Topeng.

Topeng.
38.


__ADS_3

Tengah hari, Rama yang mengenakan sarung tangan membakar korek dan melempar tak jauh dari area dapur. Dia menyelinap agar tak terlihat mencolok kalau-kalau ada yang kebetulan lewat daerah sini. Baru saja Rama berjalan beberapa ratus meter, api merah menjalar dan mulai melalap apa yang dilewatinya.


"Selamat tinggal! Jangan maafkan aku kalau itu membuatmu mati dengan cepat, aku tak masalah sama sekali?!" katanya sambil sesekali melirik dari kaca spion.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Penyelidikan terjadi, kebakaran tiba-tiba di tempat terpencil dan kumuh seperti itu harus segera ditangani dan diketahui dari mana sumber apinya berasal. Koran dan televisi berkali-kali mengangkat berita tersebut, pelakunya malah duduk santai sambil menyeruput jus, mendengarkan berita yang dibawakan degan wajah tenang.


"Kebakarannya parah, ya Ram? Korbannya aja banyak," ucap Andi prihatin dengan para korban.


Rama mengangguk santai. "Ya," jawab pemuda itu singkat. Rama sedikit penasaran, apa kawannya itu akan tetap merasa prihatin jika tahu orang-orang yang diberitakan itulah yang mencelakai kawannya itu dan neneknya.

__ADS_1


"Singkat banget, sih. Gak prihatin apa?" seru Andi protes mendapat tanggapan singkat dari sahabatnya.


Rama menghela napas panjang, kemudian tersenyum tipis. "Iya, An. Kasihan banget, kebakarannya memakan korban yang lumayan besar, belum lagi kerugiannya, aku gak bisa ngitung semua berapa tepatnya kerugian mereka karena itu bukan punya aku!"


"Huh, nyesel aku protes?!" dengus Andi makin kesal.


"Fu-fu-fu-fu, nenek senang melihat kalian selalu akur dan sangat bersahabat!" sela Nek Lidya melihat kedua cucunya adu mulut tapi sangat akur.


"Kami gak seakur itu, kok Nek Lidya," bantah Andi melirik kesal kawannya.


"Lihat, bahkan saudaramu mengakuinya, An. Masa kamu, gak?!" Nek Lidya menatap Andi dan Rama bergantian.

__ADS_1


Andi mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kami sangat akur, seperti yang Nek Lidya katakan. Kau bahkan tak pernah bertengkar dan saya harap persahabatan kami akan bertahan selamanya," tutur Andi tulus.


Rama menyeringai usil. "Ahh, aku lupa bilang, nek, kalau aku dan Rama itu sangat-sangat akur, tapi hanya dalam 'Mimpi'!" setelahnya Rama terkekeh melihat wajah dongkol kawannya lagi.


"Lihat, kan nek? Itu yang bikin Andi bilang kalau kami gak seakur yang Nek Lidya kira?!" adu Andi menunjuk Rama. Kemudian saling protes dan menjahili pun dimulai di antara kedua kawan itu.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Rama tersenyum kecil saat surat kabar menyatakan kalau ada seorang saksi yang memberikan keterangan bahwa rumah yang tak ditempatinya tiba-tiba disewa oleh seseorang. Ahh, Rama tak mungkin akan seceroboh itu memberi celah pada kejahatan yang dilakukannya. Jika di tempatnya dulu yang terkuat adalah hukum, di sini jauh berbeda. Hukum masih mengikat tangan dan kaki mereka semua dalam bertindak.


Rama berterimakasih kepada anak buah kepercayaan Ponco yang sudah diajaknya bekerja sama, istilahnya dia membeli dengan uang. Jadi Rama bisa meniru penampilan orang itu dan memakai identitasnya saat menyewa tempat itu. Rencana yang tanpa celah, itulah rencana yang dihasilkan oleh otak licik Rama.

__ADS_1


"Sekarang aku hanya harus meneruskan aktingku sebagai cucu yang baik dan membahagiakan nenek! Hingga semua terungkap?!" gumam Rama menunduk sedih. Jika semua harus kembali ke tempat semula, dia akan kehilangan kehangatan yang baru pertama dirinya miliki. Rama bahkan rela melewati neraka jika itu bisa membuatnya terus berperan sebagai cucu di rumah ini tanpa pernah ketahuan kalau dia palsu.


Rama menarik napas panjang. "Semua orang di sekitarku harus bahagia, terlebih nenek dan juga Andi!" katanya sungguh-sungguh. Rama pun memilih mengistirahatkan tubuh dan otaknya, dia cukup lelah saat ini.


__ADS_2