
Andi yang terkejut mendengar ucapan kawannya malah meminta penjelasan sebenarnya kawannya itu ingin kemana. Dia bertanya dan menatap lurus Rama, membuat Rama mengatur ekspresinya agar tak terlihat terkejut dengan kehadiran sahabatnya. "Sudah bangun?" tanya Rama mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Jawab aku, Ram! Kamu mau pergi kemana sebenarnya!" desak Andi tak terpancing dan tetap kekeh meminta penjelasan.
"Gak kemana-mana, An. Aku cuma capek dan pengen jalan-jalan, kita sudah lama gak liburan, kan?" balas Rama santai.
"Benar, hanya itu?" tanya Andi tak percaya, mata pemuda itu memicing curiga.
"Iya, kawan!" timpal Rama cepat.
Andi menghembuskan napas panjang. "Kukira kamu berencana pergi, ternyata cuma mau jalan-jalan. Jangan lupa ajak kawanmu ini, ya!" kata Andi disertai cengiran lebar.
Rama tersenyum tipis. "Ya," balas pemuda itu singkat.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Keesokan harinya, Rama mengajak kawannya jalan-jalan. Mereka menghabiskan waktu hingga sore. "Dari mana? Aku nungguin dari tadi, lama banget tahu?!" keluh Kiara begitu melihat Rama dan Andi baru turun dari mobil.
"Ngapain ke sini? Memangnya kita ada janji, ya?" ucap Andi, dahinya berkerut bingung, merasa kalau dia tak memiliki janji dengan kawannya ini.
"Memangnya aku gak boleh ke sini kalau gak ada janji?" kata Kiara kesal.
"Ya elah, boleh sih, gak ada yang larang. Tapi kenapa gak telepon aja, jadi kita-kita tahu kalau kamu main ke rumah," balas Andi. Ketiganya masuk ke rumah bersamaan.
Kiara mendengus keras. "Liat dulu teleponnya, baru nanya! Hitung tuh berapa banyak aku nelepon kamu?!" timpal Kiara.
"Oh, iya benar. He-he, maaf. Ponselnya aku setel mode diam," kata Andi setelah memeriksa telepon genggamnya.
"Memangnya ada untungnya kalau aku bohong?" tukas Kiara.
"Ya, maaf," ucap Andi dengan nada menyesal. "Aku gak bilang kamu bohong, kok," lanjut pemuda itu.
"Ram, bantuin napa! Jangan diem aja," ucap Andi yang melihat kawannya sudah duduk dengan nyaman di sofa.
Rama mengangkat bahu acuh. "Sudah lewat, percuma mau protes!" timpal pemuda itu dengan suara datar.
"Arghh, ini yang bikin kamu gak punya temen! Ya ini alasannya. Sikap kamu yang acuh dan nyebelin?!" ketus Kiara menunjuk Rama.
"Siapa yang gak punya temen?" tanya Rama dengan senyum mengejek. "Ada Andi, tuh. Dia sahabat aku, loh!" lanjut Rama memasang tampang yang sangat menjengkelkan di mata Kiara.
"Andi gak usah dihitung?!" timpal Kiara. "Dia mau jadi temen kamu gara-gara kalian tinggal di rumah yang sama," lanjut gadis itu.
"Eh, gak bisa gitu! Aku itu sahabat pertama Rama, gak boleh gak dihitung cuma karena alasan gak jelas gitu dong!" bantah Andi tak terima. "Trus ada kamu, Jo juga ada. Jadi temen Rama udah bertambah sekarang," lanjut Andi menghitung Kiara dan Jonathan sebagai kawan dari Rama.
Melihat Kiara tak bisa membantah, Andi pun menambahkan lagi. "Lagipula kalau Rama mau, dia pasti dapet temen lebih banyak dari kita-kita. Bahkan kalau temen kita semua digabung, jumlah temannya Rama pasti lebih banyak," dengus Andi berucap dengan yakin. "Sayangnya Rama terlalu malas berteman sama orang lain," lanjut pemuda itu yang tahu benar akan sifat malas kawannya.
"Ahh, aku pengen nyangkal, tapi gak bisa. Semua yang kamu bilang bener dan itu bikin aku makin kesal!" timpal Kiara membuang muka ke lain arah. "Kenapa juga kalian gak ngajak-ngajak kalau mau jalan?" tanya Kiara kembali menatap Andi.
"Malas," balas Rama singkat, Kiara memutar bola matanya malas mendengar jawaban kawannya itu.
"Lupa, Ra. Lagian kalau diajak juga palingan kamu bilang gak ikut soalnya ada urusan, kan biasanya gitu," timpal Andi mengatakan alasan yang terlalu sering Kiara utarakan kalau mereka mengajaknya jalan.
__ADS_1
"Yah, gak gitu terus juga, kan? Kayak hari ini, aku gak ada kerjaan, gak ada janji, dan lagi bosan pakai banget. Kalau diajak, pasti aku bakalan ikut!" cerocos Kiara. "Laper, nih? Gak disuguhi makanan gitu atau apa kek?" lanjut Kiara mengalihkan topik.
"Sabar, baru juga datang. Kenapa gak makan di rumah aja tadi," ketus Andi.
"Malas makan sendiri!" balas Kiara. "Makanya, ntar temani aku makan, ya!" lanjut gadis itu dengan tatapan memohon.
Andi mengangguk tak berdaya, dia paham bagaimana rasanya makan sendirian di meja makan panjang yang terasa sangat kosong. "Baiklah, aku juga masih cukup lapar, kok," cengir Andi menimpali.
Rama yang menyadari kalau ditatap oleh kedua sahabatnya pun angkat bicara tanpa menatap balik keduanya. "Kalian saja yang makan, aku masih kenyang," kata pemuda itu santai. "Selamat makan," lanjut Rama seraya berdiri, meninggalkan kedua sahabatnya. Dia memilih untuk mengganti baju dan berbaring di kamar, dari pada harus mendengar kedua kawannya itu berdebat tak jelas tentang semua hal yang mereka bicarakan.
"Gara-gara kamu, tuh. Si Rama jadi pergi, kan!" keluh Andi menyalahkan Tiara.
"Sembarangan, siapa tahu dia emang kenyang dan lagi malas!" timpal kira tak terima disalahkan. Keduanya terus berdebat, hingga seorang pelayan datang dan mengatakan kalau makanan telah selesai disiapkan.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Selesai makan, Kiara mengajak Andi bermain.game. Andi pun setuju, yah setidaknya untuk membantu mencerna makanan yang baru saja masuk ke perut mereka. Keduanya semakin ribut, saling berseru dan juga mengejek, keduanya juga saling menertawakan orang yang kalah di antara mereka.
"Aku nginap di sini, aja ya? Boleh, gak, An?" tanya Kiara sambil melirik jam dinding.
"Kagak, balik sana!" ketus Andi menolak.
"Pelit," dengus gadis itu cemberut.
"Gimana pun kamu cewek, ntar kakek kamu khawatir," balas Andi.
Kiara mengangguk pelan, ucapan Andi memang benar. "Kalau begitu aku balik dulu, makasih untuk harinya," kata gadis itu berpamitan. "Pamit kalau Rama nyari," lanjut Kiara terkikik usil.
Andi membuka pelan kamar kawannya, dia melihat sahabatnya itu sudah tertidur lelap. Andi pun mencoba masuk tanpa suara, mengganti pakaian tidur dan berbaring di kasurnya sendiri. Pemuda itu dengan cepat tertidur, mungkin mimpi buruknya hanya datang saat dia sendirian. Soalnya kalau bersama Rama, walau dia bermimpi, dia tak akan mengingat mimpi apa yang dia lihat saat tertidur.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Hari ini Rama tak ada kegiatan, semua pekerjaannya sudah dia selesaikan. Tak ada janji temu dengan klien juga di luar. Pemuda itu benar-benar bebas sekarang. Andi yang mengetahui kawannya tak memiliki kegiatan pun merengek meminta sahabatnya itu untuk datang ke kampus. "Ayolah, datang, ya, ya?" bujuk Andi dengan tatapan memohon.
"Mau ngapain?" tanya Rama dengan tampang datar, seolah sudah kebal dengan tatapan kawannya itu.
"Liat kelas aku manggung, aku bakalan pentas drama, loh," seru Andi sedikit membanggakan kelas mereka. "Ayolah, Ram. Mau, ya? Oke?" bujuk Andi lagi, kali ini sambil menggoyang-goyangkan lengan kawannya.
Rama menghela napas panjang, mengangguk dengan malas. "Baiklah, aku bakal datang!" katanya datar. "Haruskah kubawakan bunga sebagai ucapan selamat?" lanjut pemuda itu berpikir dengan serius.
"Janji?" Andi menatap sahabatnya sambil nyengir, menatap kawannya meminta agar sahabatnya itu berjanji. "Gak usah bawa apa-apa juga gak masalah, yang penting kamu datang, Ram!" kata pemuda itu dengan tatapan berbinar.
Rama mengangguk sekali lagi. "Janji," timpal Rama seraya tersenyum tipis. Andi berteriak girang, melompat ke udara seraya memekik hore berkali-kali. "Aku berangkat dulu, ya. Jangan lupa datang, ingat udah janji barusan?!" kata Andi berlalu pergi sambil melambaikan tangannya.
Rama terkekeh pelan sambil menyeruput jusnya. "Tuan Andi terlihat sangat senang pagi ini," ucap seorang pelayan senior yang sudah lama bekerja di sini, pelayan itu juga sudah dianggap sebagai bibi oleh keduanya.
Rama tersenyum tipis. "Yah, untuk itulah gunanya kawan berada di sini. Mempertahankan senyum ceria sahabatnya," balas Rama dengan tulus.
"Anda juga harus bahagia, tuan muda," timpal pelayan tadi menatap penuh dengan kehangatan.
Rama mengangguk paham. "Aku sudah cukup puas dengan keadaan sekarang, bi," kata pemuda itu menimpali.
__ADS_1
"Wanita tua rendahan ini hanya berharap kedua tuan muda selalu diberkahi dengan kebahagiaan, hingga ketidakberuntungan menjauh dari kalian berdua selama sisa hidup anda," ucap si bibi pelayan tulus.
"Jangan begitu, kalau tak ada bibi, tak akan ada yang mengurus keperluan kami berdua. Jadi bibi tak boleh terlalu merendah," timpal Rama.
Si bibi mengangguk paham seraya tersenyum hangat. "Salahkan bibi yang sudah tua dan mulai pikun ini, tuan muda," katanya menunduk sopan.
"Ngomong-ngomong, apa saya harus membawa bunga untuk Andi?" tanya Rama meminta pendapat. "Apa tak aneh?" lanjut pemuda itu mengernyitkan keningnya, merasa ragu dengan hal yang dia ucapkan tadi.
Si bibi pelayan melongo seketika, dia mengira tadi tuan mudanya ini hanya bercanda, rupanya beliau serius akan hal tersebut. "Engg ..., tuan muda, saya rasa dari pada bunga, lebih baik anda membawakan makanan atau minuman dingin. Itu pendapat saya," katanya hati-hati, takut kalau majikannya ini tersinggung.
Rama tersenyum puas. "Ide bagus, terima kasih, bi!" timpal Rama cepat. "Kalau begitu saya akan berganti pakaian dan berburu makanan untuk Andi," lanjut pemuda itu sebelum melesat, menghilang dari pandangan si pelayan tadi. Si bibi pelayan menggelengkan kepalanya tak berdaya, sedikit lucu dan juga kasihan dengan pikiran polos tuan mudanya.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Pukul sepuluh pagi, Rama sudah sampai di kampus Andi. Sebenarnya kampusnya juga, hanya saja dia ganti ke kelas malam, agar dia bisa lebih konsen mengurus perusahaannya. Di kedua tangannya, Rama membawa kantong belanjaan. Isinya sudah pasti bisa ditebak, yang satunya berisi berbagai jenis makanan. Mulai dari cemilan, kripik, hingga bolu yang asal diambil pemuda itu dari rak mini market. Kantongan satunya lagi berisi berbagai jenis minuman dingin, ada minuman kaleng dan juga botol, ada juga yang kotakan. Ada kopi, teh, dan susu, bahkan berbagai jus kotak juga tersedia. Rama asal ambil apa yang dilihatnya, tanpa peduli merek dan harga. Semua dia borong dan dibeli tak sampai lima menit, sungguh belanja yang sangat singkat.
Andi menunggu di depan pintu gedung serba guna, dia baru saja mendapatkan pesan dari kawannya kalau sahabatnya itu sudah sampai. Kepala pemuda itu celingukan, melihat di mana kawannya mungkin berada. "Ram!" pekik Andi begitu dia melihat bayangan kawannya. "Di sini, di sini!" ucapnya lagi seraya melambaikan tangan.
Rama menganggukkan kepalanya, balas tersenyum meski tipis dan sangat singkat. "Belum mulai, kan?" tanya Rama begitu dia sampai di depan Andi.
Andi menggelengkan kepalanya. "Belum, makanya aku bisa nungguin kamu di sini!" kata pemuda itu, dia terlihat senang kawannya bersedia untuk datang.
"Penuh, ya?" ucap Rama melongok ke dalam ruangan.
"Tenang aja, aku udah minta izin dan kamu boleh duduk di belakang panggung. Aku bilang kamu teman terbaik aku dan aku gak mau tampil kalau kamu gak diizinkan ngeliatin aku!" kata Andi bangga. "Gak apa-apa, kan duduk di belakang panggung?" tanya pemuda itu menggaruk pipinya, dia.merasa kalau dirinya sudah seenaknya memutuskan dimana kawannya ini harus duduk.
Rama mengangkat bahu acuh. "Masih lebih baik dari pada duduk di tengah-tengah sana," timpal pemuda itu menunjuk kerumunan yang sudah memenuhi hampir seluruh bangku penonton. "Nih, bawa. Bagikan buat yang lain," kata Rama menyerahkan kantongan belanjaan yang dia bawa sedari tadi.
"Gak jadi bawa bunga?" tanya Andi heran. Pemuda itu menerima pemberian Rama dengan senang.
"Kata bibi lebih baik kalau bawakan makanan dan minuman. Aku juga mikir gitu, soalnya kalau bawa bunga kan gak bisa dimakan atau diminum?!" balas Rama, Andi mengangguk paham.
"Ayo, ikut aku. Aku antar ke tempat duduk kamu, Ram!" ajak Andi. Rama membuntuti kawannya dari belakang.
"Bos, sahabat aku udah datang!" Pekik Andi begitu sampai di belakang panggung.
"Suruh saja duduk dengan tenang dan jangan mengganggu!" balas orang yang dipanggil bos tadi tanpa melihat ke arah Andi.
"Baik, bos!" tukas Andi cepat.
"Siapa dia?" tanya Rama yang baru pertama kali melihat orang yang berbicara dengan Andi tadi.
"Oh, dia ketua yang ditunjuk untuk mengurus drama kali ini. Makanya sepakat memanggil dia bos," jelas Andi. "Nah, ini untuk kita. Sisanya aku bagikan dulu, ya," lanjut Andi, dia menyuruh Rama memegang tiga minuman dingin dan beberapa cemilan untuk bagian mereka.
"Tinggalkan air mineral juga untukku," kata Rama saat melihat kawannya berniat pergi.
Andi mengangguk, memberikan air mineral pada Rama. "Tunggu di sini, ntar aku balik lagi!" ucap Andi, kini giliran Rama yang menganggukkan kepalanya.
Andi berkeliling, membagikan makanan dan minuman yang dibawa Rama pada kawan-kawannya yang akan pentas bersamanya. Sesekali Andi terlihat menunjuk ke arah Rama, sebagai balasan kadang Rama mengangguk singkat saat lawan bicara Andi melihat ke arahnya. Dia tak ingin kawannya dianggap aneh karena berteman dengan orang yang acuh dan dingin sepertinya. Makanya dia dengan setengah hati mengangguk saat mereka melambai atau tersenyum padanya.
...°°°°°...
__ADS_1
...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...