Topeng.

Topeng.
50.


__ADS_3

Hanya butuh waktu sesaat, hari jum'at hadir bagai hembusan angin. Kiara melambaikan tangan pada Andi yang menunggu di dekat parkiran sebuah mall di pusat kota. Hari ini hanya mereka berdua saja tanpa Rama, sudah jelas Rama terlalu malas untuk bergerak selain untuk hal-hal yang penting baginya. "Udah lama nunggu?" ucap Kiara disertai senyum manis.


Andi balas tersenyum. "Gak juga, aku juga baru nyampe, kok," kata pemuda itu menggeleng santai.


"Ohh, aku kira aku udah ngebuat kamu nunggu lama, he-he," cengir Kiara merasa lega. "Mau langsung atau mau mampir beli minum dulu?" tanya gadis itu.


"Langsung aja, deh. Ntar kalau haus baru beli," timpal Andi.


Andi dan Kiara berkeliling mall, masuk dari toko satu ke toko lainnya. Mencoba berbagai baju sambil sesekali bercanda. Di kasir, mereka berebut ingin membayar semua yang mereka pilih. Menurut Andi, dimana-mana cowok harus modal dan bayarin belanjaan cewek, gak mungkin kalau dia nerima gitu aja dibelanjain ini-itu. Sedangkan Kiara, kekeh ingin membayar semua karena dia yang mengajak Andi. Ini juga untuk acara yang harus dia hadiri, jadi dialah yang harus membayar pengeluaran hari ini. "Pakai kartu ini, mbak!" kata Kiara menyerahkan salah satu kartunya.


"Gak usah, Ra," ucap Andi menahan pergelangan tangan sahabatnya itu. "Pakai cash aja, mbak!" lanjut pemuda itu mengeluarkan lembar rupiah.


"Gak bisa, kan aku yang ngajakin kamu, An," tolak Kiara cepat. "Lagian ini semua keperluan buat pergi ke acara aku, kok," lanjut gadis itu keras kepala.


"Tapi aku cowok, masa iya dibayarin?!" balas Andi tak mau mengalah.


Si kasir yang bingun pun, memilih untuk bertanya. "Jadi bagaimana, mbak, mas?" tanyanya sambil melirik ke belakang, untuk saja antriannya tak terlalu panjang.


"Pakai kartu saya aja, mbak!" kata Kiara menyodorkan kartunya.


"Ambil duit saya aja, mbak!" ucap Andi tak mau mengalah.


"Bagaimana kalau saya ambil setengah-setengah?" kata si kasir dengan senyum ramah.


Andi dan Kiara saling menatap, tak lama keduanya mengangguk bersama. "Setuju?!" kata mereka serempak.


"Mau langsung balik?" tanya Kiara setelah melihat jam tangannya, ternyata hari sudah cukup sore.


"Ke kafe depan dulu, yuk. Tiap belanja pasti semua energi berasa terkuras habis," keluh Andi.


"Baru juga keliling empat jam," cibir Kiara dengan suara pelan.


"Empat jam itu lama, Ra! Astaga, kenapa kalau belanja bareng perempuan itu lebih lama, ya? Padahal kalau sama Rama setengah jam aja gak ada," tukas Andi membandingkan kalau dia berbelanja bersama sahabatnya atau sang nenek. Pasti perbedaan waktunya sangat parah lamanya.


"Beda, lah! Cowok itu asal ambil yang dilihat, kalau cewek mesti milih ini-itu?!" timpal Kiara sedikit sewot karena dikatai lama kalau belanja, padahal itu memang kenyataan. "Tapi memangnya kamu pernah belanja sama cewek lain?" tanya gadis itu penasaran siapa yang ditemani Andi sebelum dia.


"Jelas pernah, malah sering. Dan kalau belanja sama beliau, aku gak bakalan pernah dibiarin bayar sendiri, padahal pengen sekali-kali bayarin," balas Andi"


"Aku yang bayarin aja tadi gak mau, giliran tuh orang malah gak masalah," dengus Kiara tak suka.


"Beda, lah, Ra. Gak mungkin aku ngelawan kemauan Nek Lidya!" timpal Andi.


"Jadi, yang kamu maksud itu, Nek Lidya? Neneknya Rama?" tanya Kiara tak percaya. Dia kira kalau Andi sering menemani cewek lain berbelanja, rupanya malah menemani nenek mereka.


Andi mengangguk cepat. "Iya, emangnya siapa lagi?" katanya menanggapi. Kiara menggeleng lemah, merasa sedikit kasihan pada kawannya satu ini.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Rama baru saja keluar dari kamarnya, dia mengurung diri dan beristirahat di dalam. "Mana Andi, Ram? Nenek gak liat dari tadi?" tanya si nenek yang baru saja kembali dari kebunnya.

__ADS_1


"Jalan, memangnya gak bilang sama nenek?" kening Rama mengernyit heran, jarang-jarang kawannya itu tak pamit pada sang nenek.


Nek Lidya menepuk dahinya seketika. "Astaga, nenek lupa. Tadi anak itu pamit sebelum pergi. Nenek tua ini semakin pelupa saja," desah sang nenek menggelengkan kepalanya, merasa lucu dengan dirinya sendiri yang sekarang lebih mudah lupa.


"Rama juga sering lupa, kok Nek. Andi juga sama, jadi gak ada masalah, gak apa-apa," tukas Rama menghibur sang nenek.


Nek Lidya tersenyum lebar. "Kau sendiri kenapa gak ikut?" satu pukulan pelan mendarat di punggung pemuda itu.


"Malas! Mending tidur, nek?!" balas pemuda itu berpura-pura meringis kesakitan.


"Jangan pura-pura begitu, nenek gak mukul sekeras itu, cucu nakal!" dengus sang nenek yang merasa heran kenapa bisa memiliki cucu yang pemalas seperti Rama.


"Kan biar dielus sama nenek, nek." cengir Rama. Pemuda itu lebih ekspresif kalau sedang bersama sang nenek atau sahabatnya.


"Seharusnya tadi kamu pergi saja dengan Andi, keliling-keliling, nyari hiburan atau apa gitu, mumpung libur!" wanita tua itu menggelengkan kepalanya, heran kenapa cucunya lebih senang menghabiskan waktu libur di rumah.


"Nyari hiburan sekarang gak perlu keluar rumah, nek. Bisa nonton atau baca aja, atau liat-liat ponsel, banyak hiburan di benda persegi ini, nek," balas Rama menggoyang-goyangkan ponselnya.


"Kalau itu nenek juga tahu?!" tukas si nenek cepat. "Tapi maksudnya nenek itu kamu gerak gitu, jalan-jalan, berinteraksi di luar, jangan diem aja di rumah!" desah si nenek lelah.


"Nanti aja, lagi malas, nek," balas Rama dengan santainya.


"Astaga, astaga, di saat anak-anak lain susah disuruh di rumah, kamu malah bikin sarang di kamarmu, cucu nakal!" tukas si nenek memijit kepalanya yang sedikit sakit.


Rama tersenyum tipis. "Bukannya malah bagus? Jadi nenek gak capek-capek maksa Rama untuk di rumah terus, kan Rama udah jadi anak rumahan?!" sang nenek merasa bingung, entah harus merasa bersyukur atau kesal saat ini. Yang diucapkan cucunya Memeng benar, tapi ya gak harus di rumah terus. Sang nenek ingin cucunya menikmati waktu libur di luar, bukannya malah tidur-tiduran di kamar sepanjang waktu.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Andi dan Kiara berpisah setelah keduanya selesai beristirahat di kafe, keduanya berpisah dan pulang dengan mobil mereka masing-masing. Selain membeli barang yang dia butuhkan untuk menemani Kiara ke acara reuni gadis itu, Andi juga membeli beberapa kotak es krim untuk sang nenek. Kalau untuk sahabatnya, Andi hanya perlu membelikan minuman dingin atau cemilan berupa kacang-kacangan.


"Orang tampan sejagat datang," seru Andi yang baru saja tiba di kediamannya.


"Selamat datang, An. Gimana jalan-jalannya? Seru?" tanya si nenek menghampiri Andi.


"Lumayan, tapi capek, nek," keluh pemuda itu, berbanding terbalik dengan ekspresi ceria yang dia tampilkan saat ini. "Ini buat Nek Lidya tadi aku mampir beliin ini sebelum sampai ke rumah," lanjut pemuda itu memberikan kantongan berisi berbagai makan es krim. Nek Lidya sangat suka es krim sejak masa mudanya.


"Ho-ho-ho-ho, kamu tahu saja kalau nenek tua ini hampir kehabisan stok es krim?!" timpal Nek Lidya senang.


"Buat aku mana? Masa orang tampan sejagat gak beliin temannya apa-apa?!" celetuk Rama menyindir sahabatnya yang tadi memuji dirinya sendiri.


"Tenang, kawan. Dirimu tak akan kulupakan! Nih, dah aku beliin yang paling kamu suka?!" kata Andi menyerahkan bungkusan berisi makanan untuk kawannya.


Rama mengintip apa saja yang ada di dalam bungkusan tersebut, kemudian pemuda itu tersenyum tipis. "Makasih, ya, besok lagi?!" ucap Rama tak tahu malu.


"Boleh," timpal Andi tersenyum manis. "Tapi pakai uang dari mu, ya?!" lanjut pemuda itu tertawa kecil.


"Sama aja aku yang beli kalau begitu caranya," decih Rama. Sang nenek dan Andi malah menertawakan dirinya.


Setelah beberapa saat, ketiganya pun makan malam bersama saat waktu makan malam telah tiba. "Besok berangkat jam berapa, An?" tanya Nek Lidya.

__ADS_1


"Kata Kiara sore, sih, Nek Lidya," balas Andi menjawab dengan cepat.


"Gak butuh supir, An?" tanya si nenek tiba-tiba. Andi menggeleng sebagai jawaban. "Sayang sekali, padahal kalau butuh, ajak saja kawanmu ini," tukas Nek Lidya melirik jahil cucunya.


"Wah, kalau supirnya modelan gini, aku sih gak bakalan nolak, Nek Lidya," timpal Andi dengan penuh semangat.


"Jangan harap?!" desis Rama menatap tajam kawannya.


"Uwahh, Nek Lidya, tatapan Rama sangat menakutkan, nek," adu Andi berpura-pura takut, tak cocok dengan senyum yang sedang tersungging di bibir pemuda itu.


"Nenek tua ini hanya main-main, cucuku yang nakal! Jangan terlalu jahat pada temanmu?!" tegur si nenek menatap lurus cucunya. Rama berdecak kecil sembari menatap ke lain arah. Melihat cucunya sedikit kesal, si nenek malah kembali bersuara. "Siapa suruh kamu selalu di rumah, jadi nenek bikin alasan supaya ikut kamu bisa keluar besok!" lanjut wanita tua itu menyalahkan cucunya.


"Aku bisa sendiri, nek. Gak perlu ngikutin Andi. Lagian dia ada janji sama Kiara, masa aku harus nimbrung juga?" desah Rama, kenapa dia yang malas keluar di hari libur selalu jadi permasalahan.


"Siapa yang larang? Aku oke-oke aja, tuh?!" timpal Andi dengan cepat.


"Nah, Andi aja gak keberatan, Ram!" tambah si nenek.


Merasa terpojok, Rama pun bangkit dari duduknya. "Aku kenyang, terima kasih makanannya hari ini!" dia tahu bagaimana pun dia berpendapat, tak akan pernah mengalahkan neneknya. "Oh, ya, besok aku mau ke perpus yang baru dibangun itu, jadi gak bisa ikut," lanjut pemuda itu menemukan cara lain untuk membuang waktu liburnya. Dari pada dia ikut Andi, lebih baik dia mengubur diri ke dalam banyak bacaan. Kalau sudah lelah membaca, dia bisa mencari pojokan dan tidur di sana tanpa menggangu orang lain.


"Ntar kalau acaranya Kiara dah selesai, aku nyusul, Ram?!" ucap Andi dengan suara yang cukup keras, pasalnya kawannya itu sudah cukup jauh dari dirinya. Rama mengangkat sebelah tangannya, mungkin artinya terserah kawannya saja mau bagaimana.


Nek Lidya menggelengkan kepalanya. "Lihat kawanmu, kalau tak begitu, mana mau dia keluar."


"He-he, padahal di kampus banyak yang ngajak Rama jalan, Nek Lidya. Apalagi kalau pas liburan atau akhir pekan, kalau dimasukkan daftar, pasti satu halaman buku kurang, nek, saking banyaknya yang ngajakin!" adu Andi. "Bahkan kadang aku duluan yang diajak, terus ujung-ujungnya harus bawa Rama. Mereka kira bakalan berhasil mungkin," lanjut Andi meratapi nasibnya yang terlalu sering dijadikan batu loncatan untuk mendekati kawannya itu.


"Dan tentunya sudah pasti ditolak," timpal sang nenek menebak dengan benar.


Andi mengangguk pelan. "Pas aku bilang kalau Rama gak bisa ikutan, eh, acaranya langsung dibatalin. Keliatan banget kalau aku cuma dijadiin alat biar bisa deketin Rama?!" Andi mengadu bukannya mau menyalahkan kawannya, dia malah menyalahkan teman-teman kampusnya. Tak ada yang mau berteman dengannya dengan perasaan tulus yang memang ingin berteman, semua selalu disertai keinginan lain. Ingin dekat dengan kawannya lah, ingin tahu tentang kawannya lah, atau bahkan ingin ikutan populer kalau berteman dengan kawannya, Rama.


Padahal kalau mikir secara logika, Andi saja yang berteman dari lama gak pernah ikutan populer, masa yang baru udah mau ikutan dompleng gak jelas. Dasar teman parasit itu namanya.


"Jangan dekati orang-orang dengan sifat seperti itu lagi! Jauhi saja dan pura-pura acuh kalau mereka mendekat serta ada maunya?!" ketus Nek Lidya memberi saran.


"Baik, nek!" ucap Andi mengangguk patuh.


"Oh, ya, An, bagaimana dengan ingatan kamu? Apa ada yang bisa kamu ingat, nak?" tanya Nek Lidya hati-hati. Kedua cucunya ini tak ada kemajuan sama sekali, mereka hanya bisa mengingat berupa bayangan-bayangan hitam yang tak jelas.


Andi menggeleng lemah. "Tak ada, Nek Lidya. Kalau ku paksa untuk mencoba mengingat lebih, kepalaku langsung sakit, seakan dijatuhi batu yang besar," aku pemuda itu menunduk sedih.


Nek Lidya menepuk-nepuk pundak Andi. "Sabar, nak. Kalau memang ditakdirkan untuk bisa mengingat semuanya lagi, pasti semua akan diingat tanpa harus menimbulkan rasa sakit dan juga mengeluarkan usaha lebih. Lagi pula itu hanya masa lalu, memang banyak kenangan di dalamnya, tapi kalau hanya tentang kenangan, kamu bisa membuatnya. Bahkan kenangan yang lebih indah sekali pun?!" tutur Nek Lidya menatap iba remaja di depannya ini.


Andi tersenyum tipis, seolah mengatakan kalau dia tak apa-apa. "Nenek benar, aku pun juga tak memaksa untuk mengingat semua. Sekarang ada nenek, ada Rama, bahkan ada Kiara juga yang membantu membuat kenangan baru, jadi aku tak terlalu memikirkan masa laluku, nek," kata Andi menyatakan bahwa dirinya tak masalah jika memang tak bisa mengingat apa pun, yang penting sang nenek dan kawannya terus ada bersama dirinya.


Yang mereka tak tahu, Rama hanya mengikuti apa yang dikatakan Andi. Kalau Andi mengatakan dia tak ingat apa-apa, Rama pun akan mengatakan hal yang sama. Pemuda itu juga sudah membuat rencana untuk pergi secepatnya bila ingatan Andi kembali, dia tak akan punya tempat di rumah ini ketika itu terjadi. Dirinya hanya orang asing, hanya si palsu yang datang dan memeluk keluarga dan kehangatan di terangnya kehidupan.


^^^°°°°°^^^


...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...

__ADS_1


__ADS_2