Topeng.

Topeng.
71.


__ADS_3

Rama sering mengunjungi Ponco, pria itu tak lagi merasa terganggu dengan kehadirannya. Rama sendiri sudah membuat perjanjian yang membuat Ponco percaya kepadanya, bahwa dia tak akan mengambil kembali tempatnya dulu. Lagi pula dia memiliki tanggung jawab lebih saat ini, tanggung jawab untuk meneruskan wasiat, serta menjaga sahabatnya hingga akhir hidupnya. Kalau perlu hingga mereka berdua memiliki keluarga masing-masing nantinya.


"Habis dari mana, Ram?" tanya Andi yang sengaja menunggu kedatangan Rama di depan.


Rama menoleh singkat. "Nyari angin," jawab Rama singkat.


"Harusnya kamu ngajak aku tadi," keluh Andi dengan wajah cemberut.


"Lain kali, oke?" balas Rama menatap temannya sambil tersenyum tipis. "Kamu sudah sarapan?" tanya pemuda itu mengalihkan percakapan.


Andi mengangguk cepat. "Udah dari tadi," kata Andi menimpali. Mata Andi menyipit menatap ke arah sahabatnya. "Jangan bilang kamu belum?" tanya pemuda itu curiga.


"Udah tadi," aku Rama menatap ke lain arah.


"Seriusan?" tanya Andi tak percaya.


Rama tersenyum tipis sambil mengangguk pelan. "Serius," kata pemuda itu menimpali. Keduanya berjalan bersama ke dalam sembari.salimg melempar pertanyaan atau hanya sekedar mengobrol saja.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Tengah hari lewat, Kiara datang dengan tampang kusut ke rumah Andi. Sejak dia datang, gadis itu sama sekali tak membuka suaranya dan hanya menghela napas berkali-kali. "Keberuntungan kamu ntar habis, Ra, kalau kamu menghela napas begitu terus," tegur Andi yang tak tahan melihat kawannya itu terus menghela dan menghela napas.


"Hmm," gumam Kiara menanggapi, gadis itu terlihat tak berdaya, bahkan meski hanya untuk membalas ucapan kawannya.


"Ada masalah di rumah?" tanya Andi lagi, dia mencoba menebak kenapa temannya itu diam saja sejak datang.


"Kamu tahu?" tanya Kiara dengan nada lirih.


"Gak, kamu kan belum cerita apa-apa, gimana aku bisa tahu?" celetuk Andi secara spontan.


"Dengar dulu napa!" keluh Kiara cemberut.


"Iya, iya. Sorry, reflek ngejawab tadi," aku Andi nyengir lebar.


"Huh," dengus Kiara membuang muka.


"Jadi cerita, gak?" tukas Rama dengan nada datar, pemuda itu bertanya tanpa menatap Kiara, dia bahkan masih tetap fokus membaca majalah.


"Aku gak nyangka kamu ternyata perhatian juga, Ram," kata Kiara menatap hari Rama.


Rama mendengus pelan. "Jangan salah sangka, aku hanya kasihan pada Andi yang menunggu kamu cerita," aku pemuda itu berkilah.


"Ahh, padahal aku baru aja ngerasa sedikit baikan karena tahu kalau orang sedingin kamu juga bisa peduli sama aku," keluh Kiara memasang tampang sedih. Rama hanya bergumam, malas menanggapi sahabatnya yang satu ini.


"Jadi kamu kenapa, Ra?" tanya Andi sekali lagi.


"Aku dijodohin," aku Kiara jujur, tampang gadis itu terlihat tak suka dan jutek. "Lebih parahnya lagi, aku gak tahu siapa dan bagaimana orang itu," lanjut gadis itu menambahkan.


"Ahh, aku turut berduka. Tapi selamat kawan," timpal Andi ikut prihatin tadi juga memberi selamat.


"Bantuin, kek!" keluh Kiara dengan wajah cemberut. "Biar perjodohannya gagal!" lanjut gadis itu kesal.


"Anggap aja jodoh kamu, gak mungkin Kakek kamu milih sembarangan untuk cucunya, kan?" sela Rama dengan santainya.


"Enak banget ngomongnya, kenapa gak kamu aja yang nerima semua cewek yang dikenalkan sama kamu?" kata Kiara mendengus kesal mendengar ucapan Rama. Giliran sahabatnya itu yang dijodoh-jodohkan, dianya gak mau. Sekarang dengan entengnya, pemuda itu malah bilang jalani aja, siapa tahu emang jodoh. Luar biasa sekali sahabatnya itu, luar biasa menjengkelkan maksud Kiara.


Rama mengangkat bahu acuh. "Bukan kakek nenek aku yang mengenalkan mereka. Lagian, aku gak bakat jadi playboy," balas Rama dengan wajah datar yang terlihat menjengkelkan.


"Terus kamu gak protes?" tanya Andi mengalihkan perhatian Kiara agar tak semakin kesal karena sahabat mereka, Rama.

__ADS_1


"Udah, tapi gak berhasil sama sekali. Kakek aku tetep kekeuh ngejodohin aku sama tuh orang!" dengus Kiara mengeluh.


"Coba temui aja dulu, Ra. Siapa tahu cocok?" ucap Andi memberi saran.


"Pintar," sela Ra memberi pujian untuk kawannya, Andi.


"Dan kalau ternyata aku tetep gak suka, gimana?" tanya Kiara dengan nada ragu.


"Tinggal bilang aja kalau kamu gak cocok. Aku yakin kakek kamu gak akan memaksa sampai segitunya," kata Andi dengan nada yakin.


Kiara tampak.berpikir dengan serius, gadis itu tak lama mengangguk setuju dengan saran sahabatnya. "Oke, akan kucoba!" kata gadis itu memutuskan. "Tapi kalau gak berhasil, salah satu dari kalian harus membantu aku menggagalkan perjodohan ini!" lanjut Kiara menatap kedua kawannya bergantian.


"Jangan hitung aku! Aku tak memiliki waktu untuk hal seperti itu!" kata Rama menolak. "Biar si Jo saja yang menggantikan aku!" lanjut pemuda itu dengan nada datar.


Andi menatap serius Rama. "Tapi seriusan, loh, Ram. Kalau kamu bantuin Ara, pasti orang yang dijodohkan sama Ara mundur tanpa perlawanan!" tukas Andi yakin.


Kiara mengangguk setuju. "Betul itu," timpal Kiara menanggapi. "Lagian aku juga pernah bantuin kamu, jadi kamu juga bisa bantuin aku, lah, plisss," pinta Kiara dengan tatapan memohon.


"Gak!" tolak Rama dengan tegas. "Aku gak suka masalah selanjutnya yang akan ditimbulkan!" lanjut pemuda itu dengan nada dingin.


"Masalah apa?" tanya Andi tak paham.


"Kakek aku pasti minta penjelasan dan Rama harus tanggung jawab karena menggagalkan perjodohan yang beliau atur," kata Kiara menjelaskan, dia yang paling tahu bagaimana kakeknya.


"Dan itu yang menjadi masalahnya!" timpal Rama membenarkan ucapan Kiara.


"Ahh, aku mengerti," tukas Andi mengangguk paham. "Kalau gitu, mogok makan aja, Ra!" kata pemuda itu memberi saran yang lain.


"Apa bisa berhasil?" tanya Kiara ragu.


"Mungkin?" ucap Andi tak yakin. "Bukankah patut dicoba?" lanjut pemuda itu balik bertanya.


"Apa aja, terserah kamu, Ra!" timpal Andi. "Mogok makan, oke! Mogok bicara, gak masalah! Mogok apa aja yang penting kamu kuat jalaninnya!" lanjut pemuda itu.


Kiara berpikir sejenak. "Mogok makan sama aja puasa, dan aku benci harus menahan lapar," gumam gadis itu pelan. "Kalau mogok ngomong, pasti bakalan berhasil andai aja aku punya bakat pendiem kayak Rama," lanjut gadis itu melirik sahabatnya yang masih tenang membaca majalah. "Ahh, kurasa gak akan ada yang berhasil," kata Kiara putus asa.


Rama menutup majalah yang dia baca sejak tadi. "Coba bicara lagi sama kakekmu, dan katakan kamu belum mau tunangan, nikah, atau dijodohkan!" kata pemuda itu dengan nada datar sambil menatap lurus Kiara.


"Nah, itu kayaknya solusi yang paling aman!" kata Andi menimpali. "Kakek kamu pasti bakalan mendengarkan keluhan cucunya!" lanjut pemuda itu yakin.


Kiara menarik napas panjang dan menghembuskan napasnya dengan perlahan. "Baiklah, akan kulakukan!" kata Kiara disertai senyum tipis. Wajahnya tak kusut seperti sebelumnya lagi. Memang memiliki teman itu adalah yang terbaik, kita bisa bertukar pikiran dan saling bicara. Yah, asal temannya baik dan tak mencari keuntungan saja.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Jonathan yang tak memiliki pekerjaan dan hanya mempunyai banyak waktu luang, memutuskan untuk berkunjung ke rumah sahabatnya. Dengan banyak kantongan belanjaan berisi makanan ringan dan minuman dingin, pemuda itu datang dengan tampang ceria. "Hallo, hallo. My friends, aku datang!!!" katanya begitu dia turun dari mobil. Dengan langkah lebar, si Jo pun masuk ke rumah Andi dan Rama setelah dipersilakan oleh pelayan yang membukakan pintu untuknya.


"Loh, ada Ara juga di sini?" tanya si Jo menunjuk Kiara yang duduk tak jauh dari tempatnya berdiri. "Udah lama? kenapa gak ngajak-ngajak kalau ke sini? Kan kita bisa barengan tadi kalau kamu ngajakin aku?!" celoteh si Jo bawel melempar banyak pertanyaan.


"Aku malas ngajak kamu! Aku lagi kesel tadi! Dan aku gak mau semakin kesel dengerin ocehan kamu yang bawel!!!" jelas Kiara menjawab dengan ketus.


"Teganya?" kata si Jo memasang tampang terluka, tapi sedetik kemudian pemuda itu langsung mengubah ekspresi wajahnya. "Kita juga ketemu di sini biar kamu gak ngajakin aku!" lanjut pemuda itu dengan wajah ceria.


"Udah, udah!" lerai Andi menengahi. "Duduk di mana aja yang kamu suka, Jo!" kata pemuda itu mempersilakan kawannya untuk duduk, soalnya dari tadi Jonathan terus berdiri sambil mengoceh.


"He-he, thanks, An," timpal pemuda itu duduk si sembarang kursi yang ada di dekat tempat dia berdiri tadi. "Btw, nih aku bawakan cemilan dan minuman dingin!" ucap pemuda itu menyodorkan kantong belanjaannya.


"Harusnya gak usah repot-repot, Jo," kata Andi menanggapi. "Tapi makasih, deh. Besok-besok lagi, ya!" kekeh pemuda itu dengan niat bercanda.


"Tenang aja, bisa diatur!" timpal si Jo ringan. "Di mana kalian nyari tamu kayak aku, bukannya minta disuguhkan makanan, tapi malah bawakan makanan!" lanjut pemuda itu cengengesan.

__ADS_1


"Kamu!" kata Rama singkat menatap lurus si Jo.


"Huh?" gumam si Jo tak paham.


"Maksud Rama, ya kamu tamunya!" jelas Andi menyela. "Jadi gak usah nyari-nyari lagi!" lanjut pemuda itu lagi.


"Oh," ucap si Jo membulatkan mulutnya sambil menganggukkan kepalanya, dia mengerti apa yang dijelaskan oleh Andi barusan.


Keempat anak muda itu pun mengabiskan waktu bersama, Andi mengatakan kenapa Kiara berakhir ke tempat mereka. Pemuda itu menceritakan semuanya, Jonathan ingin membantu, tapi Kiara tak ingin merepotkan sahabatnya kalau memang dia bisa berunding dengan kakeknya sekali lagi.


Rama memilih diam saja, pendiam itu hanya mendengarkan tanpa niat ikut campur sedikit pun. Masalahnya sudah selesai, dia tak lagi dikenalkan dengan niat terselubung sebagai perjodohan. Rumor tentang dirinya yang tak bisa melupakan cinta pertamanya menyebar luas di kantor. Hingga para petinggi di kantornya tak memiliki niat lagi untuk mengenalkan keluarga mereka kepadanya. Hari-hari pemuda itu sudah tenang dan damai, jadi dia tak ingin mencari masalah lagi. Jangan sampai dia harus direpotkan dengan perjodohan yang tak bisa dia tolak. Lagi pula mereka berempat masih muda, jalan yang mereka lalui pun masih terbentang dengan panjangnya. Jadi tak ada niat di hati Rama untuk terikat dalam hubungan yang lebih dalam atau bisa dikatakan membina keluarga. Pemuda itu masih ingin menikmati masa mudanya dengan bekerja keras, dia juga ingin meluaskan sayap bisnis yang diberikan oleh sang kakek. Kawannya sama sekali tak mau saat Rama meminta Andi mengurus perusahaan, Andi malah mengatakan kalau dia akan membantu masalah hukum saja. Andi juga mengaku tak memiliki bakat tajam untuk menilai rekan bisnis yang bisa dipercaya. Makanya tetap Rama yang terus menjalankan perusahaan kakeknya, bahkan setalah dia mengakui semuanya pada sahabatnya.


"Woi, melamun aja!" pekik si Jo menyenggol Rama. "Mikirin cinta pertama kamu, ya?" kekeh pemuda itu mengusili kawannya.


Rama tersenyum simpul menatap Jonathan. "Gak," jawab Rama singkat. "Aku lagi mikirin kamu, Jo!" lanjut pemuda itu memiringkan kepalanya sedikit, dia sedang balas menjahili Jonathan.


"Aisshh, Ram, Ram, nyebut, Ram!" kata Jonathan, wajahnya terlihat pucat seketika. "Merinding, nih denger kamu bilang begitu!" lanjut pemuda itu menggosok-gosok lengannya. Si Jo menatap takut pada Rama.


Rama menyeringai kecil. "Bercanda!" katanya menatap lurus si Jo.


"An, tolongin aku, dong," kata si Jo menatap memelas Andi. "Si Rama mau nerkam aku, tuh!" keluh pemuda itu menatap takut-takut sahabatnya, Rama.


"Rama cuma bercanda, Jo. Candain aja balik!" timpal Andi jahil. "Kalau berani, tapi?!" kata pemuda itu terkikik geli. Kiara ikutan menertawakan nasib Jonathan yang niatnya menjahili malah balik dijahili.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Kiara dan Jo pamit sebelum hari berganti malam, keduanya memilih pulang untuk makan malam di rumah masing-masing. Kiara juga ada perlu dengan kakeknya, gadis itu ingin membicarakan perjodohan yang diatur sang kakek. Kalau tak bisa menolak, Kiara berniat menunda hingga dia mencapai umur dua puluh lebih. Tinggallah Rama dan Andi berdua saja di rumah sebesar itu, tapi keduanya tak pernah merasa sepi. Ada saja yang mereka bicarakan, ya meski Rama tentunya menanggapi seadanya. Tapi itu bukan masalah bagi Andi, yang penting dia tahu kalau Rama selalu menanggapi apa yang dia katakan.


Begitu sampai di rumahnya, Kiara pun segera masuk ke ruang kerja sang kakek. Katanya saja ruang kerja, padahal di sana lebih mirip perpustakaan mini sebenarnya. "Kakek, Ara mau bicara!" kata Kiara tegas menatap sang kakek dengan berani.


Si kakek mendongak, balas menatap lurus cucunya. "Bicaralah, waktumu hanya lima menit!" kata si kakek menimpali.


"Ara gak mau dijodohkan!" ungkap Kiara jujur.


"Kita sudah membahas itu sebelumnya!" dengan sang kakek tetap keras pada pendiriannya.


"Setidaknya tidak untuk sekarang, kek!" lanjut Kiara tak mengubah ekspresi wajahnya.


"Lanjutkan kata-kata kamu, nona muda!" timpal sang kakek menempatkan cucunya seakan-akan cucunya itu orang lain.


"Kalau memang kakek tak bisa membatalkannya, maka tunda sampai umur Ara cukup!" pinta Kiara dengan wajah serius.


"Huh, umur kamu sekarang pun menurut kakek sudah cukup!" dengus si kakek menimpali.


"Tunggu sekitar lima atau enam tahun lagi, kek!" timpal Kiara cepat.


"Kalau kamu kakek jodohkan sekarang, lima atau enam tahun lagi kakek akan bertemu dengan cicit kakek tahu?!" balas si kakek tak setuju.


"Tapi setidaknya Kiara udah lebih dewasa, Ara juga bakalan lebih sabar dan bisa berkomunikasi dengan baik kalau berkeluarga saat itu. Kalau sekarang, kakek tahu sendiri Ara bagaimana! Ara masih sering merengek dan cenderung manja, Ara takut kalau nanti Ara salah ambil keputusan dan merusak segalanya!" jelas Kiara mengutarakan apa yang ada dipikirannya.


Si kakek berpikir sejenak, kemudian menghela napas panjang. "Baiklah, lakukan seperti yang kamu inginkan!" putus si kakek mengikuti keinginan cucunya.


"Terima kasih, kek!" kata kiara senang.


"Tapi ingat, saat waktunya tiba, jangan coba-coba mengelak lagi!" ucap si kakek mengingatkan. Kiara mengangguk cepat, mengiyakan ucapan kakeknya. Akhirnya permasalahan gadis itu pun bisa diatasi untuk sementara, dia akan memiliki waktu bebas hingga beberapa tahun yang akan datang. Setelahnya dia tak akan bisa mengelak lagi seperti sekarang.


...°°°°°...


...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...

__ADS_1


__ADS_2