Topeng.

Topeng.
13.


__ADS_3

Rama membawa nampan berisi satu poci teh dan beberapa jenis cemilan yang sudah disiapkan pelayan. Begitu sampai di depan pintu kamar sang nenek, sekarang giliran Andi yang mengetuk pintu kamar di depan mereka itu.


"Nek Lidya, saya dan Rama datang untuk melihat nenek!" ucap Andi setelah mengetuk pintu kamar Nek Lidya beberapa kali.


"Kami berdua membawa teh, nek!" sambung Rama cepat.


"Nek, tangan saya lumayan pegel membawa nampan dari tadi, nek," adu pemuda tanggung itu bersikap sedikit manja agar sang nenek merasa kasihan padanya.


Pintu kamar Nek Lidya terbuka sedikit. "Seharusnya kamu istirahat saja, Rama. Tak usah pedulikan perempuan tua ini, biarlah nenek bersedih sehari ini saja." air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

__ADS_1


"Bagaimana bisa Rama beristirahat, sedangkan nenek menangis sendirian di sini, ya kan, An?" balas Rama penuh perhatian.


"Benar, Nek Lidya. Kami di sini sebenarnya untuk mengurangi kesedihan kami juga. Terlebih saya, saya takut kalau saya di kamar sendirian, saya pasti menangis. Bisa-bisa Rama mengejek saya selama setahun penuh, nek!" jawab Andi panjang lebar.


Nek Lidya akhirnya luluh, mengizinkan Rama dan Andi untuk masuk ke kamarnya. Rama mengusap air mata yang mengalir di pipi sang nenek. "Nek ... kakek pasti akan sedih kalau tahu nenek terus-menerus menangis seperti ini." untuk kali ini Rama berkata dengan tulus, tanpa berakting sama sekali. Dia merasa sedih untuk pertama kalinya dalam hidupnya. Meski Rama tahu kalau Kakek Surya memanfaatkan dirinya untuk menjadi perisai bagi cucu aslinya, Andi. Tak ada kemarahan yang dirasakan di hatinya, mungkin karena dia juga memanfaatkan keadaan untuk berpura-pura menjadi cucu pemilik rumah ini, makanya dia hanya sedikit terkejut saat sang kakek mengungkapkan yang sebenarnya pada dirinya. Bahkan pria tua itu meminta maaf dengan sungguh-sungguh.


"Hu-hu-hu-hu, kakekmu, Ram, kakekmu. Bisa-bisanya dia meninggalkan nenek lebih dulu, nenek sendirian sekarang, Ram." Isak tangis kembali pecah, keluhan hati si nenek tua akhirnya termuntahkan juga.


"Kalian pasti akan sibuk?!" keluh wanita tua itu masih terisak.

__ADS_1


Rama menarik sudut bibirnya ke atas. "Kami akan meluangkan waktu untuk nenek, walau kami sangat-sangat sibuk, kami akan menemani nenek meski hanya untuk satu jam. Hmm, atau sekitar setengah jam paling sedikitnya!"


Andi mengangguk membenarkan ucapan Rama. "Kami akan bergantian menemani nenek kalau kami terlalu sibuk, Nek Lidya!" lanjutnya menambahkan janji kawannya.


Akhirnya karena bujukan kedua orang pemuda yang membuat sang nenek terhibur, Nek Lidya mau juga menyantap beberapa makanan yang dibawa Rama tadi. Pelayan yang mengetahui hal itu pun menghembuskan napas lega, majikan mereka tak terlalu terpuruk dalam kesedihan yang mendalam untuk waktu yang lama. Beruntung ada kedua tuan muda yang sangat baik hati dan perhatian kepada nyonya mereka.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Rama dan Andi kembali ke kamar mereka masing-masing, ram duduk termenung di atas tempat tidurnya. "Terima kasih karena tetap menyimpan semua dari nenek, meski anda tahu yang sebenarnya, kek," gumam Rama pada dirinya sendiri. Ya, Kakek Surya membawa rahasia yang beliau ketahui hingga liang lahat. Laki-laki tua itu bahkan tak menceritakan pada istrinya sendiri.

__ADS_1


Rama menghela napas panjang, dia tak tahu apa alasannya. Namun, dia cukup bersyukur dengan pilihan dan kakek. "Lebih baik aku beristirahat sekarang!" Rama merebahkn tubuhnya, tak lama kemudian, pemuda itu pun jatuh dalam tidurnya.


__ADS_2