Topeng.

Topeng.
40.


__ADS_3

Di sinilah Ponco sekarang, dia ditemukan pingsan oleh seseorang dan dibawa ke desa tempat tinggal orang yang menemukannya tersebut. Ponco dirawat oleh seorang dokter yang sudah pensiun dan mengabdikan dirinya untuk menolong warga desa di sini. Pria tua tanpa anak dan juga istri, sang istri sudah pergi lebih dulu dan mereka tak.memiliki anak satupun.


Bondan, nama dokter satu-satunya yang tinggal di desa itu menatap iba pada pria yang berbaring tak sadarkan diri di ranjangnya. "Malang sekali anak muda ini, wajahnya terbakar cukup parah. Belum lagi luka-luka lain yang tertoreh di seluruh tubuhnya, masih untung dia bisa tetap bertahan dan ditolong," desah dokter tua itu pelan.


"Untung saja desa kita memiliki anda, dok!" puji salah satu orang yang membantu dokter itu, tentu saja secara sukarela. Para penduduk di desa ini bergantian membantu dokter tua itu, selain membantu mengumpulkan herbal, mereka juga membantu merawat pasien kalau ada yang sakit.


Si dokter tersenyum kecil. "Ini desa istri saya, kemana lagi saya bisa pergi selain ke sini?!" balas dokter itu, mata pria tua itu menatap jauh, seolah mengenang masa lalu.


"Dan karena itu kami lebih bersyukur, dok!" timpal lawan bicara si dokter.

__ADS_1


"Panggil saja saya Kek Bondan. panggilan 'Dokter' itu terlalu berat untuk saya sekarang."


"He-he, maaf Kek Bondan, saya suka khilaf, mulut saya selalu manggil dokter duluan gitu," balas orang itu cengengesan.


Pria tua itu pun mengangguk maklum. "Sekarang kamu bisa kembali ke rumah kamu, terima kasih telah menolong kakek tua ini merawat anak muda itu," ucapnya sambil melirik Ponco dengan ekor matanya.


"Apa tak sebaiknya saya temani, Kek? Saya takut kakek kenapa-napa, kita kan belum tahu dia orang baik atau orang jahat?!" katanya curiga akan identitas orang yang mereka tolong.


"Tolong berteriak saja kalau ada apa-apa, Kek. Kami akan segera datang begitu mendengar teriakan kakek?!" Kakek Bondan pun mengangguk mengiyakan, akhirnya orang tadi pun pergi.

__ADS_1


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Kakek Bondan memutuskan untuk membuat obat sambil menunggui orang yang ditolongnya siuman. Tangan tuanya yang berkeriput, menggerus pelan daun-daunan yang sudah dipilah-pilahnya. Karena desa mereka jauh dari kota, obat-obatan terlalu sulit untuk didapat. Bantuan memang cukup sering datang, tetapi itu tak sesuai dengan jumlah penduduk yang ada di sini. Makanya Kakek Bondan memilih membuat obat herbal dari rumput dan daun-daun yang mereka semua kumpulkan.


Ponco melengguh kesakitan, Kakek Bondan pun menghampiri, ingin memastikan apa pria yang ditolongnya sudah sadar atau belum. Kakek Bondan menghela napas pelan, rupanya orang itu belum siuman. Melihat bibir Ponco kering, Bondan pun meneteskan beberapa tetes air. Kakek tua itu berpikir mungkin itu yang membuat orang di depannya ini melengguh barusan.


Setelah memastikan pria di depannya kembali tenang dan tak meringis kesakitan meski belum siuman, si kakek kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Saat malam sudah sangat larut, barulah sang kakek beristirahat.


...°°°°°...

__ADS_1


...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...


__ADS_2