
Beberapa hari ini Rama merasa gelisah, padahal tak ada satupun laporan aneh tentang Ponco yang dia terima. Bisa dibilang akhir-akhir ini dia merasa tenang dalam.menajlani kehidupan, tak ada gangguan sedikitpun dari Ponco. Tapi entah mengapa, Rama semakin merasa was-was. Seolah akan ada badai setelah hari yang damai berlalu.
"Nek, akhir pekan ini Rama izin, ya?" ucap Rama meminta persetujuan sang nenek.
"Mau kemana, Ram?" bukannya si nenek yang menimpali, tetapi kawan satu-satunya yang duluan bertanya.
"Jalan-jalan," balas Rama tentu saja yang dikatakannya seratus persen kebohongan saat ini.
"Dan sendiri!" lanjut pemuda itu ketika melihat kawannya hendak berbicara lagi, seakan dia tahu apa yang akan sahabatnya itu katakan.
"Cih," decih Andi kesal, wajahnya bertekuk karena merajuk.
__ADS_1
Nek Lidya tersenyum maklum melihat kelakuan Andi. "Ajak saja kawanmu, Ram. Memangnya kamu gak kasihan liat wajah kawan kamu tertekuk begini, hmm?" kata Nek Lidya sambil melirik Andi. Andi tersenyum sumringah mendengar perkataan Nek Lidya, berharap kalau kawannya berubah pikiran dan mau mengajak dirinya juga.
"Sayangnya tak bisa, nek. Ada yang harus Rama kerjakan dan ini bersifat rahasia!" Rama mengedipkan mata, dia tak mungkin membawa kawannya ke perjalanan yang berbahaya. Sudah Rama putuskan, dia harus mengakhiri permainan ini. Dia tak boleh membiarkan Ponco terus memburu, sesekali dirinya yang akan menjadi pemburu dan menyapu bersih semua yang dia lewati.
Nek Lidya menghela napas pelan. "Mau bilang apa kalau kamu tak mau berubah pikiran, ya sudah. Pergilah, kamu juga bisa jalan-jalan sendiri, An!" Nek Lidya menatap Rama dan Andi bergantian.
"Biarkan Andi menemani nenek! Saya baru akan tenang kalau salah satu di antara kami berada di sisi nenek!" sela Rama cepat.
"Kali ini saya setuju dengan Rama! Meski saya suka jalan-jalan, tetapi salah satu di antara kami harus tinggal dan menemani Nek Lidya agar nenek tak kesepian!" kata Andi menimpali.
"Hu-hu-hu-hu, begini mungkin rasanya kalau memiliki dua cucu laki-laki yang sangat bisa diandalkan dan perhatian! Ahh, nenek tua ini bisa beristirahat dengan tenang karena tahu ada yang menjaganya," ujar Nek Lidya bangga memiliki dua cucu yang berbakti padanya.
__ADS_1
"Jadi, aku dapat izin, kan nek?" tanya Rama.
Nek Lidya menganggukkan kepalanya. "Pergi saja, jangan lupa oleh-oleh untuk nenek dan Andi! Kalau tak membawa oleh-oleh, jangan harap bisa masuk rumah?!" balas Nek Lidya dibumbui sedikit ancaman.
"Astaga, jahatnya nenekku?!" timpal Rama main-main. "Baiklah, akan kubawakan kerang ajaib yang bisa mengabulkan satu permintaan!" gelak tawa terdengar dari ketiganya. Mereka bahagia bisa menghabiskan beberapa waktu dengan mengobrol bersama. Tak peduli itu penting atau tidak, yang penting mereka menghabiskan waktu bersama dan saling peduli.
Dengan izin di kantongnya, Rama berniat balik mengintai Ponco. Dia akan menghabisi satu-persatu anak buah yang dikumpulkan pria itu dengan susah payah. Siapa suruh masih bermain-main saat dia sudah memperingatkan, jangan salahkan dirinya yang membalas perlakuan Ponco. Tentu saja balasannya akan berlipat, karena Rama selalu membayar sesuai dendam yang dia miliki.
...°°°°°...
...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...
__ADS_1