Topeng.

Topeng.
56.


__ADS_3

Rama beristirahat di hotel, rencananya besok dia akan mencari sesuatu untuk dibeli. Terserah apa pun itu, yang penting bisa dijadikan alasan untuk menutupi perjalanannya kali ini.


Keesokan harinya, Rama kembali dengan beberapa kantong belanjaan yang dia beli sebagai oleh-oleh. Ada juga buku yang dia beli, itulah yang dijadikan sebagai alasan perjalanan pemuda itu kali ini.


"Aku pulang," ucap Rama memberitahukan bahwa dia sudah tiba.


"Selamat datang, tuan muda!" balas seorang pelayan menyambut kedatangan Rama.


Rama mengulurkan tangannya, menyerahkan satu kantong belanjaan pada pelayan itu. "Bagikan pada yang lain," katanya datar.


Si pelayan tersenyum senang menerima bingkisan dari majikannya. "Terima kasih, tuan muda. Akan saya bagikan sekarang juga," katanya dengan nada riang. Rama mengangguk, kemudian berjalan menaiki tangga.


Rama masuk ke kamarnya, kemudian mandi dan berganti pakaian. Selesai mandi, dia melihat Andi duduk di kasurnya. "Yo," sapa Andi mengangkat tangannya ke udara.


Rama tak menjawab, dia berjalan dan mengambil kantong belanjaan yang dia bawa. "Ambil!" Rama melemparkan kantongan itu ke arah kawannya.


Andi menangkap dengan cepat, takut kalau dia tak bisa menangkapnya dan terjatuh ke lantai. Yah, siapa tahu saja nanti pecah isinya. "Kan bisa ngasihnya gak pakai dilempar, Ram," ucap Andi protes. Namun, wajahnya tersenyum cerah karena mendapatkan hadiah.


"Kalau mau protes, simpan dulu senyumnya?!" tukas Rama dengan tampang mengejek.


"Huh, kamu kemana aja dua hari ini?" tanya Andi.


"Nyari buku," jawab Rama menghempas tubuhnya ke atas ranjang. Dia berbaring tanpa terganggu oleh kehadiran kawannya, sudah biasa Andi menginvasi kamarnya seperti itu. "Mana nenek? Istirahat?" tanya Rama sambil memejamkan matanya.


"Yup, Nek Lidya kayaknya terlalu berlebihan mengurus tamannya, jadi nenek langsung masuk kamar, wajah nenek juga terlihat lebih pucat," jelas Andi seakan memberi laporan pada kawannya. "Ram, Paman Beno berhenti kerja," lanjut pemuda itu memberitahukan soal Ponco.


"Mungkin dia capek," timpal Rama seakan tak tahu.


"Paman Beno meninggalkan catatan, di catatan itu dia menulis kalau ada urusan keluarga," balas Andi cepat.


Rama mengangguk santai. "Ya," balasnya singkat.


"Apa kira-kira Paman Beno akan kembali?" tanya Andi dengan kepala menunduk.


"Mungkin," timpal Rama santai.


"Ram, kamu tidur?" tanya Andi setelah beberapa saat kawannya hanya membalas singkat saja, mungkin kawannya itu kelelahan sehabis menempuh perjalanan yang entah kemana. Tak ada jawaban, Andi pun ikut berbaring. "Kalau begitu aku tidur juga, ah," katanya ikut memejamkan mata.


Lima belas menit tanpa suara, Rama membuka matanya. Menatap wajah kawannya yang terlelap di sebelahnya. "Maaf, hanya kata maaf tak akan cukup untuk segalanya!" bisik Rama pelan, setelahnya pemuda itu kembali memejamkan matanya. Keduanya berbagi kasur yang sama, tertidur seperti saat mereka masih bocah kecil. Terlihat damai dan saling menyayangi.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Sore itu, langit hitam yang memuntahkan tangisan dengan derasnya, menjadi saksi yang mengiringi perjalanan terakhir seorang wanita tua. Andi menangis terisak, air matanya seolah tak mau berhenti. Nek Lidya telah pergi untuk selamanya, wanita tua itu meninggal dalam tidurnya. Wajah tua yang dihiasi keriput di sana-sini itu tersenyum lembut, seakan telah ikhlas akan semuanya, seakan beliau telah menjalani semua kebahagiaan di dalam hidupnya. Rama berdiri tegar, melepas kepergian satu-satunya wanita yang paling dia sayangi di hidupnya. Wanita yang mengajarkannya arti kehangatan sebuah keluarga, air mata pun menetes dari kedua belah pipinya. Namun, segera terhapus oleh tetesan air hujan yang cukup deras.


Ucapan bela sungkawa tak digubris Rama, pemuda itu seolah tuli akan keadaan sekitar. Matanya hanya menatap lurus, menatap ke arah liang lahat yang menjadi tempat peristirahatan terakhir sang nenek.


"Yang sabar, ya Ram, hiks, hiks," ucap Andi disela tangisnya.

__ADS_1


"Kamu yang nangis dari tadi, loh An," balas Rama berbisik lirih.


"Aku kan mewakili kamu yang gak tahu caranya nangis, Ram," kilah Andi menghapus air matanya dengan cepat.


"Tuan muda, anda harus kembali. Nanti anda jatuh sakit kalau terus berada di bawah hujan, tuan muda!" tegur sang supir mendekati kedua majikannya dengan sebuah payung di tangannya.


"Bawa Andi duluan, aku masih ingin di sini sedikit lebih lama," balas Rama tanpa menoleh. Hanya ada mereka bertiga yang tersisa di gundukan tanah merah tersebut.


Andi menggeleng keras kepala. "Aku mau di sini juga, aku akan menemani kamu, Ram!" kata pemuda itu cepat.


"Kalian harus pulang, tuan muda. Ada beberapa tamu yang menunggu anda di rumah, belum lagi pengacara keluarga. Anda harus menyelesaikan semua," ucap si supir sopan, dia teringat lagi kepala pelayan yang memaksanya untuk menyuruh tuan muda mereka untuk pulang dengan segera. Dia bisa membuat alasan apa pun atau melakukan semua yang dibutuhkan untuk membuat majikannya itu pulang.


"Dengar itu? Setidaknya hanya kamu yang bisa aku percaya untuk mengurus masalah di rumah. Aku masih perlu waktu untuk berpamitan dengan nenek, An," lirih Rama tersenyum dengan paksa.


Andi mengangguk paham, dia tak boleh menambah beban kawannya. Dia harus bisa diandalkan dan menolong Rama untuk mengatasi hal-hal kecil seperti ini. "Tapi hanya sebentar! Aku gak mungkin bisa mengurus semua?!" tukas Andi berharap kawannya tak menghabiskan lebih banyak waktu di tengah hujan seperti sekarang. Rama mengangguk pelan, kembali menatap lurus ke kuburan sang nenek.


Andi mengambil payung yang dibawa si supir, kemudian dia memberikan payung itu kepada Rama. "Setidaknya pakai ini agar kamu tak kehujanan!" ucap Andi menyerahkan payung itu ke tangan kawannya. Kalau biasanya Rama akan menanggapi dengan candaan, kali ini pemuda itu mengangguk tanpa tenaga. "Ayo, kita pergi!" lanjut Andi berbalik sambil mengepalkan tangannya erat.


"Kalian berdua yang harus pulang, tuan. Bukan hanya anda sendiri," timpal si supir yang basah kuyup karena payungnya diambil.


Andi menghentikan langkahnya, berbicara tanpa menoleh. "Kembali sekarang, atau kita bertiga akan di sini sampai Rama memilih untuk pulang?" desis Andi setengah gusar. Dia tahu dia bukan tuan muda yang asli, dia hanyalah pengganti sementara hingga kawannya siap untuk maju. Tetapi apa supir ini tak paham kalau kawannya butuh waktu untuk berduka, kenapa dia terlalu memaksa.


"Maafkan saya, tuan muda!" kata si supir menyusul langkah Andi.


Suara tapak kaki menjauh, Rama jatuh berlutut dengan tak berdaya, payung di tangannya tergeletak begitu saja, pemuda itu seolah tak berdaya, menatap kosong lurus ke depan. "Anda terlalu cepat pergi, nyonya," kekeh Rama seperti orang yang kehilangan arah. "Anda membuat saya yang licik dan berhati jahat merasakan arti kehangatan, lalu anda meninggalkan saya tanpa pemberitahuan untuk bersiap? Untuk pertama kalinya saya menangis sebanyak ini, nyonya," lanjut pemuda itu lirih, terdengar sangat pilu bahkan untuk telinganya sendiri.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Rama mengurus semuanya dengan baik, dia menerima banyak warisan dari kedua orang yang paling berjasa dalam hidupnya. Keduanya adalah orang-orang yang memberikan dirinya sebuah keluarga, mengajarinya cara menyayangi dengan tulus. Rama kuliah di malam hari dan mengurus perusahan di siang hari, Andi ingin mengikuti langkah yang kawannya ambil. Namun, Rama melarang. Rama mengatakan Andi bisa kuliah dengan jadwal seperti biasa, biar dia yang mengurus masalah perusahaan.


Di suatu hari, saat akhir pekan, Rama yang mencoba menggunakan waktu istirahatnya untuk berantai, dikejutkan oleh kedatangan kawannya yang tiba-tiba masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintu lebih dulu. "Ada apa, An?" tanya Rama heran.


"Gawat, Ram! Gawat?!" ucap Andi terlihat panik.


"Kenapa? Ada apa? Ada yang gangguin kamu? Siapa?" tanya Rama beruntun, sedikit khawatir pada sahabatnya.


"Aku lupa beli tiket dan sekarang kehabisan?!" ucap Andi memelas. Rama terdiam, tak tahu harus menanggapi seperti apa. Pemuda itu seolah kehabisan kata-kata untuk menanggapi kawannya.


"Padahal aku udah nabung, aku pengen beli dan nonton filmnya bareng kamu," aku Andi menggigit kukunya terlihat frustasi. "Tapi tiket terakhir malah dibeli oleh orang lain!" lanjut pemuda itu emosi karena dirinya terlambat.


Rama menghela napas panjang. "Nanti juga bakalan ada lagi," timpal pemuda itu santai.


"Bakalan beda, Ram. Kita harus nonton pas baru tayang, biar serunya dapet?!" kata Andi menggebu.


Melihat kawannya mondar-mandir, Rama pun tersenyum tipis. Pemuda itu mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. Tak lama panggilan itu pun terhubung. "Bisa pesankan saya tiket film yang saat ini sedang jadi perbincangan panas?" tanya Rama yang sama sekali tak tahu judul filmnya. Dia hanya menebak kalau kawannya seribut itu, pasti film yang ingin ditontonnya cukup terkenal.


Di seberang sana sedang membalas ucapan Rama. "Apa dua cukup?" tanya Rama menatap Andi. Andi menaikkan jarinya sambil nyengir, dia menunjukkan bahwa dia memerlukan empat buah tiket.

__ADS_1


"Carikan empat untukku secepatnya. Bayar berapa pun yang dibutuhkan!" titah Rama menghela napas panjang. "Terima kasih," ucap Rama sebelum mengakhiri panggilan teleponnya.


"Jadi?" tanya Andi menatap penuh harap.


"Masih dicari, bersiaplah untuk menonton penayangan perdana, apa pun film itu," balas Rama seolah tak peduli.


"Kamu pasti juga suka, aku udah nyari ini film untuk menghibur kamu, Ram," timpal Andi yakin.


"Ya, ya, ya! Sekarang biarkan kawanmu ini memejamkan matanya sebentar saja," balas Rama langsung menutup matanya.


Andi menarik napas panjang. "Padahal aku udah ngumpulin duit, eh, ternyata malah kamu yang beli tiketnya," cicit Andi mengeluh, kepalanya menunduk seakan menyembunyikan kekesalannya karena tak mampu membeli tiket.


"Bukan aku yang beli, sekretaris perusahaan yang mengurus, An," balas Rama masih dengan mata terpejam.


"Tapi setidaknya kamu lebih hebat dari pada aku. Kamu bisa memerintah dengan satu panggilan telepon, padahal aku sendiri malah nunggu tiketnya dijual, itu pun gak dapat," keluh Andi menunduk semakin dalam.


"An, kalau semua ini milikmu, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Rama tiba-tiba, suara itu terdengar cukup serius bagi Andi.


"Hmm, apa, ya?" Andi berpikir sesaat. "Mungkin aku bakalan lanjut kuliah, perusahan biar diurus paman dulu. Kalau aku udah lulus, baru aku terjun ngurusin perusahaan," lanjut Andi terdengar tak yakin dengan apa yang diucapkannya.


"Tapi untung saja ini bukan milikku, kalau tidak, aku sudah pusing duluan mengurus semuanya! Belum lagi berapa banyak hyena di luar sana yang siap menerkam saat aku jatuh. Bayanginnya aja ngeri, Ram?!" kata Andi bergidik membayangkan kalau dia yang harus menempati posisi Rama.


"Baiklah, biarkan aku tidur sekarang," balas Rama kembali menyamankan diri.


"Karena aku gak ada kegiatan, izinkan aku ikut tidur juga!" ucap Andi melompat k samping Rama, pemuda itu berbaring lurus sambil tersenyum lebar.


"Terserah, asal jangan bersuara!" pinta Rama. Andi mengangguk cepat, padahal dia tahu kawannya tak akan melihat. Rama kan sedang menutup matanya.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Andi terbangun dan berteriak secara tiba-tiba, Rama yang tidur dengan nyenyak-nya pun terkejut dibuatnya. Dapat Rama lihat peluh membanjiri pelipis kawannya itu, napas terengah menjadi bukti kalau Andi pasti bermimpi buruk. "Minum dulu," ucap Rama menyodorkan segelas air.


Andi menerima dan memegang gelas itu dengan kedua tangannya, tangan pemuda itu terlihat gemetar saat ini. "Sudah tenang?" tanya Rama saat kawannya sudah bisa mengatur napasnya.


Andi menganggukkan kepalanya. "Makasih, Ram," ucap Andi dengan suara yang terdengar cukup serak. Sepertinya pemuda itu berteriak dalam tidurnya karena bermimpi buruk.


"Jangan dipikirkan, mungkin kamu hanya lupa membaca do'a!" ucap Rama seolah sedang menghibur kawannya.


"Aku bermimpi aku kecelakaan, Ram. Dan aku masih kecil saat itu?!" ucap Andi menceritakan mimpi yang baru saja dialaminya. "Api di mana-mana dan banyak bayangan-bayangan tangan yang siap menarik aku agar aku tertelan bumi!" lanjut pemuda itu memeluk tubuhnya sendiri.


Rama memaksakan sebuah senyuman, menutupi rasa was-wasnya. "Mungkin kamu nonton film horor tadi, makanya kebawa mimpi!" Andi mengangguk membenarkan, pemuda itu memang suka menonton film jenis apa saja. Horor, komedi, atau apa pun genrenya, semua akan ditonton kalau dirinya merasa film itu seru.


"Lihat, seberapa banyak kamu berkeringat?" kekeh Rama mengelap keringat di dahi Andi. "Rupanya kawanku ini memiliki rasa takut juga, eh?!" ejek Rama mencoba membuat Andi melupakan mimpi buruknya barusan.


"Habisnya serem, Ram. Bayangin aja, ada ribuan atau ratusan ribu tangan berwarna hitam seperti bayangan menarik kamu. Kamu ngelawan, tapi gak punya kekuatan. Akhirnya kamu tertelan ke dalam bumi tanpa ada yang tersisa, bahkan teriak pun kamu gak mampu. Uhh, serem pokoknya!" ucap Andi menjelaskan mimpinya.


"Cuci muka saja, biar gak mimpi seram lagi! Nonton film komedi aja beberapa hari ini, oke?" timpal Rama mengusak rambut kawannya. Andi mengangguk mengikuti ucapan Rama.

__ADS_1


Rama menatap Andi yang keluar dari kamarnya, dia menatap dengan lekat dengan tatapan sendu. "Apa sudah saatnya aku pergi?" katanya disertai hembusan napas yang sangat panjang.


__ADS_2