
Sehari setelah Andi sakit, Rama pun menegur kelakuan sahabatnya yang sudah menyembunyikan sakitnya dari dirinya. Andi berkilah, Rama tak menerima bantahan apa pun. Bahkan pemuda itu mengancam, kalau dia akan balas merahasiakan juga kalau dirinya sedang sakit nanti. "Jangan marah,aku hanya tak ingin membuat sahabat terbaikku khawatir," pinta Andi dengan wajah memelas.
"Tak ada alasan! Apa yang kamu rasakan kalau aku juga merahasiakan kalau aku sakit?" tanya Rama dengan wajah galak.
Andi menundukkan kepalanya. "Aku akan kecewa pastinya, tapi aku juga akan khawatir saat tahu apa yang kamu sembunyikan," jawab Andi dengan suara pelan.
"Itu yang aku rasakan, An," timpal Rama cepat.
"Maaf, aku janji gak akan begitu lagi!" kata Andi dengan tatapan memohon.
Rama menghela napas panjang lalu menatap serius sahabatnya. "Baiklah, kali ini akan kubiarkan. Tapi ingat, tak ada lain kali, An?!" kata pemuda itu mengingatkan kawannya agar tak membuat dia khawatir lagi. Kalau sakit, ya tinggal bilang saja. Jangan disembunyikan dan baru ditahu saat sakitnya semakin bertambah parah.
Andi mengangguk cepat, berjanji dalam hatinya dia tak akan begini lagi. Ketika dia merasa tak enak badan, Andi akan segera memberitahukan pada sahabatnya agar sahabatnya tak marah lagi padanya. "Sekarang makan yang banyak agar kamu semakin cepat pulih," ucap Rama perhatian.
"Tapi aku udah sembuh, Ram," balas Andi disertai cengiran lebar, memperlihatkan kalau dia sudah sehat, kuat, dan baik-baik saja sekarang.
"Wajahmu masih terlihat pucat bagiku," timpal Rama dengan nada tenang. "Jadi, habiskan makananmu! Makan buah lebih banyak dari biasanya, dan beristirahatlah sebanyak yang kamu bisa untuk hari ini!" lanjut pemuda itu.
"Tapi aku ada–," kata yang ingin diucapkan Andi tak jadi terucap.
Rama mengangkat tangannya, menghentikan sahabatnya membantah ucapannya. "Jangan lakukan apa pun! Jangan pikirkan apa pun! Dan istirahat saja hari ini?!" putus Rama tak ingin dibantah.
"Tapi nanti aku dihukum," cicit Andi dengan wajah memelas.
"Hah, dan biarkan aku bertemu dengan orang yang berani menghukum sahabatku saat dia sedang sakit!!!" timpal Rama menyeringai kecil. Andi kicep, menutup mulutnya secepat mungkin. Dia tak ingin orang lain terkena masalah karena dirinya, dan dia tahu dengan sangat kalau sahabatnya ini akan benar-benar melakukan apa saja yang dia pikirkan kalau orang terdekatnya diganggu.
Rama menepuk-nepuk kepala sahabatnya, merasa kalau Andi merupakan adik kecilnya saja. "Bagus, makan yang banyak dan beristirahatlah. Saat kamu sudah baikan,kau bisa beraktivitas seperti biasanya lagi," kata Rama disertai senyuman hangat.
Andi cembetut, menampik tangan kawannya dengan pelan, seolah tak menyukai tepukan kawannya itu. "Aku bukan anak kecil lagi, Ram," keluh pemuda itu protes, berbanding terbalik dengan perasaan senang yang menjalar di hatinya.
"Ya, sudah. Aku pergi dulu, baik-baik di rumah dan jangan kerjakan apa pun!" kata Rama sebelum pergi. Rama menoleh, menatap pelayan yang ada di dekat mereka berdua. "Pastikan Andi beristirahat! Jangan biarkan dia melakukan hal berat?!" titah Rama, pelayan yang mendengar itu pun mengangguk patuh dengan cepat, memastikan kalau dia akan melaksanakan perintah tuan mudanya dengan baik.
"Selamat beristirahat, semoga cepat sembuh, An," kata Rama sebelum dirinya benar-benar pergi. Andi mendesah lelah, dia akan berada di kamar saja seharian ini. Biarkan saja dia berisitirahat dan tak melakukan apa-apa, itu juga bisa membantu para pelayan di rumah ini. Dari pada dia diawasi segitunya kalau dia berada di luar, lebih baik dia mengurung diri di kamar saja.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Siang harinya, Kiara dan Jonathan menjenguk Andi. Keduanya menelepon karena Andi tak terlihat di kampus, dan alhasil, keduanya mengetahui kalau sahabat mereka yang satu itu sedang sakit di rumah. Dan di sinilah keduanya, di kamar Andi yang berbaring malas tanpa menggerakkan tangannya sedikit pun.
"Kamu terlihat sangat mengerikan, An," kata Kiara menggelengkan kepalanya menatap kawannya tak percaya.
"Ya," balas Andi singkat, tanpa repot-repot menoleh untuk menatap kawannya.
"Sebenarnya kamu sakit apaan, sih, An?" tanya si Jo memperhatikan Andi. "Kamu bukannya sakit menurutku, kamu cuma bosan di kamar terus kayaknya," lanjut pemuda itu menebak dengan benar.
"Itulah yang terjadi," balas Andi dengan nada lirih.
"Kenapa gak main di luar aja, An?" tanya si Jo tak paham.
Kiara menganggukkan kepalanya setuju. "Betul itu, kalau bosan harusnya kamu menghirup udara segar, bukannya malah mengurung diri di kamar. Bisa-bisa kamu makin mirip zombie lagi!" kata gadis itu menimpali.
"Salahkan saja Rama, aku cuma gak ngasih tahu kalau aku lagi sakit dan dia malah ngurung aku di kamar untuk terus dan terus beristirahat sampai benar-benar pulih," keluh Andi dengan wajah memelas.
__ADS_1
"Ahh, itu sih hukuman ternyata namanya," timpal Kiara mengangguk paham. "Rupanya Rama memiliki sisi imut seperti ini, ya?" kata gadis itu terkikik geli. Ingat, Kiara fans garis keras nomor satu Rama. Namun, dia juga tak terlalu berharap untuk diperhatikan apa lagi mendapatkan hati pemuda itu. Kiara tahu kalau itu mustahil dan sungguh sukar diraih. Makanya, gadis itu akhirnya menikmati perannya sekarang, sebagai sahabat dari Rama.
"Tenang saja, akan kami temani agar kamu gak terlalu bosan, An," kata si Jo berbaik hati menemani sahabatnya yang sedang kebosanan.
"Thanks, kawan!" ucap Andi menarik sedikit gadis bibirnya, merasa sedikit terhibur karena kedatangan kedua kawannya. Kiara dan Jonathan pun menemani Andi hingga pemuda itu kembali tertidur karena pengaruh obat, mereka berdua memilih pulang ke rumah sebelum bertemu Rama. Siapa yang tahu apa yang dilakukan oleh sahabat over protektif mereka yang satu itu kalau dia tahu mereka berdua mengganggu istirahat Andi. Bisa-bisa mereka akan ditegur atau dihukum, cih, membayangkannya saja sudah menjengkelkan.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Tak sampai satu jam dari kepulangan Kiara dan Jo yang menjenguk Andi, Rama pun telah tiba di rumah. "Bagaimana Andi?" tanya Rama cepat sambil berjalan menaiki tangga.
"Tuan muda kedua sedang tertidur, tuan muda," balas seorang pelayan yang membawakan koper Rama.
"Biarkan aku melihat Andi sebentar, nanti aku baru ke kamar!" kata Rama terus berjalan ke kamar sahabatnya. Dia menghela napas lega, wajah kawannya tak lagi terlihat pucat, bahkan tidurnya terlihat lebih nyenyak dan tak berkeringat sedikit pun.
Setelah beberapa menit di kamar sahabatnya, Rama pun keluar dan kembali ke kamarnya sendiri. Dia butuh mandi dan berganti pakaian, sedikit lelah dengan hari yang merepotkan hari ini. Pekerjaannya banyak dan dia tak bisa fokus sama sekali, sahabatnya yang sakit membuat pikirannya bercabang dan tak bisa konsen. Makanya Rama membawa pekerjaannya yang belum dia selesaikan tadi. "Aku lebih seperti pekerja paruh waktu ketimbang seorang atasan! Lihat saja tumpukan dokumen yang harus kubawa pulang dan selesaikan, terlalu tinggi dan menjengkelkan hanya dengan melihatnya saja?!" lanjut pemuda itu sedikit mengeluh, tapi tetap juga mengerjakan semuanya dengan baik.
Tepat pukul sepuluh, Rama telah menyelesaikan pekerjaannya. Perutnya terasa perih karena dia melewatkan makan malam tadi. Pemuda itu pun turun ke dapur, mencari sesuatu yang bisa dimakannya saat ini. "Pasti ada yang bisa dimakan di kulkas, kan?" gumam pemuda itu.
"Anda sedang apa, tuan muda?" tanya si bibi pelayan dari belakang.
"Nyari makanan, bi," balas Rama menyembunyikan rasa terkejutnya.
"Harusnya anda minta dibuatkan, tuan muda!" kata si bibi turun tangan membuatkan makanan sederhana dan cepat untuk sang majikan.
Rama menggaruk pipinya. "Aku hanya tak ingin mengganggu waktu tidur kalian," aku Rama dengan nada datar, tapi terselip perhatian di dalam kata-kata pemuda itu.
"Itu sudah tugas kami untuk melayani anda majikan kami, tuan muda!" balas si bibi tersenyum hangat. Rama menganggukkan kepalanya sebagai respon, dia pun menunggu dengan sabar hingga makanannya selesai disiapkan.
"Makasih," balas Rama singkat. "Bibi duduk saja di sini," kata Rama menunjuk kursi di depannya.
"Saya tak bisa, tuan muda," balas si bibi cepat.
"Kalau begitu bibi kembali beristirahat saja, biar saya yang mengurus sisanya," ucap Rama lagi.
"Itu juga mustahil, tuan muda. Tak mungkin saya membiarkan anda membereskan meja!" timpal si bibi tak setuju. Rama memilih diam, dia makan dengan cepat dan segera kembali ke kamarnya. Tentu saja sebelum itu, Rama mengintip untuk melihat bagaimana keadaan sahabatnya saat ini. Setelah itu barulah Rama masuk ke kamarnya dan beristirahat.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Pagi harinya, Andi masuk tanpa mengetuk kamar Rama. Pemuda itu tersenyum cerah sambil memperlihatkan otot tangannya. "Aku udah sehat, Ram!!!" katanya tersenyum lebar.
"Aku bisa melihatnya tanpa perlu kamu beritahukan," balas Rama yang berdiri di depan cermin, melihat semua tingkah sahabatnya dari pantulan kaca.
"He-he, ayo sarapan. Hari ini aku boleh beraktivitas lagi, kan? Kan?" tanya Andi memastikan.
Rama mengangguk santai. "Ya," balas pemuda itu datar. "Asal jangan terlalu berlebihan dan membuat kamu sakit lagi!" lanjutnya mengingatkan.
Giliran Andi yang mengangguk dengan cepat. "Siap bos!" katanya ceria.
Keduanya pun sarapan bersama, Rama menuju kantor setelah sarapan, dan Andi turun ke kampus. Keduanya berpisah di depan gerbang, menempuh perjalanan dan kesibukan masing-masing.
Ngomong-ngomong soal magang, Andi sudah menyelesaikannya dengan baik. Bahkan pemuda itu sudah membuat laporan dan mengirimkannya pada dosennya. "Yo, An, udah sehat?" sapa sekaligus tanya si Jo.
__ADS_1
"Yo'i," balas Andi mengacungkan jempolnya disertai senyum lebar. "Dengan adanya Rama, dokter pun kalah. Mana bisa penyakit lama-lama, pasti langsung diusir sama Rama!" lanjut pemuda itu bercanda.
"Gimana hasil akting kita kemarin?" tanya si Jo ingin tahu.
"Jelas sukses, dong!" balas Andi bangga. "Tapi aku sedikit kasihan, Rama jadi digosipin di kantor," lanjut pemuda itu setengah menyesal. Memang rencananya berhasil, tapi kenapa juga kawannya harus masuk lingkaran gosip sepatah itu.
"Yang penting, kan berhasil?" celetuk Kiara tiba-tiba. Andi dan Jonathan mengangguk membenarkan perkataan kawannya itu. "Rama juga gak ngeluh kayaknya, dia enjoy-enjoy aja, tuh!" lanjut gadis itu lagi.
"Mungkin Rama lebih milih jadi korban gosip dari pada jadi korban perjodohan bisnis!" timpal si Jo memasang tampang serius.
"Dahlah, aku mau masuk kelas dulu. Ntar aku telat," kata Andi.
"Aku juga, aku masuk kelas dulu, ya!" pamit Kiara sambil melirik jam tangannya.
"Berarti tinggal aku, dong sendirian di sini?" tanya si Jo menunjuk hidungnya sendiri. Kiara dan Andi tak menanggapi, mereka hanya melambaikan tangan tanpa menoleh ke arah si Jo. "Aisshh, salahkan dosen aku yang gak jadi masuk kelas! Materinya jadi ditunda, kan?!" keluh Jonathan cemberut kesal. Sedetik kemudian, dia malah tersenyum lebar sambil menikmati jajanan di kantin. Makanan memang cara terbaik untuk melupakan kekesalan. Begitulah apa yang dilakukan si Jo untuk menunggu waktu kelas selanjutnya.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Untuk merayakan kesembuhan Andi, mereka bertiga sepakat untuk menghabiskan waktu bersama setelah kuliah. Tempat yang dituju ketiganya adalah warnet sepi di ujung jalan tak jauh dari kampus mereka. Entah karena buruknya pelayanan di sini, atau karena warnetnya yang kurang keren, warnet ini terlalu sepi. Hanya ada satu atau dua pelanggan yang terlihat.
"Meski udah sering ke sini, aku masih sering bertanya-tanya kenapa di sini sepi banget, ya?" bisik si Jo menatap sekitar.
"Mungkin karena yang punya galak," balas Kiara ikutan berbisik lirih.
"Atau jangan-jangan di sini berhantu!" timpal Andi tiba-tiba.
"Jangan aneh-aneh, ah! Gak seru tahu kalau becanda soal hantu?!" timpal Kiara setengah takut, matanya memperhatikan sekitar, siapa tahu apa yang diucapkan sahabatnya itu benar.
"Tapi aku gak masalah, sih. Kan di sini sepi trus nyaman, gak ada yang ganggu juga, malah enak main game di sini!" aku Andi. "Berasa aku nyewa semua padahal gak," lanjut pemuda itu mencondongkan tubuhnya. Ketiganya terkikik geli, mengangguk setuju dengan ucapan Andi barusan.
"Ayo kita mulai.main aja," putus si Jo.
"Ayo!" timpal Kiara bersemangat. "Yang kalah, traktir beliin roti di depan jalan, ya?" lanjut gadis itu menantang kedua kawannya.
"Siapa takut?!" timpal si Jo dan Andi bersamaan.
"Kamu udah bilang sama Rama, gak kalau kamu mampir ke sini, An?" tanya Jo penasaran.
"Beres!" balas Andi cepat.
Beberapa jam berlalu, Kiara yang menantang malah dia yang kalah. Akhirnya gadis itu lah yang membelikan kedua sahabatnya roti yang dia maksudkan. "Thanks, ya, Ra. Kemenangan memang lebih indah dirasa kalau ada bayarannya!" kata si Jo tersenyum mengejek.
"Apa lagi bayarannya roti yang cuma dibuat beberapa potong aja setiap harinya di sini, beuhh, itu hadiah yang terbaik!" tambah Andi menikmati bagiannya. "Boleh pesan satu lagi, gak, Ra?" tanya Andi setelah mengunyah rotinya. "Buat Rama," lanjut pemuda itu disertai cengiran lebar.
Kiara menarik napas panjang. "Pesan semua, pesan apa pun yang kalian berdua inginkan!" kata gadis itu dengan nada pasrah.
Andi pun memesan lebih banyak untuk dibagikan pada pelayan di rumahnya, kapan lagi menguras dompet kawannya itu. Tak mau kalah, si Jo juga ikut-ikutan. Pemuda itu membeli roti untuk dimakannya nanti di rumah.
...°°°°°...
...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...
__ADS_1