
Sudah dua hari Rama dan Andi bergantian bertugas memasak. Untuk makan siang, mereka memilih membeli makanan di luar. Selain karena keduanya sama-sama sibuk, mereka berdua tak punya waktu untuk makan bersama.
"Bagi minum, dong," ucap Andi saat dia baru pulang, terlihat sangat kelelahan.
"Habis ngapain?" tanya Rama menyodorkan segelas air hangat.
"Main bola," jawab Andi dengan napas terengah-engah. "Gak ada yang dingin apa?" tanya pemuda itu protes, tetapi masih saja menghabiskan air yang diberikan kawannya.
"Minum aja, gak boleh kebanyakan minum air dingin," balas Rama.
Andi cemberut, tapi tak protes lagi. "Tumben dah balik jam segini?" kata Andi melirik jam dinding.
"Gak ada jadwal, semua udah aku selesaikan," balas Rama menanggapi.
"Akhirnya, aku gak harus makan siang sendiri hari ini," timpal Andi dengan nada bersyukur. Rama tersenyum tipis, lanjut memasak entah apa yang akan dimasak pemuda itu. Selesai memasak, keduanya makan dengan lahap.
"Apa nama masakannya ini, Ram?" tanya Andi menyuapkan makanan ke mulutnya.
Rama mengangkat bahu acuh. "Gak tahu, gak penting nama, yang penting bisa jadi lauk," balas Rama.
"Sebagai orang yang masak ini,kamu harus ngasih nama, dong," kata Andi lagi.
"Serah asal enak," ucap Rama cepat. Andi tergelak, nama macam apa itu. "Jangan kebanyakan ngoceh, ntar tersedak baru tahu!" lanjut Rama mengingatkan. Andi menganggukkan kepalanya, menutup mulut dan tak lagi tertawa. Dia hanya sibuk mengunyah tanpa berbicara lagi.
Selesai makan, Andi menawarkan diri mencuci piring yang mereka gunakan. Kelar dengan urusannya dengan cucian piring, Andi bergabung dengan kawannya. Rama terlihat sibuk menata buah potong, pencuci mulut katanya. "Tahu aja aku pengen makan buah," celetuk Andi mencomot satu dari piring.
"Kenapa gak makan dari tadi kalau gitu?" ucap Rama datar.
"Malas ngupas sendiri, he-he," cengir Andi mengaku.
"Dasar," balas Rama menggelengkan kepalanya.
"Oh ya, An. Kalau ada orang yang udah berbuat salah dan kesalahannya itu besar banget, kamu masih bisa ngasih kesempatan gak sama itu orang?" mulut Rama lebih dulu bertanya tanpa tahu bagaimana tanggapan kawannya. Ini karena sahabatnya ini menjadi lebih sering bermimpi buruk, dan mimpi itu ditakutkan Rama akan menjadi pemicu kawannya mendapatkan ingatannya lagi.
"Tergantung, salahnya segede apa dan seberapa tulus dia minta maaf," balas Andi kembali memasukkan buah ke mulutnya.
"Kebohongan yang membuat orang yang dia bohongi mendapat identitas lain?" Andi terdiam, menatap kawannya lurus. Sedikit merasa aneh kawannya itu bertanya hal seperti ini.
Andi menggaruk pipinya. "Engg, kalau itu, aku juga gak tahu bisa ngasih kesempatan atau gak. Tapi kalau emang itu orang minta maaf dan mengaku salah, mungkin masih ada kesempatan. Mungkin?" kata Andi ragu. "Lagian kenapa ngomongin ini, sih?" tanya Andi tak paham. "Gak biasanya kamu ngomongin hal yang gak penting, kan?" lanjut pemuda itu lagi.
Rama mengangkat bahunya ringan. "Iseng aja, jadi kalau aku bersalah, aku bisa minta maaf ribuan kali sama kamu ke depannya," balas Rama dengan nada datar.
"Seorang Rama berbuat salah? Tak bisa dipercaya?!" tukas Andi memutar bola matanya seakan itu hal mustahil yang tak akan pernah sahabatnya lakukan.
"Dengar, An. Aku punya banyak hal yang gak kamu tahu. Aku punya sisi yang gak ingin aku perlihatkan, dan aku punya banyak salah, terkhusus padamu!" suara Rama terlalu serius, sehingga Andi tak tahu bagaimana menanggapinya.
__ADS_1
"Dahlah, aku kenyang. Mau keliling taman dulu untuk membantu mencerna makanan tangan aku makan tadi," kata Andi melarikan diri. Dia bingung, pemuda itu tak bisa menanggapi dengan tepat.
"Maafkan aku, ya, An!" kata Rama dengan senyum.kecut.
Andi mengangkat kedua jempolnya sebagai jawaban. "Pasti, aku punya banyak stok maaf buat kamu, kawan!" balas Andi terkekeh pelan.
Rama menatap Andi yang pergi menjauh, dia tersenyum getir. "Mungkin meski kamu gunakan semuanya, itu tak cukup untuk memaafkan semua kesalahan yang aku perbuat padamu!" desah Rama mendongakkan kepalanya, menatap langit-langit dengan wajah putus asa.
Rama ingin mengaku, Rama ingin jujur akan semuanya. Dari pada kawannya mendapatkan gambaran dari semua mimpi-mimpi itu, lebih baik dia yang mengatakan semuanya. Katakan saja ini untuk dirinya sendiri, agar kawannya tak terlalu membenci dirinya. "Seharusnya aku mengaku saja tadi," ucap pemuda itu mendesah lelah.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Rama berjalan santai di taman, menikmati aneka bunga yang dulunya sangat disukai almarhum neneknya. Pemuda itu menendang-nendang batu kecil yang terlihat di depannya. "Kenapa coba harus ngomongin tentang kesalahan?" gerutu Andi tak paham akan kelakuan kawannya.
Tak lama kening pemuda itu mengernyit bingung. "Apa aku ngelakuin salah, trus aku gak nyadar, dan gak minta maaf, ya?" gumam Andi memikirkan kesalahan apa yang dilakukannya, dia mencoba dan terus mencoba untuk mengingat. Sayangnya, Andi tak bisa mengingat kalau dia pernah membuat kesalahan pada kawannya.
"Tak peduli apa pun, aku bakalan minta maaf sama Rama ntar!" kata Andi mengangguk yakin.
Pemuda itu kembali ke dalam, dia melihat kawannya menatap kosong langit-langit, Andi pun semakin yakin kalau dia telah melakukan kesalahan tapi dirinya lupa apa itu. "Ram, Ram, maafin aku, oke? Aku gak tahu aku salah di mana atau gimana, tapi aku minta maaf karena jujur aku lupa apa aku pernah berbuat salah!" aku Andi menangkupkan telapak tangannya sambil memejamkan mata.
Rama menoleh, menatap sahabatnya dengan tatapan bersalah. "Harusnya aku yang minta maaf, An. Bukan kamu," kata pemuda itu getir. Nada yang tak pernah Andi dengar sama sekali.
"Ram, Rama? Kamu gak lagi kesambet, kan?" tanya Andi ragu, sedikit takut kalau apa yang dikatakannya itu benar terjadi.
"Aku sadar, An," Dengus Rama memutar bola matanya malas.
Rama diam, apa dia harus mengatakannya sekarang. Apa tak bisa dia diam saja, tapi dirinya hanya ingin bersahabat tanpa dicurigai oleh kawannya itu. Kalau Andi ingat sendiri, pasti pemuda itu akan membenci dirinya. Bisa saja Rama kembali membuat kebohongan yang baru kalau dirinya juga tak ingat apa-apa, tapi sampai kapan kebohongan dan kebohongan akan bertahan. Dia ingin merasa nyaman dan berteman dari hatinya, bukan karena kebohongan.
"Aku mengambil tempatmu," ucap Rama dengan senyum kecut, sudah siap kalau dia memang harus dibenci oleh kawannya karena mengaku dengan tiba-tiba.
Andi terdiam, berpikir beberapa saat sebelum dia menjentikkan jarinya seolah paham. "Ahh, kamu ngambil tempat duduk aku, gitu?" ucap Andi.
Rama menggelengkan kepalanya pelan. "Posisi, keluarga, nama, semuanya, semua ini harusnya milikmu," aku Rama menatap serius kawannya.
Andi terkekeh gak percaya dengan ucapan kawannya. "Berhenti bercanda, ini sangat tak lucu, Ram," ucap pemuda itu memperingatkan.
"Aku serius, aku bisa mengatakannya berulangkali kalau kamu masih tak juga mau percaya. Aku bisa menceritakannya dari awal, aku juga akan meminta maaf sebanyak yang kamu mau selama sisa hidupku!" balas Rama tanpa berkedip.
"Kenapa baru sekarang? Saat kakek dan nenek sudah gak ada!" tanya Andi, keceriaan pemuda itu hilang, terganti dengan nada dingin. Sepertinya cara bicara kawannya menukar padanya karena dia merasa dikhianati dan marah. "Apa karena warisan?" tanya Andi mendengus kesal.
Rama menggelengkan kepalanya. "Aku bahkan gak peduli dengan hal itu. Aku hanya lelah harus terus menipu, aku ingin kita berteman dengan lebih tulus lagi," aku Rama.
"Aku gak tahu, aku gak ngerti, aku belum paham sama sekali!" keluh Andi mengusap wajahnya kasar.
"Dan aku bisa menceritakan semua yang ingin kamu tahu dari awal!" timpal Rama, pemuda itu mulai bercerita. Dari mana asalnya, bagaimana dia sampai ke kota ini. Saat dia menolong Andi, cara dia berbohong, semua pemuda itu ceritakan tanpa ditutupi sedikit pun.
__ADS_1
Andi terkekeh pelan. "Gila, apa ini cerita di novel-novel? Atau drama televisi yang dulu sering kita tonton dengan Nek Lidya?" tanya Andi dengan tatapan terluka. "Aku gak tahu harus gimana menanggapi ini semua, Ram?!" setitik air mata jatuh di pipi pemuda itu, dengan cepat pemuda itu menghapusnya.
"Maaf, tak ada yang bisa aku lakukan selain mengucapkan kata maaf, An," kata Rama dengan wajah tertunduk.
"Jangan temui aku untuk sementara, Biarkan aku mencerna semua yang aku dengar kali ini," timpal Andi memutuskan untuk menyendiri sementara waktu ini.
"Jangan lakukan hal aneh-aneh, An. Marah saja kalau memang kamu marah, tampar, pukul, atau usir aku sekalian. Tapi jangan menyakiti dirimu sendiri," pinta Rama serius.
"Jangan mengaturku seolah kamu peduli?!" teriak Andi mengepalkan tangannya kuat.
"Tapi aku memang peduli," balas Rama pelan.
"Huh, dan kamu ingin aku percaya?" dengus Andi kesal. "Setelah semua kebohongan yang kamu lakukan? Jangan bercanda?!" lanjut pemuda itu membuang muka ke lain arah.
Rama tertawa getir. "Kamu benar, aku pendosa yang tak bisa dipercaya. Jadi, bisakah aku menghilang saja?" kata Rama dengan nada lelah. "Aku akan meminta maaf tiap hari, tapi kita tak harus bertemu untuk itu, kan?" lanjut pemuda itu lagi.
"Awas kalau kamu berani menghilang dan melarikan diri! Jangan harap aku bakalan maafin kamu?!" ancam Andi sebelum dia masuk ke kamarnya. "Aku hanya minta waktu, bukan menyuruh kamu menghilang!" lanjut pemuda itu berteriak sedikit lebih nyaring.
Rama tersenyum kecut, dia sudah siap kehilangan segalanya. Tetapi kawannya malah memberikannya kesempatan kedua. Apa mereka bisa berteman seperti sebelumnya, seperti saat Rama belum mengakui kesalahan-kesalahan yang dia perbuat pada Andi, sahabatnya. "Gunakan waktu sebanyak yang kamu mau, An," gumam Rama pasrah. Dia yang salah, dia siap untuk menerima apa pun keputusan kawannya nanti
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Andi membanting tubuhnya ke atas kasur, dia menghela napas berat. Tak lama, pemuda itu terkekeh. Namun, kekehannya terdengar sangat menyedihkan. "Aku ditipu, hanya aku yang tulus. Hanya aku yang ingin membantu, hanya aku yang bodoh di sini!" kata Andi menghapus pipinya. Dia orang yang sangat perasa, bahkan menonton drama saja dia sering menangis, apa lagi dia dibohongi seperti ini. Tentu saja dia pasti merasa sangat sedih.
"Itukah sebabnya aku selalu bermimpi buruk?" gumam pemuda itu mengingat akhir-akhir ini mimpi buruknya semakin sering muncul. "Mungkin itu juga sebabnya Rama mau repot-repot menemani aku, ya?" ucap Andi terkekeh lagi.
"Aku benci diriku yang tak bisa langsung memaafkan sahabatku sendiri, tapi aku lebih benci perasaan kesal karena dibohongi seperti ini," keluh Andi menghela napas panjang. "Gak tahu, ah. Lebih baik aku tidur dulu!" kata pemuda itu mencoba memejamkan matanya. Dia memilih tidur di kamarnya sendiri, terserah kalau dirinya akan bermimpi buruk, dia juga tak akan mati karena mimpi seperti itu.
Lain halnya dengan Rama, pemuda itu tak bisa memejamkan matanya. Selain karena rasa bersalah, dia juga khawatir dengan sahabatnya. Akhirnya, pemuda itu memutuskan untuk menunggu di depan kamar Andi. Jadi, kalau ada apa-apa dengan temannya, dia akan langsung datang. Yah, siapa yang tahu seburuk apa mimpi yang akan dialami kawannya itu malam ini.
Pagi menjelang, Andi sedikit terkejut melihat kawannya tidur terduduk di depan kamarnya. Sepertinya tadi malam kawannya itu menunggui dirinya, Andi sedikit tersentuh, tetapi kata maaf tak akan semudah itu didapatkan. Andi melengos pergi tanpa membangunkan Rama, dia memilih berangkat ke kampus. Masalah sarapan bisa dia beli di kantin nanti, intinya dia malas bertemu dengan kawannya untuk saat ini. Katakan saja kalau dia pengecut, Andi tak peduli. Dia hanya ingin membuang semua kemarahan dan kekecewaan yang dia rasakan saat ini. Setelahnya, dia baru akan berbicara dengan kawannya saat dirinya lebih tenang. Lebih siap mendengarkan tanpa emosi yang akan memperburuk keadaan.
"Napa tuh muka?" ucap Kiara mencolek pipi Andi. "Ditekuk gitu?" lanjut gadis itu heran. "Ahh, jangan-jangan belum ngerjain tugas, ya?" tebaknya asal sambil cekikikan.
"Ada sedikit masalah," balas Andi dengan nada malas.
"Apaan? Cerita sini, siapa tahu aku bisa bantu. Meski gak bantu pun, aku bisa jadi pendengar yang baik dan hati kamu lebih ringan pasti kalau udah cerita," timpal Kiara menarik kursinya agar lebih dekat dengan Andi.
"Percuma, gak akan ada gunanya juga," keluh Andi membuang muka, enggan bercerita pada siapa pun.
"Mana kau tahu kalau belum curhat," desak Kiara semakin penasaran. Apa yang membuat pemuda ceria seperti Andi sampai menekuk wajahnya begini.
"Malas!" ketus Andi tetap memilih bungkam. "Dahlah, jangan tanya-tanya lagi. Makin kesel aku, tahu gak?!" lanjut Andi beranjak pergi meninggalkan Kiara yang melongo sendirian.
"Woi, aku tuh perhatian, tahu! Bukannya kepo atau apa?!" teriak Kiara tak terima. Apa segitunya dia tak bisa dipercaya, sampai-sampai sahabatnya tak mau menceritakan masalah yang dia hadapi. Ahh, memikirkannya saja membuat Kiara ikutan kesal. "Semoga masalahmu gak selesai-selesai!" umpat Kiara kesal, gadis itu sampai menghentakkan kakinya saking kesalnya dirinya.
__ADS_1
...°°°°°...
...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...