Topeng.

Topeng.
63.


__ADS_3

Rama mengernyit heran saat dia tiba di rumah. Bagaimana tidak, rumah mereka begitu gelap, tak ada lampu yang menyala satu pun. "Apa Andi belum pulang?" tanya Rama menyalakan cahaya di ponselnya. Pemuda itu berjalan dengan pelan menuju saklar lampu, dia bersyukur ada cahaya dari ponselnya meski tak terlalu terang.


"Kejutan!!!" suara kawan-kawannya serempak terdengar begitu lampu menyala.


"Huh? Ada acara apa?" tanya Rama bingung. Ini bukan hari ulang tahunnya, juga bukan ulang tahun Andi. Apa mungkin ini hari ulang tahun Kiara atau mungkin Jo. Tapi kenapa ketiga kawannya menatap ke arah dirinya sambil tersenyum lebar seperti itu.


"Memangnya harus ada yang dirayakan untuk membuat kejutan, Ram?" celetuk Kiara memutar bola matanya malas.


"Biasanya kan gitu?" ucap Rama menanggapi.


"Udah gak usah debat panjang lebar, ganti baju terus turun lagi ke sini. Kita santap semua yang udah kami siapkan untuk kamu, Ram!" timpal Andi menyela.


"Iya, jangan banyak nanya, sukuri terus nikmati aja. Udah capek nih nyiapin semuanya," kata Jo menimpali.


"Tinggal beli aja gayanya kayak buat semua sendiri, Jo," celetuk Kiara menggeleng-gelengkan kepalanya, menatap malas si Jo.


"Beli juga butuh tenaga dan waktu loh pas milih-milih," kata Jo membela diri.


Rama tersenyum tipis. "Aku ke atas dulu, bentar balik lagi," katanya sebelum pergi ke kamarnya. "Ahh, dan terima kasih udah disiapkan kejutan. Yah, meski hari ini gak ada apa-apa yang dirayakan," lanjut pemuda itu sebelum benar-benar pergi.


"An, bantuin aku biar bisa jadi saudara ipar kamu!" ucap Kiara sungguh-sungguh.


"Sarap," decih Andi tak menggubris.


"Kalau demam, minum obat dulu, gih," timpal Jonathan menatap iba Kiara.


"Apa? Apa? Apa yang salah coba? Aku kan gak kurang apa-apa, masa gak cocok kalau sama Rama?!" pekik Kiara tak terima dianggap sakit karena kembali menyukai Rama. Ahh, tepatnya jatuh cinta sekali lagi setelah ditolak dulu.


"Gak ada yang salah, sih," balas si Jo tak yakin.


"Nah kan, gak ada yang salah. Jadi gak masalah!" ucap Kiara yakin.


"Tapi ... apa si Rama mau sama kamu?" Andi mengangguk setuju dengan ucapan Jonathan kali ini. Sahabatnya belum kepikiran untuk menjalin hubungan, bahkan kalau memang dia mencari pasangan. Apa iya sosok seperti Kiara yang akan dipilih oleh sahabatnya itu.


"Emangnya di mana kurangnya aku, heh?" kata Kiara penuh percaya diri.


"Kurangnya, sobat aku gak suka sama kamu, Ra," balas Andi tepat sasaran.


"Aiss, tolong jangan ingatkan aku dengan kenyataan yang menyakitkan itu, An," ucap Kiara memasang tampang sedih.


"Ada apa? Kok, suasananya gak kayak tadi?" tanya Rama yang baru saja turun, dia terlihat lebih segar setelah selesai mandi.


"Si Kiara katanya mau ngelamar jadi–," Kiara menginjak kaki Jonathan dengan cukup keras, sehingga ucapan pemuda itu terpotong.


"Jadi pembokat di sini, Ram!" tukas Kiara asal.


Rama mengernyitkan keningnya, melihat Kiara dan Jonathan bergantian. Jonathan terlihat mengelus kakinya yang kesakitan, sementara Kiara menatap pemuda itu dengan mata melotot. Lain lagi dengan Andi yang sibuk menahan tawanya.


"Apa, apa kamu mau nerima modelan kayak Kiara jadi pelayan, Ram?" ucap Andi susah payah karena menahan tawanya agar tak menyembur keluar.


"Gak! Bisa-bisa rumah kita hancur," jawab Rama blak-blakan. Akhirnya tawa Andi pun meledak, pemuda itu tak sanggup lagi menahan tawanya yang sudah dia tahan sejak tadi.


"Seburuk itukah aku di mata kamu, Ram?" tanya Kiara memasang tampang seakan hendak menangis.


Rama menatap malas Kiara, dia tak akan tertipu tampang seperti itu. "Sudahlah, katanya tadi aku disuruh cepat-cepat turun biar kita bisa makan semua yang kalian BELI!" kata Rama datar, sengaja menekankan kata beli di akhir kalimatnya.


"Itu benar, itu benar," timpal Andi bersemangat. "Ayo, kita habiskan semua yang kami pilih untuk kamu tadi, Ram!" lanjut pemuda itu lagi, menyeret Rama dan menyuruh kawannya duduk di dekatnya.

__ADS_1


"Sebenarnya ini dalam rangka apa?" kata Rama bertanya. "Apa tugas kalian dapat nilai sempurna?" tebak pemuda itu menatap ketiganya bergantian.


Jo menggaruk pipinya yang tak gatal. "Emm, sebenarnya ini ide Kiara dan Andi. Aku cuma ikut-ikutan," aku pemuda itu menatap ke lain arah.


"Kita kan jarang ngumpul gara-gara kamu sibuk pakai banget, Ram. Nah, ini kita rencanakan biar kamu semangat lagi dan gak ngerasa lelah," timpal Kiara mengatakan alasan mereka mengadakan kejutan untuk kawannya yang satu ini.


"Iya, kamu kan sekarang jarang ngumpul, trus kita-kita patungan biar bisa beli ini semua. Habisnya gak ada yang mau ngalah, semua mau bayarin, ya akhirnya tercetuslah ide membagi tiga semua pengeluaran. Jadi, ini traktiran dari kami bertiga buat kamu, Ram!" jelas Andi nyengir lebar.


Rama mengusak rambut kawannya itu. "Terima kasih," katanya dengan nada hangat.


"Aku? Aku juga mau?" celetuk Kiara mendekatkan kepalanya, minta dielus juga.


"Kita mulai makan saja," ucap Rama menimpali. Kiara cemberut, tapi tetap juga menikmati makanan yang mereka beli bersama.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Seusai makan, Kiara, Jo, dan Andi duduk dengan perut yang terisi penuh. Ketiganya terlihat malas bergerak, jadi Rama yang membereskan meja setelah mereka makan. "Dari tadi aku gak liat pelayan-pelayan kamu? Pada kemana? Mereka gak minggat gara-gara gajinya gak kalian kasih, kan?" tanya Kiara asal menuduh.


"Sembarangan, mereka kami suruh pulang kampung, tahu!" Biar ketemu sama keluarga mereka," timpal Andi ketus, kesal dengan tuduhan Kiara.


"Ya elah, sensi amat, sih. Kan aku cuma nanya!" dengus Kiara membuang muka.


"Dalam rangka apaan? Lebaran belum, hari besar yang lain juga gak ada, kenapa malah dipulangkan semua?" tanya Jo ingin tahu.


"Para bibi dan semua yang kerja di sini udah lama gak mudik. Bahkan pas lebaran pun kadang ada yang milih tetap bekerja tanpa pulang ke kampung mereka. Katanya kasihan kalau gak ada yang bantu-bantu ngurus rumah. Makanya aku dan Rama sepakat ngasih mereka libur sekarang," jelas Andi, Kiara dan Jonathan mengangguk paham.


"Jadi ntar gak ada libur lagi pas lebaran, gitu ya?" tanya Jo menebak.


"Ya, gak lah. Kalau mereka mau balik, ya balik aja. Kenapa juga harus dilarang mudik?" timpal Andi cepat.


"Wah, sungguh tuan yang baik hati," puji Kiara, Jonathan mengangguk setuju seraya mengacungkan kedua jempolnya.


"Boleh juga, tuh!" timpal Jonathan setuju.


"Aku sih setuju-setuju aja," ucap Andi melirik kawannya, Rama.


Rama yang ditatap ketiga kawannya pun hanya bisa menghela napas panjang. "Baiklah, berhubung besok akhir pekan, tak masalah kalau aku ikut bersenang-senang bersama kalian," balas Rama dengan nada malas. Andi memekik senang, Kiara dan Jonathan langsung memikirkan permainan apa yang akan mereka berempat mainkan.


Akhirnya keempatnya sepakat memilih permainan kartu, siapa yang kalah, wajahnya akan dicoret dengan bedak. Tentu saja Rama tak ikut memilih, dia setuju-setuju saja dengan semua permainan yang dipilih kawan-kawannya. Di awal Rama terus-menerus kalah, wajahnya pun dicoret sana-sini dengan bedak yang sudah disediakan. Begitu dia menguasai permainan, Rama membalik keadaan. Wajah ketiga kawannya menjadi sasaran, kemenangan terus datang menghampiri pemuda itu.


"Ahh, ini curang, gak sih?" keluh Kiara untuk kesekian kalinya. Wajahnya sudah penuh dengan coretan bedak, tak ada lagi tempat yang tersisa.


"Akui saja kekalahan, kamu sendiri tadi yang bagikan kartu, gimana caranya Rama main curang?" timpal Andi membela kawannya.


"Tapi tadi Rama kalah mulu, tapi tiba-tiba langsung jago gitu mainnya," ucap Kiara menunjuk Rama, tak terima kalau dirinya dikalahkan dengan telak.


"Tenang, ini hanya permainan. Kau gak kalah sendirian kok, Ra," ucap Jonathan menepuk-nepuk pundak Kiara pelan.


Kiara menepis tangan Jonathan. "Apaan, sih?" ketus gadis itu semakin kesal.


"Kalian gak ada niat pulang?" tanya Rama melirik jam tangannya. "Udah jam segini, loh. Ntar dicari sama orang rumah," lanjut pemuda itu mengingatkan.


"Aku gak pernah dicari mau pulang jam berapa pun, Ram," aku Jonathan tersenyum lebar.


"Aku malas balik. Boleh gak nginep di sini?" ucap Kiara dengan tatapan memelas. "Ntar aku telepon kakek supaya kakek aku gak cemas," lanjut gadis itu.


"Aku juga, aku juga? Aku gak pernah nginap di rumah temen. Kalau tidur di luar sering, sih," timpal Jonathan mengacungkan jari telunjuknya.

__ADS_1


"Gak pernah nginep, tapi sering tidur di luar? Anak hotel kayaknya, nih?" celetuk Andi menatap usil Jonathan.


Jonathan mengangguk tanpa ragu. "Yup, anda benar! Seratus buat anda, sayang hadiahnya udah habis. Jadi hanya ucapan selamat yang anda dapatkan!" timpal Jonathan bercanda.


"Garing banget candaannya?!" kata Andi mendengus kesal. Jonathan malah tertawa lepas melihat reaksi kawannya.


"Boleh, kan Ram?" tanya Kiara, Jonathan menunggu dengan sangat jawaban dari sahabatnya yang satu ini.


"Terserah, asal kalian udah dapat izin!" putus Rama tak keberatan. Kiara dan si Jo memekik girang, izin dari Rama yang terpenting. Izin dari keluarga mereka bisa menyusul setelah Rama memperbolehkan mereka menginap di sini.


Setelah mendapat izin melalui telepon, Kiara dan Jonathan diantar ke kamar tamu. Karena tak ada pelayan, jadi semua dilakukan oleh Andi. Kalau Rama jangan diharap, setelah memberi izin, pemuda itu mengunci dirinya di dalam kamar. Alasannya tentu saja karena ada yang harus dia periksa sebelum dirinya tidur.


Andi juga sekarang sudah tak apa-apa tidur sendirian, dia tak lagi terlalu sering bermimpi buruk setelah Rama menceritakan semua. Makanya sekarang Andi memilih tidur di kamarnya sendiri, tak mau menganggu istirahat kawannya.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Rama bangun pagi hari sekali. Meski ini akhir pekan, pemuda itu sudah terbiasa bangun di pagi hari. Dia memasak sarapan sederhana untuk ketiga kawannya yang belum juga keluar dari kamar. Sepertinya ketiganya masih tidur.


Selesai memasak sarapan, Rama mengambil selembar roti dan juga segelas jus segar. Dia berniat berkeliling lapangan, bahkan pemuda itu susah mengenakan baju kaos dan celana olahraga. "Mau kemana?" tanya Andi yang baru saja turun. Pemuda itu menguap lebar meski sudah mandi.


"Olahraga," jawab Rama sambil mengikat tali sepatunya.


"Ahh, harusnya aku bangun lebih awal biar bisa ikut," desah Andi dengan nada sesal.


"Besok-besok masih bisa. Sarapan, gih sana. Aku pergi dulu," timpal Rama sebelum dia menghilang di balik gerbang tinggi di depan rumahnya.


Kiara celingukan, mencari sosok yang ingin dia lihat di pagi hari. "Rama mana?" katanya masih celingukan ke kiri dan kanan.


"Olahraga, keliling lapangan keknya," balas Andi menikmati sarapan yang dibuatkan sahabatnya.


"Wow, ini kamu yang masak?" tanya si Jo yang baru bergabung. "Kemaren kayaknya kamu merendah, ya An," lanjut pemuda itu menatap jenaka Andi.


"Ini masakannya Rama, jangan harap aku bisa buat secantik ini!" aku Andi jujur.


"Ahh, calon imam aku multi-talenta banget, ya!" desah Kiara entah terbang ke dunia mimpi bagian mana.


"Halu!" ketus Andi mendengus kesal.


"Bangun, mbak. Udah pagi, jangan mimpi ketinggian. Mending sarapan, yuk bisa, yuk bangun dan menghadapi kenyataan!" timpal si Jo menatap iba Kiara, seakan gadis itu sedang sakit dan tak tertolong lagi.


"Sirik aja kalian berdua!" dengus Kiara membuang muka ke arah lain. "Biarin napa aku bahagia dengan khayalan aku! Kalian kan gak rugi apa-apa juga?!" lanjut gadis itu cemberut. Sedetik kemudian Kiara langsung mengubah mimik wajahnya, dia tersenyum cerah seraya memotret hasil masakan Rama. Kenang-kenangan katanya, biar dia bisa ingat kalau Rama pernah memasak sarapan untuk dirinya. Andi dan Jonathan menggelengkan kepala mereka berdua tak berdaya. Menatap kasihan pada temannya yang sudah tak tertolong lagi, ini semua hanya karena virus yang disebarkan seorang pangeran tampan degan sejuta keahlian bernama 'Rama', teman mereka sendiri.


Rama yang tak tahu menahu apa-apa, malah asik berlari keliling lapangan yang tak jauh dari rumah mereka. Tubuhnya terasa sedikit kaku karena jarang berolahraga akhir-akhir ini. Makanya Rama menyempatkan diri berolahraga pagi ini. Kebanyakan mengurus dokumen dan duduk di kantor, membuat Rama merasa tua lebih cepat dari pada usia aslinya. Meski itu terlihat seperti kebohongan karena tampang Rama masih sangat menawan dan tampan seperti biasanya, tetapi itulah yang pemuda itu rasakan.


Rama menghabiskan satu jam berlari di lapangan, setelah beristirahat beberapa waktu, pemuda itu pun memutuskan untuk kembali. Sebelum matahari semakin tinggi, dan pengunjung akan bertambah banyak di sini.


Begitu sampai rumah, Rama langsung masuk ke kamar. Dia mandi lagi dan berganti pakaian dengan pakaian rumahan. "Jodohku, aku sudah makan sarapan penuh cinta yang kamu buatkan untuk aku!" kata Kiara alay. Gadis itu bahkan berlari ke arah Rama.


Rama menyingkir, enggan menerima pelukan dadakan dari sahabat absurdnya satu ini. Kiara malah tersungkur ke lantai. "Bantuin aku berdiri, plisss," kata Kiara dengan tatapan memohon, tak lupa mengedip-ngedipkan matanya agar terlihat imut di depan Rama.


Rama melihat sekilas, lalu dia berlalu pergi tanpa menggubris sahabatnya itu. "Ram, Ram, aku belum ditolongin ini, sayang? Yang?" pekik Kiara mencoba menarik perhatian Rama.


"Bisa diam? Atau perlu kusediakan tikus mati biar kamu tutup mulut, Ra?" Kiara menggelengkan kepalanya cepat, menutup mulutnya dengan kedua tangannya sendiri. Ancaman Rama terdengar begitu menakutkan, pemuda itu pasti akan melakukan apa yang dia ucapkan dengan nada datar begitu.


"Peace, Ram! Damai! Aku cuma bercanda biar pagi ini lebih indah," kata Kiara takut-takut, dia memasang cengiran canggung, balas menatap Rama yang menatap tajam dirinya. Rama mengangguk seraya berlaku pergi, Kiara menghela napas panjang. Astaga, sisi Rama yang seperti ini menakutkan tapi juga terlihat seksi di matanya. Ahh, sayangnya Kiara masih sayang nyawa. Dia tak akan main-main beberapa waktu ke depan dengan Rama, pemuda itu terlalu menakutkan kala sedang kesal.


...°°°°°...

__ADS_1


...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...


__ADS_2