
Berbicara tentang pesta ulang tahun yang akan diselenggarakan untuk Andi, pemuda itu mendesah lelah. Dirinya akan kerepotan sendiri, pasalnya sang nenek menyetujui pendapat kawannya, si Rama. Andi harus menjadi pangeran bersinar di hari itu, bisa Andi lihat tawa mengejek tersungging di wajah kawannya secara sembunyi-sembunyi hari itu. Sayangnya kawannya terlalu pintar mengatur ekspresi di depan sang nenek, jadi Nek Lidya tak melihat ekspresi kawannya sama sekali.
Nek Lidya memutuskan pesta tersebut diadakan seminggu kemudian, itu pun Andi yang mengundur dari waktu yang pertama ditetapkan sang nenek. Bayangkan, hanya tiga hari dari sekarang, terpaksa Andi meminta waktu lebih, dia merasa kasihan pada pelayan yang harus bekerja lebih keras. Rama sama sekali tak membantu, pemuda itu malah tersenyum tipis melihat kawannya kesusahan.
Andi menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. "Seneng banget kayaknya liat sahabat sendiri kebingungan," dengus Andi kesal.
"Apa terlihat jelas?" timpal Rama sambil tersenyum mengejek.
"Astaga, Ram, dosa apa sih aku tuh punya sahabat kayak kamu?" desah Andi mengeluh.
"Hmm, mungkin kamu punya utang yang belum lunas di kehidupan sebelumnya?" tebak Rama asal.
"Gak mungkin, aku ini anak baik, rajin menabung, gak mungkin gak bayar utang, Ram," dengus Andi tak terima.
"Sensi amat, sih? Kan cuma bercanda, An," balas Rama santai.
"Kamu, sih, gak bantuin aku tadi," keluh Andi menyalahkan Rama.
"Nikmati aja, An. Kapan lagi kamu bisa jadi tokoh utama?!" kekeh Rama, Andi pun tambah kesal dibuatnya.
"Heh, ntar kalau giliran kamu dah datang, aku bakalan ketawain juga, liat aja?!" dengus Andi dengan wajah bertekuk kesal.
"Iya, iya, silakan aja. Lakukan semau-mu, sobat," timpal Andi.
Kedua pemuda itu sejak tadi sudah ditinggal sang nenek, Nek Lidya menyibukkan diri untuk mengatur ini dan itu untuk pesta ulang tahun Andi. Makanya keduanya bisa beradu mulut secara terbuka, kalau ada sang nenek, mereka tak akan seperti itu.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Seminggu berlalu dengan cepat, Andi sudah sibuk sejak pagi. Saat baru bangun, sudah ada lebih dari sepuluh pelayan yang berdiri di sekelilingnya. Kaget tentu saja, tapi pemuda itu tak punya waktu untuk protes. Air mandi yang disiapkan dengan campuran wewangian yang, ah, sudahlah, jangan dibicarakan. Andi sendiri pusing hanya dengan mencium baunya, apa daya, Andi harus menuruti dan melakukan apa pun yang telah disiapkan.
Rama yang memakai kemeja santai berlengan panjang, pemuda itu menggulung lengan kemejanya hingga ke atas siku. Andi menatap iri pakaian yang dipakai sahabatnya, dia membandingkan dengan apa yang dirinya sedang kenakan saat ini. Ha-ah, terlalu banyak, bahkan kalau bisa pemuda itu akan menolak mengenakan pakaian seperti ini.
"Kenapa tuh muka? Kusut amat?" sindir Rama bersandar di dinding.
Andi berdecih kesal. "Jangan tanya!" ketus Andi kesal. Pasalnya dia sangat yakin sobatnya ini tahu kenapa dirinya cemberut, tapi tetap saja bertanya untuk mengejek dirinya.
"Ha-ha-ha, oke, oke, sorry. Btw, mau buka hadiah dari aku sekarang apa nanti?" Rama menggoyangkan tangannya yang memegang kotak berukuran persegi kecil.
Mata Andi berbinar senang melihat hadiah yang disiapkan kawannya, ya, walau dia belum tahu apa isinya. "Sekarang!" ucapnya penuh semangat. Rama kembali terkekeh pelan, pemuda itu melemparkan kotak yang dari tadi dia pamerkan ke arah sahabatnya. "Selamat ulang tahun, kawan. Selamat menua?!" katanya dengan nada bercanda.
Andi mengangguk penuh haru, meski mendengar ejekan kawannya, baginya itu tak masalah sama sekali. Kawannya menyiapkan hadiah untuknya, itulah yang paling penting. "Tuan muda, tolong jangan banyak bergerak. Masih banyak yang harus kami kerjakan?!" tegur salah satu pelayan yang sedang menata rambut Andi, dia sedikit kesusahan karena tuan muda mereka bergerak terus sejak tadi.
"Baiklah, aku akan diam seperti patung kali ini hingga kalian selesai!" timpal pemuda itu. Dia menggenggam hadiah yang diberikan kawannya dengan erat, seolah takut hilang kalau dilepas meski hanya sesaat.
"Gak pengen tahu isinya apaan, hmm?" Rama mulai sedikit usil, berusaha membuat kawannya untuk tetap bergerak.
"Nanti aja, kasihan mereka pada sibuk?!" balas Andi menatap kawannya dari pantulan cermin.
"Tuan muda tak ingin sekalian dirias? Kami bisa merias anda berdua!" tawar salah satu pelayan sambil menatap Rama.
"Lebih baik tidak, biarkan tokoh utama bersinar dengan terang. Pelengkap tak boleh menyaingi sinar sang tokoh utama hari ini!" balas Rama serius, dia menolak tawaran untuk dirias. "Aku akan menunggu di sini hingga selesai," lanjut Rama. Dia duduk dengan santai sambil membuka-buka halaman majalah.
Dua jam kemudian, Andi telah selesai dirias. Wajahnya memang terlihat lebih bersinar, didukung dengan set jas yang mewah, menambah kesan tampan dan manis untuk pemuda satu ini. Sayangnya Andi terlalu lelah, untuk tersenyum saja dia tak bisa. Seolah tenaganya telah habis dipakai untuk bersiap selama lebih dari enam jam penuh. Jangan pernah ada pesta lagi untuknya ke depan, Andi akan menghindar sebisa mungkin. Biar saja dia tak bersinar, daripada tenaganya habis tersedot tak tersisa.
"Ayolah. senyum kawan?!" ucap Rama mengingatkan. "Jadilah raja untuk hari ini!" lanjut pemuda itu menyemangati.
__ADS_1
"Bahkan untuk berperan pun aku sudah tak memiliki tenaga, Ram!" keluh Andi dengan suara sangat pelan.
"Ho-ho, benarkah?" Rama menaikkan sebelah keningnya ke atas. "Hmm, coba buka hadiah dariku tadi," lanjut pemuda itu menatap kawannya dengan sungguh-sungguh.
Andi menegakkan punggungnya meski terlihat ogah-ogahan. Tangannya membuka bungkus kado yang menutupi semua sisi kotak kado yang diberikan sahabatnya. "Wow!" pekik Andi dengan mata berbinar. "Seriusan ini buat aku?!" tanya pemuda itu memastikan hal yang semestinya tak perlu ditanyakan lagi.
Rama mengangguk mengiyakan. "Tentu," balasnya. "Kecuali kamu tak mau," imbuh Rama menjahili kawannya.
"Mustahil! Gak mungkin aku gak mau, ini bagus banget, astaga, makasih, Ram?!" semangat berkobar dari pemuda yang tadi menyatakan kalau tenaganya tak bersisa sedikit pun.
"Coba kita lihat, apakah cocok dengan 'Pangeran bunga' kita ini? Ayo, cepat coba pakai?!" kata Rama.
Andi mengangguk, memakai dengan cepat jam tangan yang diberikan kawannya. Jam yang hanya bisa didapat setelah memesan beberapa bulan sebelumnya, itu artinya sobatnya ini telah menyiapkan hadiah untuknya dari jauh hari. Ahh, dia makin sayang dan terharu pada sahabatnya satu ini. "Bagus, gak?" tanya Andi berpose memamerkan jam di tangannya.
"Tentu," balas Rama yang ikut-ikutan bergaya seperti sahabatnya.
"Kita kembar, Ram?" pekik Andi tak percaya.
"Ngapain pesan satu kalau bisa lebih, lagian sama aja ribet-nya," timpal Rama enteng.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Keduanya pun segera turun bersama, tak ingin menunda dan membuat para tamu yang diundang menunggu. Meski tak memiliki teman dekat, Andi mengundang semua kawan di kelas yang dia ikuti. Jadinya, cukup banyak kawan sekampus mereka yang datang. Belum lagi kenalan sang nenek dan almarhum kakeknya, semua mengucapkan selamat pada Andi.
"Kalian berdua lama?!" tegur si nenek berbisik pelan.
"Maaf, nek, Andi demam panggung tadi," balas Rama menyembunyikan senyum mengejek di balik gelas yang sedang dipegangnya.
"Bohong, Nek Lidya. Jangan percaya apa yang dikatakan Rama!" kilah Andi cepat. "Aku dipermak abis-abisan, nek, makanya lama!" lanjut pemuda itu menjelaskan.
"Kapan aku begitu?" tanya Rama dengan wajah polos tanpa dosa.
"Lidya, apa kabar? Terima kasih sudah mengundang kami ke pesta ulang tahun cucumu yang tampan ini?!" sebuah suara menyela ketiga orang yang sejak tadi sibuk saling berbisik.
"Ho-ho, Rian, senang bertemu denganmu! Terima kasih sudah datang," balas Lidya yang senang bertemu kenalan lamanya.
"Haruskah kita ke tempat lain? Aku takut cucu-cucu kita akan bosan kalau berkumpul dengan kita," kata Rian mengajak Lidya untuk pindah tempat, memberi kesempatan bagi anak muda untuk saling lebih mengenal.
"Baiklah kalau begitu. Rama, Andi, kalian berdua temani Kiara. Dia sudah seperti cucu nenek sendiri, yang artinya kalian itu bersaudara!" pesan Nek Lidya sebelum beliau pergi.
"Selamat ulang tahun, ini buat kamu. Makasih sudah diundang, ya!" ucap Kiara setengah enggan. Kalau bukan karena kakeknya, mana sudi dia hadir di sini dan ketemu lagi dengan makhluk sombong yang membuatnya jengkel setengah mati.
"Makasih, ya," balas Andi menggaruk pipinya canggung. Dia tak kenal dengan gadis di depannya ini, jadi dia bingung harus menanggapi seperti apa.
"Namanya Kiara," bisik Rama yang melihat kawannya canggung.
"Ngapain lo bisik-bisik? Awas aja kalau nyeritain gue?!" ketus Kiara mendengus kesal.
"Eh, bukan, kok, bukan. Rama cuma ngasih tahu aku siapa nama kamu aja, udah!" jelas Andi tak ingin sahabatnya dapat masalah.
"Memangnya gak bisa nanya sendiri apa?" ketus Kiara menutupi malu karena sudah salah tuduh.
"He-he, saya malu kalau nanya-nanya padahal gak kenal. Nanti yang ditanya malah mikir aneh-aneh," balas Andi jujur.
"Gak masalah," balas Kiara singkat. "Aku pergi dulu, ya. Masih banyak tuh yang mau ngucapin selamat, tapi gegara aku di sini mereka gak ke sini," lanjut gadis itu sambil menatap sekitar.
__ADS_1
"Oke, sekali lagi makasih, ya untuk hadiahnya Kiara," balas Andi dengan wajah penuh senyum.
"Awas otot pipimu kaku ntar gara-gara senyum kelebaran!" bisik Rama setengah mengejek kawannya.
"Sirik aja, sih. Senyum juga sana kalau mau!" timpal Andi cemberut.
"Ogah, aku gak senyum aja banyak dapat pernyataan suka, apalagi kalau pameran senyum, bisa-bisa pangeran kita lengser dari tahtanya," balas Rama terdengar menjengkelkan.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
"Cucumu cantik sekali, Rian?" puji Nek Lidya. Kini keduanya sedang duduk di rumah kaca, tak jauh dari tempat pesta diselenggarakan.
"Justru cucumu yang terlalu tampan, Lidya!" timpal pria tua itu memuji Rama.
"Kalau itu aku tak akan menampiknya, Rama memang sangat tampan dan Andi tampan sekaligus manis." wajah nenek tua itu berseri ceria saat membicarakan tentang cucunya.
"Beberapa waktu lalu aku meminta Dani untuk mempertemukan cucu-cucu kita, sayangnya cucuku sepertinya akan menolak kalau aku menjodohkan mereka. Makanya aku diam saja dan tak memaksa, membiarkan semuanya mengalir. Yah, kalau jodoh mereka berdua pasti akan bersama!" aku Rian membicarakan tentang Kiara dan Rama.
"Ahh, biarkan saja anak-anak mencari pasangan yang mereka sukai. Tugas kita hanya memperhatikan dan memberi restu, Rian!" balas Lidya yang memasrahkan semuanya pada goresan takdir.
Rian dan Lidya terus berbincang, sesekali mereka berdua mengenang masa yang telah mereka lewati. "Ha-ah, ternyata kita sudah setua ini, ya, Lidya?" Rian mendesah panjang menghitung kira-kira berapa sisa umur yang dimilikinya untuk menemani cucunya yang manja.
"Cucumu saja sebesar itu dan kamu baru sadar sekarang kalau sudah tua? Dasar kakek yang aneh?!" celetuk Lidya. Bukannya marah, Rian malah tertawa keras. "Kamu benar, aku aneh!" aku pria tua itu.
"Tapi kalau memikirkan umur kita yang sudah tua, aku malah menghitung berapa lama sisa yang bisa kulewati bersama cucuku, Lidya," desah si kakek mengeluh.
"Kamu kira aku tak pernah berpikir seperti itu, bahkan setiap malam aku meminta untuk diperpanjang umurku, bukan karena aku tak bisa meninggalkan dunia ini, tapi karena aku takut meninggalkan cucu-cucuku yang masih kecil!" bagi orang tua, kakek dan nenek, seorang anak dan cucu tetaplah dianggap masih kecil, terlepas seberapa banyak usia yang dimiliki oleh cucu mereka. Begitu pun Kakek Rian dan Nenek Lidya, keduanya tetap menganggap cucu mereka masih bocah padahal sudah remaja dan menginjak usia dewasa di masyarakat.
"Setidaknya aku bisa pergi kalau mereka sudah menemukan kebahagiaan untuk diri mereka sendiri, sehingga mereka tak akan merasa terlalu bersedih ketika saatku tiba," lanjut Lidya. Rian mengangguk setuju, itu juga yang dirinya inginkan. Setidaknya sebelum dia pergi, cucunya telah menemukan tempat untuk bersandar selain dirinya yang sudah renta ini.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Acara ulang tahun Andi berlangsung dengan meriah dan lancar hingga akhir, kini pemuda itu terbaring kelelahan karena menerima banyak ucapan dari undangan yang datang. Kado-kado menumpuk di belakang dibiarkan tanpa dibuka, pemuda itu memilih beristirahat dulu baru setelahnya mengurus kado-kado tersebut.
"Yo," sapa Rama main nyelonong masuk ke kamar kawannya. Andi tak menjawab, hanya mengangkat sebelah tangannya sebagai tanggapan.
"Minum, nih!" Rama menyodorkan minuman hangat pada sahabatnya.
"Taruh aja dulu, sumpah aku gak punya tenaga lagi, Ram," keluh Andi yang terlalu malas menggerakkan tubuhnya.
"Ya, makanya minum ini, pasti lumayan lah kalau udah dihabisin," ucap Rama setengah memaksa, kasihan melihat sahabatnya sekarat karena rasa lelah.
Dengan susah payah Andi bangkit dan duduk, pemuda itu menjulurkan tangannya tanpa tenaga. "Thanks, kawan," katanya lemah.
"Itu nenek yang buatkan, jadi habiskan sampai tetes terakhir!" Andi mengangguk cepat.
"Ram, bantuin buka kado, yuk," ajak Andi setalah menghabiskan minuman yang dibawakan sahabatnya tanpa tersisa.
"Ogah, hadiah, ya hadiah kamu. Masa harus aku yang bukain," tolak Rama cepat.
"Bantuin lah, kalau sendirian, seminggu pun gak akan selesai ini," bujuk Andi menunjuk tumpukan hadiah yang menggunung di pojokan kamarnya.
"Ayolah, ya, ya, ya? Bantuin kawanmu ini?!" pinta Andi memasang tampang memelas. Rama menghela napas panjang, menyuruh pelayan membawa kembali gelas kosong tadi, sedangkan dirinya tinggal di kamar kawannya untuk membantu kawannya itu membuka kado-kado yang dia dapatkan. Gak kebagian isinya, ya gak apa-apa. Yang penting bisa buka kotaknya lah. Tapi walau kawannya memberikan salah satu di antara semua kado yang ada, dia tak akan menerima. Karena itu semua untuk kawannya yang sedang berulangtahun.
...°°°°°...
__ADS_1
...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...