Topeng.

Topeng.
22.


__ADS_3

Tiga hari berlalu, kini si bos yang mencari Rama rupanya sudah mulai mengikuti mangsanya. Ya, bagi dirinya Rama adalah mangsa yang harus dia singkirkan untuk mengamankan kedudukannya. Ponco, bos yang mengintai Rama berdiri tak jauh dari sekolah Rama. Asap rokok keluar dari mulutnya, wajahnya tertutup tudung jaket sepenuhnya.


Di sisi lain, Rama bukannya tak tahu kalau dia sedang diawasi. Lama tak bertarung bukan berarti kemampuannya menghilang, tetapi dia membiarkan saja. Rama ingin melihat siapa yang berani-beraninya mengawasi dirinya. "Kamu kenapa, Ram? Sakit?" tanya Andi dengan raut wajah khawatir.


Rama tersenyum tipis seraya menggelengkan kepalanya. Ah, rupanya dirinya sudah membuat sahabatnya ini. "Aku tak apa, tak ada yang salah. Ayo, kita segera ke kelas," ajak Rama mempercepat langkah kakinya, Andi pun mengikuti sahabatnya yang sudah berjalan sedikit jauh di depannya.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...

__ADS_1


Ponco terkekeh melihat si tanpa nama yang dulunya menakutkan kini terlihat seperti anak biasa yang lemah, dia yakin dirinya bisa menghajar dan melenyapkan Rama dengan sedikit usaha. "Hmm, meski terlihat lemah, tapi dia tetaplah si tanpa nama yang terkenal licik. Apa sebaiknya aku mencari seseorang untuk dijadikan sandra?" bos yang memilih untuk menghabisi orang yang membuatnya kepikiran itu sibuk memutar otaknya.


Setelah beberapa lama berpikir, Ponco malah menggeleng keras. "Tidak, tidak, tidak! Itu tak akan bekerja untuk manusia tanpa darah dan air mata, mana mungkin orang sepertinya peduli dengan nyawa orang lain. Semua yang dilakukannya hanya untuk kepentingannya sendiri, itu baru si tanpa nama yang kukenal, khe-khe-khe." tawa jahat terdengar dari si bos yang masih menunggu kesempatan untuk membinasakan Rama.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


"Mau kemana?" tanya Andi cepat.

__ADS_1


"Toilet!" balas Rama singkat, setelahnya pemuda itu pun bergegas pergi. Setelah sedikit menjauh, Rama melirik ke belakang tanpa menolehkan kepalanya. Ternyata benar, bahkan dia diikuti saat sendirian. "Dasar bodoh," bisik Rama lirih. Pemuda itu berjalan dengan lebih santai dan masuk ke toilet, dia menunggu tepat di samping dinding. Pintu terbuka, Rama mengamati tanpa suara dan bergerak sedikitpun. Dia menunggu penguntitnya tadi melangkah masuk. Tampaknya dewi Fortuna sedang berada di pihak Rama, toilet ini cukup sepi, tak ada orang lain selain dirinya. Tanpa pikir panjang Rama segera meringkus penguntit yang terus mengikutinya. "Katakan siapa kamu dan kenapa kamu selalu mengawasi saya?" Rama bertanya dengan suara tajam, belum lagi tangannya menambah tenaga untuk menekan tangan lawannya yang dia pelintir ke belakang.


"Ini aku, tolong lepaskan sebelum kamu benar-benar mematahkan tanganku!" ucap Ponco mengungkap identitasnya.


Rama membebaskan tangan lawannya. "Jadi? Kenapa kamu ada di sini dan mengikuti saya?" Rama menatap tajam ke arah Ponco, buat apa orang yang harusnya sibuk menjaga tempatnya malah berkeliaran di sini. Tak mungkin bukan kalau si Ponco ini mengikuti jejaknya.


Ponco mengangkat bahunya acuh. "Hanya ada beberapa keperluan," katanya tak berani menatap balik Rama.

__ADS_1


Rama menyeringai tak percaya. "Dengan terus mengikuti aku?" sarkas pemuda itu. Ponco keringat dingin, dia memutar otaknya untuk menjawab pertanyaan pemuda di depannya ini.


__ADS_2