
Rama menyuruh Jonathan pergi, Jonathan pun menghilang dengan cepat, tak mau cari masalah lagi dengan Rama dan yang lainnya. Selepas kepergian Jonathan, tinggallah mereka bertiga di kafe itu. "Sebenarnya kamu apakan anak orang, Ram?" desah Andi pusing. Entah apa yang sudah kawannya itu lakukan hingga Jonathan datang dengan terburu-buru tanpa mempedulikan penampilannya sendiri.
"Apa pun itu, pokoknya KEREN!" Kiara mengacungkan jempol memuji Rama. "Itu baru namanya temen?!" kata gadis itu lagi.
"Aku belum ngapa-ngapain, dia-nya aja yang terlanjur ketakutan duluan," timpal Rama kelewat santai. Andi yakin kalau kata 'Belum' yang diucapkan kawannya memiliki arti berbeda dari yang dia tahu.
"Belum ngapa-ngapain aja udah begitu, gimana kalau kamu ngelakuin ini-itu, ya?" celetuk Kiara mengatakan apa yang ada dipikirannya.
"Entahlah," balas Rama acuh.
"Ram, jujur, kamu ngapain? Jangan bilang gak ada, gak ngapa-ngapain, karena aku gak percaya!" desak Andi menatap lurus kawannya. Dia senang kalau kawannya berada di pihaknya, tetapi jangan sampai kawannya itu kelewatan.
"Eh, jadi temen gak boleh begitu, An. Masa kamu curiga sama sahabat kamu sendiri, sih," tegur Kiara menyela.
Andi menghela napas panjang, matanya beralih menatap Kiara. "Kamu gak kenal baik sama kawan aku ini, Ra!" ucap Andi dengan wajah serius.
Rama berdecak lidah, sedikit kesal kenapa kawannya sangat mengenal dirinya. "Aku hanya ikut campur sedikit masalah perusahaan mereka," tukas Rama mengaku. "Sumpah, aku gak ngapa-ngapain lagi selain itu?!" lanjut pemuda itu saat mendapatkan tatapan tak percaya dari kawannya.
"Dan si Jo yang kemaren masih sombong itu langsung panik terus ketemuin kamu? Cuma gegara kamu ikut campur sedikit?" timpal Andi setengah percaya.
Rama mengangguk yakin. Dia memang ikut campur sedikit, sedikit membumbui biar tak ada yang mau berinvestasi, membeli sebagian saham yang mereka jual untuk menutupi kerugian, dan mengirim pesan dengan kata yang sudah dirangkai Serapi mungkin agar tak terdengar seperti sebuah ancaman. Hanya sedikit, bukan. Dia bahkan hanya bekerja dengan sebuah laptop saja, tanpa harus turun ke lapangan dan bertemu banyak orang atau membuang banyak tenaga.
"Lupakan aja, dia juga pantas, kok dapat balasan begitu," kata Kiara tak peduli.
"Baiklah, makasih, ya Ram. Tapi jangan kelewatan lain kali," timpal Andi menatap kawannya dengan tatapan bersahabat.
"Bukan untukmu, aku hanya tak suka kalau dia mengusik sahabat yang aku miliki. Jadi aku ikut campur hanya untuk menjaga agar aku gak kehilangan muka aja," kilah Rama membuang muka ke arah lain.
"Apa susahnya, sih kalau kamu ngaku aja. Gak usah ngelak gitu," dengus Andi.
"Pulang sana!" usir Rama menatap Kiara. "Ngapain ngikut nyampe ke sini juga?!" lanjut pemuda itu. Andi memutar bola matanya, tahu kalau kawannya itu menghindar untuk menanggapi ucapannya tadi, makanya dia sekarang nyari gara-gara dengan Kiara.
"Huh, biasanya juga gak protes, Ram?!" dengus Kiara setengah kesal, dia kira dirinya sudah terhitung sebagai sahabat, kenapa masih diusir seperti itu.
"Dahlah, aku aja yang balik. Kasian nenek di rumah nunggu?!" ucap Rama melarikan diri.
"Oi, oi, pesanan kamu belum dihabisin ini!" panggil Andi menatap kawannya yang semakin menjauh. Rama hanya melambaikan tangannya tanpa menoleh, Andi mendecakkan lidahnya karena ditinggal. Tak lama ponsel Andi berdering, sebuah pesan terlihat di layarnya. Menyatakan kalau Andi harus menggunakan pekerja gratis yang diberikan padanya sebaik mungkin.
Andi tersenyum tipis setelah membaca pesan yang dikirimkan oleh Rama. "Dasar," gumam pemuda itu. Selesai membayar, dia pun memilih pulang menyusul kawannya. Kiara juga pulang ke rumahnya sendiri.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Bondan, dokter tua yang tinggal di desa dan juga orang yang merawat Ponco telah menutup usianya. Kini Ponco yang menempati rumah itu sendirian, dia juga yang menggantikan tugas si dokter tua untuk mengobati orang-orang desa yang tengah sakit dan datang padanya. Untungnya Ponco telah belajar cukup banyak dari dokter itu, meski wajahnya terlihat buruk karena bekas luka bakar, tetapi warga desa di sini tak ada yang menghina dirinya.
__ADS_1
Suatu hari yang sunyi, Ponco memilih untuk berkemas dan meninggalkan desa. Berbekal uang yang dia hasilkan dan juga uang yang Bondan tinggalkan untuknya, Ponco menetapkan tekad untuk kembali dan menuntut Rama. Entah bagaimana kabar musuhnya itu sekarang, dia kekurangan informasi selain dari koran yang sering datang terlambat. Saking jauhnya desa yang dia tinggali, Ponco baru bisa menerima koran setelah sebulan atau dua bulan dari waktu cetak koran tersebut.
Para warga yang tinggal di sana, melepas Ponco dengan setengah tak rela. Mereka merasa kalau Ponco sudah dianggap sebagai bagian dari desa mereka, belum lagi Ponco telah menjadi pengganti Bondan, bertambaahlah alasan tak rela melepas pria itu pergi.
Ponco pergi diiringi banyak do'a agar dia selalu berhasil, pemuda itu juga disuruh untuk kembali kalau sekiranya hidup di luar sana terlalu berat untuk dirinya sendiri. Ponco mengangguk, kemudian berbalik pergi tanpa menoleh ke belakang sekali pun. Dia tak ingin hatinya bimbang, hingga dirinya memutuskan tak jadi pergi. Padahal menuntut Rama adalah salah satu hal yang dia sangat inginkan.
Setelah menyeberangi lautan luas dan berganti kendaraan beberapa kali, akhirnya Ponco sampai juga di tempat musuhnya berada. Lebih dari sepuluh hari dia habiskan untuk menempuh perjalanan hingga sampai di tempat yang sama dengan Rama. Sungguh perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan.
"Haruskah aku melamar sebagai pekerja di rumahnya? Menjadi tukang kebun pun tak masalah," pikir Ponco berencana menjaga musuhnya dari dekat.
"Ha-ah, untuk sekarang aku harus mencari makanan dulu. Perutku terlalu ribut karena sangat kelaparan," desah Ponco mengelus perutnya. Ponco memakai topi jaketnya, dia pun masuk ke salah satu warung yang paling dekat dengannya dan memesan sepiring nasi beserta lauk. Setelah selesai makan dan membayar semua, Ponco melangkah dan terus melangkah hingga sampai di depan gerbang rumah Rama. Dia terus duduk di sana dengan gampang memelas, siapa tahu saja dia akan dikasihani dan dibawa masuk karenanya.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Andi yang baru saja pulang melihat seseorang yang tertidur tak jauh dari gerbang rumah mereka, pemuda itu merasa iba lalu turun dari mobilnya. Dia tak takut kalau orang yang dilihatnya itu orang jahat, karena ada penjaga yang menjaga di depan gerbang. "Halo, tuan, kenapa tuan di sini? Apa ada seseorang yang tuan cari dan bekerja di rumah itu?" tanya Andi sambil tersenyum tipis.
"Saya, saya hanya sedang mencari pekerjaan dan lelah, jadi saya beristirahat di sini karena tak memiliki tenaga untuk berjalan lagi. Maaf kalau saya mengganggu." wajah menunduk, suara yang memelas iba, Ponco menyembunyikan senyum licik di dalamnya.
"Pekerjaan? Hmm, aku tak tahu apa nenek bisa memperkerjakan anda, tapi aku bisa menolong agar anda beristirahat lebih nyaman, tuan," ujar Andi berbaik hati menolong Ponco.
"Tak apa, tak apa, jangan dipikirkan, tuan muda, saya hanya pria dengan wajah mengerikan, setelah tenaga saya pulih sedikit, saya akan pergi dari sini agar tak merusak pemandangan!" Ponco mendongak memperlihatkan wajahnya yang rusak.
Andi semakin iba pada pria di depannya ini. "Ikut saja saya, saya akan meminta nenek untuk memberikan pekerjaan apa pun, tolong jangan tolak niat saya membantu anda, tuan," ucap Andi hati-hati agar tak menyinggung perasaan pria di depannya.
Dengan bantuan dari Andi, Ponco mendapatkan pekerjaan dengan mudah. Pria itu ditugaskan membersihkan kebun dan diperbolehkan tinggal di rumah terpisah, rumah khusus untuk para pekerja yang tak memiliki rumah.
Beberapa hari bekerja, Ponco mengamati Rama dari kejauhan. Dia mencatat semua kegiatan yang Rama lakukan sebagai sumber informasi penting untuk menunjang rencananya. Karena rasa penasaran apa musuhnya akan mengenalinya atau tidak, Ponco sengaja menampakkan diri di depan Rama. "Siapa kamu?" Rama mengernyit melihat wajah yang tak dikenalinya.
Belum sempat Ponco menjawab, Andi yang baru datang menyela dari belakang. "Namanya Beno, Ram. Beliau ditugaskan bersih-bersih taman," ucap Andi menjelaskan.
"Beno?" ucap Rama dengan suara datar, matanya memicing menatap penuh selidik pria di depannya. Dia merasa hawa yang sudah biasa dia rasakan, sedikit mengancam tapi tak membuat masalah. Hawa kelicikan dan niat tersembunyi yang kental dari pria di depannya ini.
"Benar, tuan muda," balas Ponco yang mengganti namanya menjadi Beno, dia juga mengubah suaranya sendiri.
"Kenapa menunduk dari tadi?" tanya Rama mencari cara untuk melihat wajah pria di depannya.
"Anu, tuan muda, begini ...," ucap Beno berpura-pura ragu.
"Di wajahnya terdapat luka bakar yang cukup parah, Ram. Mungkin beliau tak mau memperlihatkan wajahnya agar orang-orang tak menatapnya dengan tatapan iba atau pun takut," bisik Andi menjelaskan. Ponco menyembunyikan senyumnya, merasa berterimakasih ada orang bodoh yang mau mewakili dirinya berbicara.
"Angkat kepalamu, saya harus melihat pekerja yang bekerja di rumah saya!" titah Rama.
"Sudahlah, Ram, jangan begini, kasihan Paman Beno. Maafkan kawanku, ya paman," ucap Andi menengahi. Dia tak ingin kawannya memaksa, dan merasa dirinya harus mewakili sahabatnya itu meminta maaf.
__ADS_1
Ponco mendongak, memperlihatkan wajahnya sambil tersenyum maklum. "Tak apa, tuan muda. Saya tak masalah," katanya dengan sanga ramah. 'Lihatlah, lihat sebanyak yang kamu mau wahai si tanpa nama. Lihat saja sebanyak mungkin, kamu tak akan mengenali aku, musuh yang kamu kira sudah kamu singkirkan?!' ucap Ponco di dalam hati, dia yakin musuhnya tak akan mengenali dirinya.
Rama tersenyum tipis menatap lekat pria di depannya. "Ikut denganku, aku memiliki pekerjaan untukmu!" ujar Rama dengan nada memerintah.
"Ram, tugasnya cuma nyapu-nyapu taman, Ram. Nek Lidya sendiri yang ngasih kerjaan," cegah Andi dengan cepat.
"Tak apa, nanti aku bilang sama nenek. Aku juga bakalan ngasih uang lebih di luar gaji yang dia terima," balas Rama tak mau dibantah. "Yah, kalau tak mau juga tak masalah. Aku gak memaksa," lanjut Rama dengan nada santai.
"Akan saya kerjakan, tuan muda?!" ucap Ponco cepat, dia yakin kalau Rama tak mengenalinya dan memang hanya memerlukan tenaganya makanya dia diminta ikut dan membantu pemuda itu.
"Aku juga boleh ikut? Aku bisa bantu-bantu meski sedikit, Ram," timpal Andi yang merasa iba kalau pekerja baru itu bekerja sendirian.
Rama mengangkat bahu acuh. "Tak masalah, kalau kamu gak apa-apa bolos kelas," jawab Rama mengingatkan Andi kalau dia memiliki kelas hari ini.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Beberapa saat melewati, Andi mengatakan kalau kawannya itu cukup baik dan tak akan menyuruh mengerjakan pekerjaan yang terlalu sulit. Ponco hampir memutar bola matanya saat mendengar kalau musuhnya adalah orang yang baik. Baik dari segi mananya, bahkan orang gila itu bisa menghancurkan satu kota tanpa berkedip kalau dia mau. Itu yang dimaksud baik. Sayangnya, Ponco hanya bisa mengangguk sambil tersenyum. Selesai memberi saran pada Ponco, Andi segera berangkat ke kampusnya.
"Naik," ucap Rama singkat, menyuruh Ponco naik ke mobilnya.
"Bagaimana pekerjaan kamu?" tanya Rama dengan nada tak tertarik, seolah dia hanya berbasa-basi bertanya.
"Saya merasa beruntung mendapatkan pekerjaan dengan sangat mudah, tuan muda," balas Ponco hati-hati.
Rama mengangguk santai. "Jangan berlebihan," timpal Rama kelewat santai.
Ponco berkeringat dingin, merasa kalau dirinya sudah ketahuan, tetapi dimana letak salahnya, kenapa dia bisa ketahuan secepat itu. Atau ini yang dimaksud si Andi tadi, kalau Rama sebenarnya baik. "Saya hanya bekerja sebaik yang saya bisa, tuan muda," cengir Ponco berdo'a semoga dia bisa melewati mata Rama yang tak menatapnya sejak tadi, walau tak ditatap, tetapi Ponco merasa kalau dia diawasi dari berbagai penjuru saat ini.
Rama menarik sudut bibirnya. "Dan jangan memikirkan hal buruk, Beno! Aku tak suka kalau orang-orang yang ada di sekitarku diusik?!" ucap Rama mengingatkan dengan nada rendah.
"Saya tak pernah berpikir seperti itu, tuan muda!" elak Ponco dengan cepat.
"Hanya mengingatkan, ini juga kulakukan pada pekerja lain, tentu saja tanpa sepengetahuan nenek dan kawanku yang baik hati tadi," kekeh Rama melirik Ponco sekilas.
"Kita akan kemana, tuan muda?" tanya Ponco mencari bahan pembicaraan lain.
"Gudang!" balas Rama singkat. Setelahnya tak ada lagi yang berbicara, perjalanan cukup sunyi sampai keduanya tiba di tempat yang dimaksudkan Rama. Di sana Rama menyuruh Ponco memindahkan beberapa kotak, menyusun rapi kotak-kotak tersebut, keduanya makan siang bersama di luar.
Ponco merasa lega, sepertinya dia tak ketahuan, dia hanya diperingatkan untuk menjaga sikap. Hampir saja Ponco berpikir kalau dia ketahuan, ternyata semua itu memang hal biasa yang sudah sering dilakukan pemuda yang terlalu berhati-hati di sampingnya ini. Andai saja mereka bukan musuh, mereka berdua pasti bisa membentuk tim yang tak bisa diganggu. Sayangnya jalan mereka bersebrangan, mereka tak bisa berada di tempat yang sama. Harus ada salah satu yang mengalah atau menghilang untuk selamanya.
Ponco yang sibuk dengan pemikirannya sendiri, tak tahu kalau Rama menatap dia dengan tatapan berkilat seraya tersenyum licik. Tak mungkin dia melupakan orang yang terus memperlakukan dirinya sebagai musuh. Bagaimana pun berubahnya penampilan Ponco, dia tak akan pernah lupa dan tak mengenali orang itu.
...°°°°°...
__ADS_1
...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...