
Waktu berlalu begitu cepat, tak terasa sudah memasuki musim baru untuk bersekolah. Beberapa teman di sekolah lama juga masuk ke sekolah yang dituju Andi dan Rama. Kedua pemuda tanggung itu padahal mendapat beasiswa ke sekolah favorit, tapi mereka menolak dan memberikan beasiswa tersebut pada siswa yang lebih membutuhkan. Rama tepatnya yang menolak dan Andi mengikuti jejak kawannya itu.
Si kakek akhir-akhir ini sering sakit-sakitan, itu juga salah satu alasan Rama tak ingin jauh dari keluarga barunya. Tiga tahun bukan waktu yang sebentar, dia sudah banyak belajar bagaimana memperlakukan keluarganya dengan tepat dan tulus. Mungkin Rama berakting, tetapi dirinya lebih sering tersenyum dengan tulus sekarang.
"Kakek, ini saya, Rama!" ucap Rama mengetuk pintu kamar sang kakek, dia dipanggil kakeknya dengan catatan harus datang sendiri.
"Masuklah!" suara yang terdengar serak masuk ke indera pendengaran Rama.
"Bagaimana keadaan kakek?" tanya Rama seraya berjalan mendekat ke arah pria tua yang terlihat semakin lemah di depannya itu.
"Tak lebih baik dari sebelum-sebelumnya, bocah nakal!" kekehan terdengar dari pria yang terbaring terus-menerus itu.
"Kapan kakek akan sehat? Jadi kita bisa liburan bersama, kek!" Rama mengharapkan dengan tulus kesembuhan pria di depannya ini.
"Khe-khe-khe, mendengar kamu berkata seperti itu, rasanya kakek semakin sehat, Rama!"
__ADS_1
"Hmm, haruskah saya bertanya seperti tadi terus-menerus? Siapa tahu kakek akan semakin dan semakin sehat karenanya!"
Kakek Surya tertawa pelan, dia menepuk samping tempat tidurnya. "Duduklah di dekat kakek, Ram." Rama menurut, dia duduk di samping sang kakek.
"Rama ..., Kakek ingin meminta maaf padamu, kakek merasa sisa waktu kakek tak banyak. Jadi, kakek harus meminta maaf selagi ada kesempatan!" ucap Kakek Surya putus-putus.
"Kakek tak perlu meminta maaf, jika ada yang harus meminta maaf, itu mungkin saya, kek," balas Rama pelan. 'Kerena saya banyak sekali membohongi keluarga anda, padahal anda sangat baik pada saya!'
"Tidak, tidak. Saya yang harus meminta maaf padamu, anak muda. Saya menggunakan kamu sebagai perisai untuk Andi, karena saya takut anak itu terluka lagi atau diserang!" Rama cukup terkejut dengan hal ini, bukankah itu artinya pria tua di depannya ini tahu siapa sebenarnya cucu kandungnya yang asli.
"Apa maksud kakek?" tanya Rama cepat. Dia ketahuan, kapan itu terjadi, kesalahan apa yang dilakukannya hingga dia ketahuan saat berakting.
"Jadi ..., apa saya harus pergi dari sini?" tanya Rama mengepalkan tangannya, baru kali ini dia gagal.
Kakek Surya mengangkat tangannya pelan, dia menepuk-nepuk kepala Rama. "Tidak, kamu cucu saya, sekarang dan untuk selamanya. Tak ada yang bisa merubah kenyataan itu, saya hanya ingin meminta maaf telah mempergunakan kamu, nak. Saya secara sengaja membuat kamu berada dalam bahaya!"
__ADS_1
"Kakek tua ini hanya ingin kamu mengetahui yang sebenarnya, sebelum waktu kakek habis, nak!"
Kakek Surya menarik napas panjang. "Maukah kamu memaafkan pria itu penyakitan ini, nak?"pinta si kakek penuh harap.
"Tak ada yang perlu dimaafkan, kek. Saya paham dan jika itu saya, saya juga akan memilih melakukan hal yang sama. Jadi, kakek tenang saja dan beristirahatlah yang banyak agar cepat sembuh. Apa kakek tak bosan terus berbaring di kamar?"
"Dasar bocah nakal, kalau bisa kakekmu ini pasti sudah berlari dan melompat, bodoh!"
"Maka lakukan saat kakek sudah sehat! Saya harus pergi dulu, saya harus menyiapkan dokumen untuk daftar sekolah. Cepat sembuh, kek!"
"Kudengar kamu menolak tawaran sekolah hanya karena tempatnya jauh? Apa orang tua ini alasannya?"
Rama tersenyum mengejek. "Percaya diri sekali? Padahal saya hanya tak bisa jauh dari nenek yang lembut dan perhatian!" katanya bercanda.
"Dasar bocah nakal!" umpat si kakek pura-pura kesal. Keduanya berbagi tawa bersama, Kakek Surya merasa jauh lebih baik setelah dia meminta maaf pada Rama.
__ADS_1
...°°°°°...
...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...