. Mereka sedang duduk di ruang tengah. "Terlalu sepi," lanjut pemuda itu ikutan duduk.
"Bukankah ini sempurna?" ucap Rama memejamkan mata.
Andi mendesah panjang. "Baiklah, ini sangat-sangat sempurna," timpal Andi ikut memejamkan mata. "Tapi, ntar kita makan apaan, Ram?" tanya pemuda itu.
"Apa aja yang penting bikin kenyang," balas Rama menimpali.
Andi mengangguk setuju. "Kita nonton, yuk Ram. Mau gak?" tanya Andi mencari kegiatan untuk mengisi waktunya.
"Pilih sana, sebelum aku ketiduran," timpal Rama yang artinya dia setuju dengan ide sahabatnya itu.
Andi bergerak dengan cepat, memilih film bergenre komedi. Keduanya tertawa bersama selama menonton film yang Andi pilih. Terlebih Andi, pemuda itu tak bisa menghentikan tawanya meski film yang mereka tonton sudah selesai.
Rama menatap jam tangannya, kemudian dia berdiri dan berjalan menuju dapur. "Mau kemana, Ram?" tanya Andi setelah Tawang sedikit mereda.
"Masak," balas Rama singkat.
Andi melompat, membuntuti langkah kawannya dari belakang. "Aku ikut," katanya bersemangat. Kapan lagi dia bisa makan masakan kawannya.
"Jangan terlalu antusias, nanti tak sesuai harapan jadinya," ucap Rama tersenyum sebelah bibir.
"Gak apa-apa, masakan sederhana kalau dibuat sama seorang Rama, pasti tetep bakalan enak!" timpal Andi penuh semangat.
"Heh, serah," kata Rama disertai senyum tipis. Rama mulai memasak, Andi mengoceh ini-itu selama kawannya memasak. Andi cukup membantu, pemuda itu memotong-motong sayuran yang akan digunakan sahabatnya.
"Selamat makan," seru Andi bersemangat setelah setengah jam berurusan dengan dapur. Meski hanya tumisan dan telor ceplok, Andi dengan semangat empat lima mengangkat sendok. Rama menggelengkan kepalanya tak berdaya, sahabatnya itu memang sesuatu sekali.
...°°°°°...
__ADS_1
...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...