
Ponco, penjahat yang bersembunyi dari mata Rama. Kini dia mulai bergerak dan menargetkan musuhnya. Dirinya masih menganggap Rama sebagai orang yang bisa kapan saja mengambil tempatnya dengan mudah, semudah pemuda itu memberikan tempat itu padanya beberapa tahun yang lalu.
"Lama tidak bertemu bocah!" sapanya menyeringai menatap Rama. Dia tahu Rama kuat, tapi belum tentu orang yang kuat tak memiliki kelemahan sama sekali. Dan dia yakin kalau musuh yang sedang dihadapinya saat ini pun sama.
"Bukankah kita sudah sepakat untuk tak bertemu lagi? Lalu kenapa kamu muncul di depanku, hah?" Rama melipat tangan di dapan dada, menatap angkuh Ponco.
Ponco terkekeh kecil, terdengar sangat menjengkelkan. "Sabar, sabar. Aku hany mengunjungi kawan lama! Ahh, haruskah aku memanggilmu 'Rama' juga? Itu namamu sekarang, kan?"
"Tak ada hubungannya denganmu!" dengus Rama tak suka.
Ponco menarik sebelah bibirnya melihat respon pemuda di depannya ini. "Aku kemarin melihat pemuda kecil yang sering bersama denganmu, dia terlihat lucu dan menggemaskan. Tapi juga terlihat rapuh di saat bersamaan!" pancing Ponco bercerita tentang Andi.
Melihat Rama mengepalkan tangannya, Ponco pun melanjutkan perkataannya. "Bahkan perempuan tua yang tinggal bersama denganmu masih terlihat sangat cantik di usianya saat ini."
__ADS_1
Rama tak lagi bisa membendung emosinya. "Jangan pernah dekati mereka?!" katanya mencengkram leher Ponco dengan kekuatan penuh. "Atau kamu akan tahu akibatnya?!" lanjut pemuda itu menghempas Ponco, seolah perbedaan postur tubuh keduanya bukan apa-apa bagi Rama.
Bukannya takut, Ponco malah terkekeh senang. "Jadi mereka dua orang yang bisa membuat si tanpa nama terlihat seperti manusia, ha? Aku jadi ingin dekat dengan mereka juga?!"
"Dengar, kita tak punya hubungan atau permusuhan apa pun saat ini. Jangan ganggu aku dan aku juga tak akan pernah mengganggu kehidupan kamu! Nikmati kehidupanmu dan kekuasaan yang kamu miliki di sana, biarkan aku menjadi orang biasa di sini?!" desis Rama kesal.
"Semakin kamu menjauhkan diriku, semakin besar keingintahuan yang aku miliki," aku Ponco tak menggubris ucapan Rama.
"Dan bersiaplah untuk menemui penguasa neraka jika kamu bersikeras!" ancam Rama. Pemuda itu meninggalkan Ponco yang terkekeh keras,seolah mengatakan kalau dirinya tak akan berubah pikiran.
Rama menatap ke luar jendela, seharian itu dirinya tak bisa fokus. Bahkan saat di kelas tadi, dia sibuk berpikir cara melindungi nenek dan juga kawannya. Bukannya Rama tak tahu ketakutan Ponco, tapi dirinya tak ada niat untuk kembali. Yah, setidaknya sampai dia ketahuan dan tak punya tempat lagi di sini. Tapi sungguh, dirinya tak memiliki niatan untuk menjadi penguasa lagi di tempat itu. Cukup tak ada yang mengganggunya jika dia kembali,dia tak peduli siapa yang bertarung untuk perebutan kekuasaan.
"Hoi, napa?" Andi menempelkan kaleng minuman dingin yang baru saja dia ambil dari kulkas ke pipi Rama.
__ADS_1
"Apaan?" kata Rama mengambil kaleng minuman tersebut.
"Dari tadi aku perhatiin, kamu ngelamun mulu. Jangan-jangan ...?" Andi menggantung ucapannya, menatap jahil kawannya itu.
"Jangan sok tahu, deh! Pokoknya apa yang sekarang kamu pikirin bukan apa yang lagi aku pikirkan!" kilah Rama.
"Cih, mana tahu kamu gak sadar kalau udah jatuh hati, kan, kan?" desak Andi tak percaya kalau tebakannya salah.
"Gak ada waktu, aku harus jadi pelindung buat nenek dan kamu?!" aku Rama cepat.
"Hoi, hoi, apa-apaan itu? Dikira aku masih bocah yang perlu dilindungi, kita ini seumuran kawan. Jadi seharusnya kita bekerja sama untuk melindungi Nek Lidya dan juga saling melindungi sebagai sahabat karib?!" ralat Andi tak terima kalau hanya dia yang mendapat perlindungan, lalu siapa yang akan melindungi kawannya.
"Serah kamu!" ketus Rama, tapi sudut bibirnya terangkat senang.
__ADS_1
...°°°°°...
...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...