Topeng.

Topeng.
21.


__ADS_3

Seorang pria dengan jubah kebesaran dan wajah tertutup tudung hitam melesat melewati pembatas kota, pria itu terus berjalan dengan langkah lebar dan menyusup di balik kegelapan malam yang sunyi. Luka di bawah matanya terlihat ketika cahaya bulan terpantul mengenai dirinya, dia adalah bos yang sedang mencari keberadaan Rama, musuh abadi bagi dirinya.


"Dimana kamu tikus kecil? Mari kita akhiri semua begitu kita bertemu! Kamu atau aku yang bertahan?!" katanya menyeringai kecil.


Di sisi lain, Rama saat ini masih tertidur lelap di kasur empuknya. Dirinya tak tahu kalau akan ada masalah yang akan menggangu kedamaian yang dia rasakan hingga saat ini.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Suara gemericik hujan terdengar ketika Rama baru membuka matanya, rintik hujan dapat terlihat jelas dari tetesan air hujan yang jatuh di kaca jendela kamar pemuda itu. Sisa-sisa hujan semalam masih menetes, Rama, bergelung malas di balik selimut tebal seraya kembali mencoba memejamkan mata. Sedetik kemudian, mata pemuda itu kembali terbuka. Memang sulit untuk kembali bermalas-malasan, walaupun hari sangat mendukung.


Rama menyeret dengan paksa kakinya menuju kamar mandi, menyiram air dingin untuk membuat dirinya bangun sepenuhnya, tak malas seperti tadi lagi. Selesai mandi, Rama merasa lebih segar. Pemuda itu memakai seragam dan bercermin di depan cermin yang panjang. Pantulan wajah rupawan terlihat menatap balik dirinya, tentu saja itu wajahnya sendiri. Rama merapikan rambutnya tanpa buang banyak waktu. Seperti kata neneknya, Rama merupakan seorang pemuda yang terlalu cuek dan dingin. Dia bahkan tak memusingkan bagaimana penampilannya di mata orang lain, bagaimana tanggapan mereka, atau apa yang mereka pikirkan tentang dirinya. Itu urusan mereka dan tak ada hubungan apapun dengannya. Apapun yang mereka pikirkan tentang Rama, tak akan mengubah jalan cerita yang sudah ditentukan untuk dirinya, bukan.

__ADS_1


Rama meletakkan sisir yang tadi dipakainya kembali ke tempatnya, kemudian dia keluar dari kamar dengan langkah pelan. Tujuanku, tentunya meja makan. Di sana sudah menunggu nenek dan juga sahabatnya, Andi. Seperti biasa, kami sarapan bersama setiap harinya, ya walau kadang aku tak bisa hadir karena tugas sekolah yang tak terduga dan jadwal pagi dadakan dari kantor.


"Selamat pagi tuan muda!" sapa beberapa pelayan yang lewat, Rama hanya mengangguk kecil sebagai balasan.


"Pagi kesayangan nenek!" ucap sang nenek diiringi senyum hangat yang selalu kusukai.


"Pagi, nek!" balas pemuda itu singkat ditambah senyum kecil untuk wanita tua di depannya, ya walaupun hanya sesaat bertahannya. Bagiku, mama adalah matahari untuk kami.


"Tentu!" balas Rama duduk di kursi yang biasanya didudukinya.


"Kamu akan pulang tepat waktu, kan hari ini?" tanya sang nenek lagi.

__ADS_1


Rama menganggukkan kepalanya. "Tentu, nek! Hari ini saya tak diharuskan ke kantor. Jadi saya akan pulang bersama Andi," balas Rama.


"Akhirnya, setelah sekian lama kita bisa pulang bareng lagi, Ram," celetuk sahabatnya dengan ekspresi senang.


"Kalau begitu, nenek akan menjemput kalian berdua nanti. Kita akan belanja bersama, ya?" putus sang nenek mencetuskan ide yang tiba-tiba.


"Lakukan sesuai keinginan nenek!" Rama tersenyum simpul, sesekali ke mall dan meluangkan waktu untuk berbelanja bersama keluarganya tak akan membuat masalah.


"Bisakah kita membeli beberapa cemilan nanti?" tanya Andi tiba-tiba menyela.


Nek Lidya tertawa kecil. "Tentu saja! Kita akan membeli apapun yang kita butuhkan. Baju, makanan, tas, topi, apapun yang menarik hati akan kita beli hari ini?!"

__ADS_1


Rama dan Andi segera berangkat ke sekolah begitu mereka selesai sarapan, mereka tak akan lupa dengan janji mereka setelah pulang sekolah nanti.


__ADS_2