Topeng.

Topeng.
66.


__ADS_3

Rama sudah menyelesaikan masalah pergantian gedung untuk panti asuhan, dia juga menjadi donatur tetap di sana. Pembangunan proyek baru pun bisa dimulai, dan nama Rama semakin terkenal di dunia bisnis. Banyak rekan kerjanya yang ingin memperkenalkan putri-putri mereka, siapa tahu mereka bisa menggaet bujang paling dicari abad ini. Rama bukannya tak tahu, tapi dia malah bersikap acuh. Tampang datar bin ngeselin selalu jadi perisai yang sangat sempurna untuk membuat para putri yang dikenalkan padanya menyerah.


"Untung saja wajahku bisa membuat mereka canggung dan lari menjauh," gumam Rama bersyukur memiliki tampang datar.


"Tapi ini saja tak akan cukup, aku harus mencari solusi jangka panjang," kata pemuda itu mencari ide yang lebih baik dari pada hanya mengandalkan wajah dinginnya.


"Ngapain bengong?" tanya Andi yang baru bergabung, ikut duduk di dekat kawannya.


"Hanya memikirkan sesuatu," balas Rama melirik sekilas kawannya. "Gak keluar?" tanya pemuda itu pada sahabatnya.


Andi menggelengkan kepalanya. "Malas, lagi banyak asap. Repot harus pakai masker," balas Andi menjelaskan. "Mending di rumah, nonton, main game, dan ngemil bisa semua dilakukan," lanjut pemuda itu.


"Memangnya kamu tadi lagi mikirin apaan, Ram?" tanya Andi setelah beberapa saat diam.


"Hal gak penting tapi sangat-sangat menjengkelkan!" dengus Rama kesal.


"Apa itu? tanya Andi dengan mata berbinar penuh ketertarikan.


"Perkenalan dengan para makhluk berisik dan kepo!" balas Rama dengan wajah mengkerut kesal.


Andi menahan tawanya agar tak menyembur dan membuat temannya semakin kesal. "Ahh, aku paham apa yang kamu maksud," timpal Andi membuang muka ke lain arah. Wajah tampan ternyata sedikit menyusahkan juga ya. "Lalu? Sudah dapat cara setelah berpikir?" tanya Andi lagi.


"Masih dalam proses," balas Rama seadanya.


"Aku bantuin mikir," timpal Andi kemudian pemuda itu serius memikirkan masalah kawannya.


Beberapa saat hening, hingga Andi kembali bersuara dan mengemukakan ide konyolnya. "Nikah aja, Ram. Itu cara paling gampang dan tepat!" ucap Andi yakin. Pemuda itu lupa kalau kawannya benci makhluk merepotkan yang selalu diperkenalkan kepadanya, makanya dia lebih memilih sendiri dulu untuk sekarang.


"Jangan bercanda! Aku tak akan melakukan hal bodoh itu dengan pada makhluk merepotkan dan berisik yang selama ini selalu mendengung bak lebah di sekelilingku?!" tukas Rama dengan nada suara lebih tinggi dari biasanya.


Andi mengangkat tangannya tinggi, seketika menyadari kalau idenya ternyata tak berguna untuk kawannya. "Rawat seorang anak saja, Ram?" celetuk Andi sedikit tak yakin. Disuruh menikah saja kawannya tak mau apa lagi kalau disuruh mengurus anak kecil.


Rama menatap ke arah sahabatnya, dia menaikkan sebelah alisnya ke atas. "Anak, ya?" gumam pemuda itu.


"Ha-ha-ha, tentu saja ini hanya ide asal," sela Andi menggaruk belakang kepalanya canggung.


"Kurasa patut dicoba!" kata Rama memukul kedua tangannya, pemuda itu bahkan tersenyum sedikit lebih lebar karena telah menemukan solusi yang lumayan bisa diandalkan.


"Ya?" tanya Andi melongo. Sahabatnya tak menjadi gila karena terlalu sering dikenalkan pada makhluk berisik dan merepotkan itu kan.


"Aku akan mencari anak yang bisa menjadi perisai buatku!" ucap Rama yakin. Ahh, Andi jadi menyesal sudah memberi ide gila seperti tadi. Sekarang kawannya Mala dengan tak waras akan menjalankan ide yang dia berikan. Terkutuklah otaknya yang baru saja memberi ide secara asal. Andi memilih diam saja, dari pada nanti semakin merecoki dengan ide-ide asal yang lebih gila lainnya yang mungkin saja akan dia keluarkan tanpa sadar.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...

__ADS_1


Kicau burung di pagi hari menjadi alunan musik yang cukup mengganggu pagi seorang Jonathan. Pemuda itu menutup selimutnya hingga kepala agar bisa kembali melanjutkan tidurnya, mungkin karena dia habis bergadang semalam, sekarang Jo terlalu malas untuk bangun. Sinar surya pun ikut mengintip di balik jendela yang tirainya tersingkap, sayangnya sinar itu tak bisa menembus selimut tebal yang Jo pakai saat ini.


Derap langkah kaki yang teratur tak juga bisa membuat Jo memilih bangkit dari tidurnya. "Tuan muda, sudah waktunya anda untuk bangun," begitu ucap sebuah suara dengan penuh sopan dan kelembutan, suara seorang pelayan paruh baya yang selalu bertugas membangunkan Jo di pagi hari. "Tuan dan nyonya sudah menunggu anda di ruang makan, tuan muda," lanjut suara lainnya, terdengar suara tirai yang digeser.


Jonathan yang tadi sedang terlelap pun menggeliatkan badannya dengan malas. Matanya mengerjap pelan, para pelayan tadi menatap takjub, seolah sedang menatap lukisan peri hutan dari negeri dongeng.


"Selamat pagi, semua!" sapaan hangat penuh keceriaan disertai dengan senyuman manis yang membuat diabetes.


"Selamat pagi, tuan muda! Pagi ini pun Anda terlihat sangat menawan!" ucap para pelayan itu serempak.


"Air mandi untuk anda sudah siap, tuan muda," sela salah satu dari mereka.


"Anda akan mengenakan pakaian yang mana untuk hari ini, tuan muda?" tanya yang lainnya.


"Pilihkan saja mana yang menurut kalian cocok untuk kukenakan hari ini," balas si Jo seraya beranjak dari tempat tidurnya.


Jonathan, itu lah nama yang dari tadi menjadi pusat perhatian. Sejak lahir, dia tak pernah menghadapi kesulitan apa pun. Semua yang dia inginkan selalu dia dapatkan dengan mudah, tanpa usaha sedikit pun. Semua sudah berada di genggamannya. Siapa suruh, dia menjadi cucu dari seorang yang sangat luar biasa kaya. Kekayaan keluarga mereka bahkan bisa menandingi kekayaan keluarga kerajaan, kalau seandainya dia hidup pada zaman kerajaan tapinya. Hal satu-satunya yang tak bisa ada dapatkan adalah hati Kiara, tapi untuk sekarang dia malah tak mempermasalahkan hal itu. Dia sudah cukup dengan berteman saja, bahkan dia bisa berteman dengan Andi dan Rama sebagai tambahan. Bukannya itu sebuah keberuntungan dalam hidupnya memiliki teman yang perhatian dan setia.


Dari kecil, dia tak pernah melakukan pekerjaan apa-apa. Dari dia mulai bangun di pagi hari, hingga akan kembali tidur di malam hari, akan ada puluhan pelayan yang membantu semua keperluannya. Dari membantu dia mandi, berpakaian, merias diri, menata rambut, membersihkan tempat tidurnya. Tugas Jonathan hanya satu, tersenyum bahagia dan menikmati kemewahan yang dia dapatkan, menghamburkan uang yang diberikan dan menikmati kehidupan yang indah di masa mudanya.


"Tuan muda kami yang tampan, anda semakin terlihat tampan dan bersinar setiap harinya, " puji seorang pelayan.


Pelayan lain yang mendengar pun mengangguk setuju. "Tuan muda seperti pangeran tampan di dalam dongeng!" imbuh pelayan satunya penuh semangat.


Jonathan tersenyum kecil. "Semua berkat tangan kalian yang berbakat," kata pemuda itu memuji pelayan yang sudah menolongnya sejak pagi. Para pelayan yang mendengar itu pun merasa senang dan juga terharu di saat yang sama. Bagaimana tidak, majikan yang mereka layani ternyata menghargai kerja keras mereka. "Baiklah, aku harus segera turun sekarang. Kasihan papa dan mama menunggu terlalu lama," lanjut Jonathan seraya berdiri dari duduknya.


...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...


Jonathan menyapa ayah dan ibunya, disertai dengan kecupan ringan di pipi kedua orangtuanya. "Pagi, pa. Pagi, ma," ucap pemuda itu, setelahnya dia duduk di kursi yang memang menjadi tempat Jonathan sering duduk saat makan.


Ketiganya dilayani dengan baik oleh pelayan, makanan dan minuman terus diantar hingga makanan penutup. Tak ada yang berbicara, hanya denting sendok dan piring yang terdengar memenuhi ruangan tersebut. Kebiasaan para kelas atas, makan tanpa berbicara sedikitpun. Usai menyantap semua hidangan yang disajikan, para pelayan dengan cepat membereskan meja. Jonathan dan orangtuanya tetap duduk ditemani teh manis di depan mereka masing-masing, kecuali sang kepala keluarga yang sedang menikmati segelas kopi yang nikmat dan wangi. Mumpung hari libur dan kedua orang tuanya sedang tak sibuk, jadi Jonathan meluangkan waktu untuk bersama dengan mereka berdua, orang paling berharga dalam hidupnya.


"Bagaimana kuliah kamu, Jo?" tanya sang ayah menatap anaknya.


"Jo menyukainya, pa," balas Jonathan tersenyum simpul mengingat ketiga kawannya sekilas.


"Kamu tak pernah mengajak teman-teman kamu ke sini, Jo," ucap sang ibu yang khawatir kalau sang anak tak memiliki teman. "Banyak undangan untuk menghadiri pesta, tapi kamu malah tak menghadiri semua," lanjut sang ibu mengingat laporan para pelayan kalau anaknya mendapatkan banyak undangan tapi tak digubris satu pun.


"Benar begitu?" tanya sang ayah menanggapi, ayahnya menoleh menatap sang anak. "Mau kamu apakan semua undangan itu, nak?" tanya si ayah mendesah lelah. Dulu anaknya berteman dengan banyak orang, pergi dari satu perta ke pesta lain. Sekarang anaknya lebih banyak di rumah, jarang keluar kalau tak ada keperluan atau terlalu bosan. Apa tak ada yang mau berteman dengan anaknya. Atau anaknya dikucilkan karena dianggap terlalu remeh.


"Jo bakar seperti biasanya, pa," timpal sang anak sambil nyengir lebar. Ahh, dia jadi mengingat kawannya, Andi kalau sudah nyengir begini. Soalnya itu salah satu kebiasaan sahabatnya yang terlalu sering nyengir kuda. "Atau didaur ulang saja?" lanjut pemuda itu seolah berpikir dengan serius.


"Baiklah, bakar saja semua, bakar sampai tak bersisa. Gak usah pakai acara didaur ulang! Daur ulang lagi?!" timpal si ayah tak ambil pusing dengan tingkah sang anak.

__ADS_1


"Apa kamu tak memiliki teman, Jo? Atau kamu dijauhi?" ucap si ibu membayangkan hal yang tidak-tidak. Mungkin saja anaknya sering dipalak, atau dipukuli. Dan anaknya tak mengatakan apa-apa pada mereka.


"Jo punya temen, ma. Malahan bisa dibilang mereka bertiga sahabat baik Jo," timpal Jo mengaku.


"Terus kenapa gak pernah mampir ke sini? Harusnya kamu ajak kawanmu kemari!" tukas sang ibu. Tak apa memiliki teman sedikit, asal mereka semua baik dan bersahabat pada anaknya.


"Semua pada sibuk, ma. Andi sama Kiara kuliah kayak Jo. Trus si Rama, dia lebih sibuk lagi. Siangnya kerja, malamnya kuliah. Waktunya habis seharian karena padatnya kesibukan yang dia punya, ma, pa!" jelas Jonathan menatap ayah dan ibunya bergantian.


Ayah dan Ibu Jonatan saling menatap, merasa sedikit tertarik saat mendengar kalau ada kawan anaknya yang super sibuk hingga tak punya waktu bersantai. "Apa dia kesulitan ekonomi?" tanya sang ayah hati-hati, tak ingin anaknya salah paham kalau beliau menatap remeh kawan anaknya sendiri.


"Harusnya kamu membantu saat sahabat kamu memiliki kesulitan, nak!" timpal si ibu memberi nasihat.


Jonathan mengernyitkan keningnya, sedetik kemudian dia memekik pelan. "Ahh, sepertinya mama dan papa salah paham akan sesuatu. Rama kerja bukan karena kesusahan, tapi karena itu memang tanggung jawabnya. Jo juga belajar sedikit dari Rama, soal bisnis dan yang lainnya," jelas Jonathan, pemuda itu mencondongkan tubuhnya ke arah kedua orang tuanya. "Rama itu seorang bos di perusahaannya, dan dia sering traktir kami, para sahabat yang dekat dengan dia," bisik pemuda itu dengan nada bangga.


"Maaf, mama gak maksud, mama hanya bertanya karena ingin membantu kalau memang kawanmu itu sedang kesulitan, bukannya meremehkan, nak," jelas si ibu dengan cepat, tak ingin anaknya salah tangkap.


Si ayah menganggukkan kepalanya. "Mama mu benar, papa pun tadi mengkhawatirkan hal yang sama. Bukannya mencurigai apa-apa," timpal sang ayah. "Kapan-kapan ajak semua kawanmu untuk makan malam bersama di sini, mumpung papa dan mama ada waktu luang di rumah!" lanjut sang ayah


"Siap, bos!" timpal Jonathan dengan penuh semangat. "Sekarang juga Jo akan bertanya pada mereka!" lanjut pemuda itu sebelum melompat, kembali ke kamarnya untuk menghubungi kawan-kawannya tentunya.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Singkat cerita, di sinilah ketiga kawan Jonathan berada. Di depan pagar besi tinggi yang terlihat kokoh dan megah. Andi yang malas menyetir, menumpang mobil Rama seenaknya. Kiara berangkat sendiri dari rumahnya. "Sudah sampai?" tanya Jonathan menyambut kawan-kawannya dengan wajah ceria. "Aku gak nyangka kalian bisa dateng ke rumah aku!" aku pemuda itu tersenyum senang.


"Belum datang, ini cuma bayangan! Bayangan aja?!" timpal Andi. Rama mengangguk dan Kiara mendengus pelan. "Ngomong-ngomong, makasih udah ngundang ke rumahmu, loh ya!" lanjut Andi dengan mata melotot."Eh, eh, makasih sih makasih, kenapa matanya harus pakai melotot segala!" ucap si Jo protes. Mereka berempat berjalan beriringan masuk ke rumah pemuda itu.


"Aku tuh lagi malas banget bergerak, tetiba kamu nelepon, terus bilang kalau mama dan papa kamu pengen ketemu kita-kita,lah masa aku harus nolak? Kan gak sopan namanya?!" dengus Andi setengah kesal.


"Oke, Andi kesel gegara malas ngapa-ngapain. Kalau Rama gak usah ditanya, kesel gak kesel tampangnya tetep sama, datar bin ngeselin. Untung cakep pakai banget!" cerocos si Jo. "Kalau Kiara apa masalahnya?" lanjut pemuda itu menatap Kiara.


"Huh, ngomong nih sama tangan gue!" ketus gadis itu menyodorkan tangannya ke depan wajah Jo.


"Halo, halo? Tangan Kiara? Si Kiara kenapa kesel, ya? Bisa jawab?" si Jo malah benar-benar bertanya pada tangan Kiara.


"Sarap!" ketus Rama menggelengkan kepalanya.


"Usah gak tertolong lagi!" timpal Andi dengan tatapan iba. Keempatnya pun tertawa bersama setelahnya.


"Jadi kenapa kamu kesel, Ra?" tanya Jo setelah mereka tertawa.


"Aku tuh tadi lagi nge-drakor. Eh, tahu-tahu kamu nelepon terus nyuruh ke rumah kamu, gimana gak kesel coba. Udah hampir ending tapi malah kepaksa berhenti nonton di tengah jalan!" keluh gadis itu.


"Wah, ramai, ya? Lagi cerita apa?" tegur ibunya Jo menyambut di depan pintu karena sang anak tak kunjung masuk. Keempatnya terdiam dan Jonathan pun memperkenalkan para sahabatnya pada sang ibu.

__ADS_1


...°°°°°...


...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...


__ADS_2