
Sesuai ucapan Rama, setelah sarapan pemuda itu langsung meluncur ke perpustakaan. Dia bahkan izin untuk di sana seharian, masalah makan bisa dia beli kalau dia lapar di luar.
Andi sebenarnya ingin ikut, lagian dia juga berangkat sekitar pukul dua atau tiga sore. Jadi masih banyak waktu hingga waktu janjian tiba, tetapi rama.malah melarang. Dia ingin menghabiskan waktunya sendirian, tanpa ocehan, tanpa celetukan, atau tanpa obrolan. Pemuda itu hanya ingin membenamkan dirinya ke dalam bacaan yang dia baca.
Rama menyetel ponselnya tanpa suara, agar kalau ada panggilan atau pesan yang diterimanya, tak akan ada nada dering yang terdengar. Sudah bisa dipastikan, kawannya akan merecoki dengan berbagai chat hingga kawannya itu berangkat ke tempat janjiannya sendiri. "Dengan begini akan semakin aman tanpa adanya gangguan," gumam Rama tersenyum puas. Pemuda itu pun lanjut membaca buku yang ada di tangannya, masih banyak buku lain yang ditumpuk di atas meja yang telah dipilih oleh Rama sebelumnya, dan itu semua akan dibacanya hari ini juga.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Lain halnya dengan Andi, pemuda itu sibuk mondar-mandir ke sana kemari. Terkadang dia mengangkat tangannya yang memegang ponsel, kemudian dia mulai menggoyang-goyangkan ponselnya, tak lama keningnya mengernyit tak suka. "Kenapa gak ada satu balasan pun yang datang?" kata pemuda itu mengulangi apa yang dilakukannya sejak tadi, sepertinya dia sedang mencari di mana sinyal yang bagus. Andi tak tahu saja, sebenarnya letak permasalahannya bukan karena sinyal, tetapi karena temannya terlalu larut dalam bacaan dan tak menghiraukan ponselnya sama sekali. Belum lagi ponselnya diatur dalam mode diam, lengkaplah sudah sebabnya mengapa kawannya itu tak membalas chat dari dirinya.
Selesai makan siang, Andi berganti pakaian dengan ogah-ogahan. Masih sibuk melirik ponselnya, menunggu balasan dari kawannya, sayangnya masih tak ada perubahan apa pun, layar ponselnya masih polos tanpa notif apa-apa.
Setelah berpamitan pada sang nenek, Andi pun menjemput Kiara. Mereka berjanji akan berangkat bersama dari rumah gadis itu, mungkin agar Kiara bisa melihat bagaimana penampilan Andi sebelum mereka tiba di tempat acara. Jadi kalau ada yang kurang, Kiara tinggal menambakan saja dan semuanya akan sempurna.
Begitu sampai, Kiara disapa oleh banyak kawannya. Andi diperkenalkan oleh mereka satu-persatu, sayangnya Andi tak ada niat untuk mengingat siapa saja yang sudah dikenalkan oleh dirinya. "Jadi ..., yang begini tipe kamu, Ra?" Andi melirik sekilas, meneliti orang yang sedang berdiri sombong di depannya. Andi mengira orang yang berbicara dengan sombong tadi tampangnya cukup tampan, setidaknya setengah dari ketampanan kawannya. Ternyata, sangat jauh. Tak ada tampan-tampannya sama sekali malah.
"Bukan urusan anda?!" ketus Kiara memasang tampang jutek.
"Kamu nolak aku yang anak pengusahaan, tajir, punya tampang, tongkrongan ada? Tapi nyatanya kamu malah terpikat sama cowok dengan badan segini? Tampang gak jamin? Dan kayaknya gak modal untuk bawa mobil sendiri?!" tawa mengejek terdengar dari pria di depan Kiara.
"Jangan hina pasangan gue! Lo bukan siapa-siapa dan gue gak harus dengerin ocehan gak mutu dari mulut busuk lo, Jo?!" desis Kiara menatap tajam mantan teman sekelasnya dulu. Pria yang dipanggil Jo itu dulu berulang kali menembak Kiara. Namun, Kiara selalu menolak. Gadis itu tak mau berhubungan lebih dari teman dan dia tak suka kalau diatur-atur harus ini dan itu kala pacaran. Dia memang suka tebar pesona, tapi dia tak suka dikurung dan dimiliki oleh orang gila yang obsesif. Lagian mobil yang mereka pakai juga mobilnya Andi, dia malah yang dijemput. Tapi masa iya dia harus menjelaskan seperti itu, memangnya siapa Jo harus tahu semua tentang dia dan juga temannya.
"Ha-ha-ha, ini Kia yang gue kenal! Mulutnya pedas dan wajahnya sangat menawan, kamu masih gak sopan, ya Ra?" ucap si Jo terkekeh mengejek Kiara.
"Urus urusan lo sendiri, Jonathan! Jangan pedulikan gue!" kata Kiara menarik Andi pergi. Terlalu pusing kalau harus terus mendengar ocehan tak mutu dari pria seperti Jonathan itu.
"Jadi, lo itu tipe cowok yang berlindung di belakang ceweknya, ha?" teriak Jonathan mulai menyerang Andi.
andi berhenti melangkah, Kiara menggerutu kesal akan kelakuan Jonathan. "Jangan dengerin, biarin aja dia. Anggap aja itu pasien rumah sakit jiwa yang lepas!" bisik Kiara meminta Andi untuk tak menggubris Jonathan yang mulai kelewatan.
Andi menoleh menatap Kiara, dia tersenyum seraya menepuk-nepuk tangan Kiara pelan. "Gak apa-apa, aku juga cukup gila, kok?!" katanya santai.
"Hai, Jojo, kan?" tanya Andi berbalik. "Kenalin aku Andi," lanjut pemuda itu mengulurkan tangannya.
"Gue gak Sudi kenalan sama lo!" ketus Jonathan kekanakan membuang muka ke arah lain.
Andi menarik kembali uluran tangannya. "Well, sebenarnya aku cuma basa-basi aja ngajakin kenalan," ucap Andi santai. "Biar keliatan sopan dan gak kekanakan aja, sih," lanjutnya menarik sudut bibirnya, tersenyum mengejek ke arah Jonathan.
"Lo ...? Ugh, ck," decak Jonathan kehabisan kata.
"Ayo kita pergi, Ra..Sepertinya temanmu untuk beberapa saat tak akan mengajak kita bicara lagi," ajak Andi, Kiara mengangguk sebagai balasan. Mereka berdua berpindah tempat, menjauh dari pria rese seperti Jonathan.
Hingga acara berakhir, Jonathan tak lagi terlihat batang hidungnya. Pemuda itu tak lagi mendekati dan mencari gara-gara dengan Kiara. Di mobil, Kiara terus mencuri-curi pandang melirik ke arah Andi. "Kenapa? Kalau mau ngomong ya ngomong aja, Ra," ucap Andi tiba-tiba.
__ADS_1
"Eh, uh, anu, itu, An," balas Kiara kebingungan, gadis itu pun menarik napas panjang sebelum kembali berbicara. "Aku ..., minta maaf soal si Jo tadi," kata gadis itu dengan suara menyesal.
"Ayolah, gak apa-apa. Lagian aku juga gak berantem sama tuh orang!" timpal Andi tak ambil pusing masalah tadi.
"Tapi dia udah kurang ajar, bahkan ngehina kamu segitunya. Makanya aku minta maaf ngewakilin dia, karena walau bagaimana pun dia pernah jadi teman aku dulu!" ucap Kiara sungguh-sungguh.
Andi mengangguk ringan. "Baiklah. Btw, itu orang pernah jadi pacar kamu atau cuma dia aja yang naksir sama kamu, Ra?" tanya Andi sedikit penasaran.
"Dia nembak terus aku nolak, gak kehitung berapa kali dia nyoba. Sampai pas lulus-lulusan pun dia tetep aja dengan bodohnya nembak aku dari podium di depan semua guru. Dasar sakit jiwa?!" dengus Kiara mengungkit kenangan buruk yang pernah terjadi dalam hidupnya, karena itu dia sering mimpi buruk kalau dia sedang sakit.
Andi bertepuk tangan." Wow, luar biasa! Keberaniannya patut dipuji?!" tukas Andi mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Itu bukannya berani lagi namanya, tapi udah gak waras! Bikin malu tapi malah ngajak-ngajak," timpal Kiara tak suka. "Tapi tadi kamu cukup hebat juga ngelawan si Jo," lanjut gadis itu melirik Andi sekilas.
Andi mengangkat bahu ringan. "Anggap aja aku udah banyak latihan sama Rama, jadi kalau kalah dari orang kayak gitu, entah berapa tahun si Rama bakalan ketawa kalau dia tahu," ucap Andi dengan nada khawatir kalau apa yang dia bayangkan bakalan terjadi. Untungnya dia berhasil membuat orang tadi diam dan tak muncul lagi di depannya hingga acara selesai.
"Huh, si Jo itu emang dari dulu cuma jago adu mulut aja, kalau ada yang ngelawan mana berani dia ngoceh lagi. Selain pemaksaan dan sok kecakepan, pokoknya dia temen yang gak bagus kalau dideketin!" dengus Kiara membuka aib Jonathan.
"Heh, belum aja dia ketemu sama Rama, kalau ketemu pasti dia bakalan gak berani bercermin lagi, gegara dia sadar kalau wajahnya cuma kayak gurita doang," kekeh Andi bersemangat membayangkan apa yang dia katakan barusan.
Kiara mengangguk membenarkan, yakin kalau apa yang Andi ucapkan pasti bakalan terjadi kalau Jonathan ngeliat pahatan sempurna wajah Rama, sahabat mereka. "Atau mungkin dia gali lubang dan sembunyi di sana gara-gara malu udah pernah ngerasa bangga jadi orang cakep, tahu-tahunya malah kayak cumi-cumi kering aja mukanya!" keduanya tertawa terbahak-bahak, sedangkan Jonathan yang dijadikan objek obrolan, terus-menerus batuk tanpa berhenti.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
"Gimana? Berapa banyak buku yang kebaca hari ini, Ram?" tanya Andi begitu keduanya turun dari mobil masing-masing.
"Entah, aku asal baca gak pernah ngitung jumlah tepatnya," balas Rama mengangkat bahunya santai. "Kamu sendiri gimana?" lanjut Rama balik bertanya.
Andi menyampirkan tangannya ke bahu Rama, keduanya berjalan bersama ke dalam rumah. "Luar biasa, aku ngalahin orang cuma pakai kata-kata?!" timpal Andi bangga pada dirinya sendiri.
"Bagus, yang penting bukan kamu yang cari masalah duluan?!" kata Rama dengan nada santai.
"Aku tuh anak baik, Ram. Gak pernah nyari masalah, gara-gara, atau ngajak berantem! Tapi tuh orang duluan yang mulutnya lemes banget, menghina Kiara, aku pun ikut kena hinaannya!" adu Andi.
Rama berhenti melangkah, berbalik dan menatap lurus sahabatnya. "Apa katanya?" tanya pemuda itu dengan nada dingin.
"Santai, Tak, santai. Aku udah ngalahin dia, kok," ucap Andi yang tahu kalau sobatnya itu saat ini sedang marah untuk dirinya.
"Gak mau bilang? Oke, aku cari pakai cara aku dan kamu tahu kan gimana nasib orang itu?" ancam Rama, mata pemuda itu menyipit menuntut jawaban.
"Dia cuma ngejek badan aku, tampang aku, sama katanya aku gak punya tongkrongan, udah itu aja, Ram," aku Andi cepat dari pada masalah makin melebar.
Rama mengangguk paham. "Namanya?" tanya pemuda itu lagi.
__ADS_1
"Jonathan, itu aja yang aku tahu," jawab Andi jujur.
Rama tersenyum tipis. "Baiklah, ayo kita masuk dan makan malam bersama nenek. Kita bicarakan tentang orang itu nanti saja?!" semakin manis senyum sahabatnya itu, maka akan semakin kejam pembalasan yang akan kawannya itu berikan. Andi hanya berdo'a untuk Jonathan, meski menyebalkan tapi Andi tidak bisa untuk tidak menaruh iba pada pemuda itu.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Seminggu kemudian, pemuda yang bernama Jonathan datang dengan tampang kusut ke kampus Rama dan kawan-kawannya. "Tolong maafkan aku, aku menyesal, jadi tolong lupakan semua yang aku katakan tentang kamu?!" katanya begitu dia melihat Andi, bahkan pemuda itu bertekuk lutut di lantai dan memohon dengan wajah penuh penyesalan.
"Huh? Aku gak ngerti apa-apa? Pertama-tama tolong berdiri dulu, jangan menarik perhatian di sini, aku masih ingin menimba ilmu dengan damai di kampus ini?!" pinta Andi dengan wajah bingung.
"Aku gak akan berdiri sebelum kamu memaafkan aku, aku yang bodoh, aku yang buta, aku cemburu dan mengganggu orang yang salah," kata Jonathan mengakui kesalahannya pada Andi.
"Iya, iya, aku maafkan, cepetan dah berdiri, malu aku diliatin orang?!" timpal Andi.
"Benarkah?" Andi mengangguk cepat agar si Jo mau lekas berdiri.
"Terima kasih, dan tolong lepaskan keluarga aku. Ini kesalahan aku, jangan menyusahkan ayah dan ibuku. Ayahku pusing karena masalah perusahaan dan ibuku ikut jatuh sakit sekarang, lepaskan aku kali ini dan aku berjanji tak akan muncul lagi di depanmu!" ucap Jonathan dengan tampang memelas. Sikap angkuh dan mulutnya yang penuh hinaan seketika sirna, pemuda itu terlihat menyedihkan sekarang.
"Sebenarnya ada apa ini?" Tanya Kiara berbisik pelan.
"Mana kutahu?!" balas Andi ikutan berbisik lirih.
"Emm, begini, Jo ..., sebenarnya aku gak paham apa maksud kamu dan kenapa kamu minta tolong sama aku," kata Andi menggaruk pipinya canggung. Dia menatap kawannya Rama, kemudian dirinya menggelengkan kepalanya. Tak mungkin kan kawannya yang berada di balik semua ini, benar pasti bukan kan.
"Bisa kita pindah tempat? Aku tak suka jadi bahan tontonan?!" tukas Rama dengan nada datar. Jonathan melongo, mengangguk seperti orang bodoh yang terhipnotis seketika. Kiara dan Andi cekikikan, mengingat apa yang mereka obrolkan tempo hari sepulang dari acara reuni'an.
Kini keempatnya sedang duduk di kafe, Rama memilih meja di pojokan agar bisa bicara tanpa diperhatikan orang lain. "Jadi, hanya segini anda bisa meminta maaf pada teman saya?" tanya Rama membuka mulut, matanya menatap lurus Jonathan.
"Jangan-jangan ..., kamu, Ram?" tunjuk Andi tak percaya. Rama mengangkat bahu acuh sebagai balasan.
Jonathan memegang tangan Andi dengan putus asa. "Tolong maafkan aku, aku tak akan berbuat seperti itu lagi!" katanya memohon.
Rama menepis tangan Jonathan yang memegang tangan kawannya dengan kuat. "Makanya jangan nyari gara-gara?!" ketusnya dengan nada dingin. "Kubilang minta maaf yang benar, bukannya nyuruh kamu pegang-pegang tangan sahabat aku, ya?!" lanjut pemuda itu mendengus kesal.
"Aku bersalah, tolong hukum aku tapi lepaskan ayah dan ibuku?!" kata Jonathan putus asa.
Rama tertawa sinis. "Ayah dan ibu atau perusahaan kalian, hmm? Buatlah permintaan yang benar!"
Jonathan memejamkan matanya, dia kalah di depan kekuatan yang superior, padahal usia mereka sama. "Perusahaan kami," jawab Jonathan lirih.
"Baiklah, sebagai gantinya jadilah pengawal kawanku selama sebulan, babu yang setia selama sebulan, dan turuti semua yang dia katakan!" Jonathan mengangguk cepat, menerima tawaran dari pemuda di depannya itu.
Andi menepuk dahinya melihat kelakuan kawannya, sedangkan Kiara malah mengacungkan jempol merasa kalau Rama sangat kerena.
__ADS_1