
Rama menjadi lebih sibuk semenjak kematian dan kakek. Bagaimana tidak, dia masih pelajar, tetapi dia harus mengurus beberapa bisnis kakeknya, meski hanya bisnis kecil-kecilan. Namun, Rama diharuskan belajar dari sekarang untuk bisa mewarisi semuanya nanti ketika dia dewasa.
"Aku benci berbohong dan ragu seperti sekarang. Namun, aku lebih benci kegagalan, apalagi kalau memikirkan aku harus berpisah dengan keluarga pertama aku. Yah ..., walau semua diawali dengan kebohongan, tapi hari yang kami lewati bersama adalah kenyataan?!" gumam Rama.
"Rupanya kasih sayang bisa membuat seseorang melemah, ya," kekeh pemuda itu menertawakan dirinya sendiri.
"Ram, ini saya, Andi." suara ketukan di pintu membuyarkan pikiran Rama.
"Masuk aja, gak dikunci!" balas pemuda itu, dia malas bangkit dari kasurnya yang empuk.
"Lagi apa?" tanya Andi sembari melangkah mendekati Rama, kawannya.
"Berenang! Emangnya aku kelihatan lagi ngapain sekarang menurutmu, An?"
"Berenang, ya? Ikutan, dong. Saya belum pernah nyoba berenang di kasur, he-he," balas Andi entah polos atau bodoh.
__ADS_1
Rama lupa kalau kawannya yang satu ini selalu percaya apa yang dia katakan, kenapa juga tadi dia harus menjawab asal dengan niat main-main. "Aku lagi baring, An. Dari mana pula munculnya berenang di kasur?"
"Dari kamu, Ram!" balas Andi yakin seyakin-yakinnya.
"Astaga, serahlah?! Ngapain ke sini? Gak mungkin kan cuma mau ngobrol gak jelas kayak tadi?" tanya Rama malas.
"He-he, cuma pengen liatin kamu aja. Bosen tahu di kamar mulu, gak ada yang bisa kuajak ngomong. Masa iya aku harus ngomong sama udara kosong? Bisa-bisa dicap gila ntar kalau ketahuan?!" keluh Andi.
"Tadinya aku mau telepon atau kirim pesan aja ke kamu, Ram. Tapi aku pikir ulang lagi, ngapain satu rumah buang-buang data untuk telepon atau ngirim pesan doang. Kan aku bisa langsung ke kamar kamu terus kita ngobrol langsung kayak sekarang!" lanjut pemuda itu menjelaskan panjang lebar.
"Gak apa-apa kalau sesekali, Ram. Takutnya kalau udah kebiasaan ntar keterusan, makanya aku ngomong nyampur aja, gak masalah, ya?!" ujar Andi jujur.
"Semoga aja keterusan!" Rama mulai sedikit jahil kalau sudah berhadapan dengan Andi, dia sangat suka menjahili pemuda itu meski hanya sebentar.
"Aish, gak ngebantu banget sih jadi kawan?" kata Andi cemberut kesal.
__ADS_1
"Ha-ha-ha-ha, siapa yang bilang kalau kita kawan? Kita ini sahabat sekaligus saudara, bodoh!"
"Jadi, gak masalah kalau aku gak ngebantu, aku kan bukan kawan kamu, An," lanjut pemuda itu tersenyum penuh kesenangan. Keduanya terus berbicara hingga Rama memberikan pertanyaan yang membuat Andi terdiam sesaat. "An, ini misalnya, ya. Misalnya, oke?!"
"Sejak kapan kamu nanya pakai berandai-andai begitu? Biasanya langsung nanya gak pakai kata 'Misalnya'?!" balas Andi tertawa kecil.
"Yah, tinggal jawab aja kali?!" ketus Rama.
"Iya, iya, jadi mau nanya apa?" Andi selalu mengalah seperti saat ini.
"Misalnya aku bohong sama kamu, terus suatu saat kamu tahu. Kamu bakalan maafin aku atau gak?"
"Hmm, bohong ya?" Tergantung bohong soal apa dulu. Kalau gak terlalu penting, ya gak masalah dan langsung kelar saat itu juga. Tapi kalau kebohongan Rama terlalu besar, mungkin aku bakalan marah dulu selama beberapa waktu, tapi setelah lewat kita pasti bakalan berbaikan lagi. Gak selamanya kebohongan itu jahat, kan. Lagian kalau Rama bohong, pasti ada alasan di balik itu?!"
"Jangan pasang tampang seserius itu juga kali jawabnya. Kan ini cuma andai saja, jadi gak perlu terlalu serius, An," Rama mengalihkan pembicaraan. Dalam hatinya dia sedikit lega, dia tak akan dibenci. Mungkin mereka akan sedikit menjauh sebagai sahabat, tetapi semua akan kembali seperti semula setelah beberapa waktu.
__ADS_1
"Ini aku mikirnya serius, loh Ram. Jadi jawabnya harus serius juga!" keduanya lanjut mengobrol hingga mereka lelah dan tertidur bersama.