
Senin, merupakan salah satu nama hari yang terkadang membuat Rama membenci harinya. Bagaimana tidak, hari itu merupakan awal semua kesibukannya terjadi selama seminggu penuh kecuali hari sabtu dan minggu. Dari pagi setelah sarapan, Rama akan berangkat ke sekolah lebih awal. Pulang sekolah dia berganti pakaian dengan kilat dan langsung ke perusahaan untuk belajar mengurus bisnis yang ditinggalkan kakeknya. Itu juga yang sering membuat sang nenek marah, selain karena sang cucu terlalu sibuk dan tak memiliki waktu untuk berbincang dengannya, si nenek kesal karena waktu istirahat cucu kesayangannya ikut berkurang.
Tak jarang Nek Lidya mengomel saat menemukan kalau sang cucu membawa pulang pekerjaan yang belum terselesaikan, Nek Lidya bahkan mengancam akan menutup perusahaan kalau tak dicegah oleh Rama. Akhirnya yang kena omel secara tak langsung adalah orang yang mengajari dan membuat cucunya bekerja terlalu banyak, siapa lagi kalau bukan sang sekretaris yang sangat dipercaya almarhum suaminya dulu.
"Kamu sudah makan, nak?" tanya si nenek mendesah lelah melihat cucunya.
Rama menoleh sambil membuka matanya yang tadi terpejam, Rama juga memaksakan senyum tipis agar dia tak terlihat terlalu lelah. "Sudah, dong nek. Ngomong-ngomong, kenapa nenek belum tidur? Padahal sudah jam segini?"
"Nenek mana yang bisa memejamkan matanya dengan nyenyak padahal tahu kalau cucu kesayangannya masih belum pulang?" Nek Lidya ikut duduk di samping cucunya, perempuan tua itu membawakan secangkir teh untuk Rama. "Minumlah, katanya itu bagus untuk menghilangkan rasa lelah?!" titah sang nenek membuat Rama harus tetap meminumnya meski tak terlalu ingin.
__ADS_1
"Terima kasih, nek." Rama menyeruput sedikit demi sedikit teh yang dibuatkan neneknya. "Ini sungguh mujarab, nek. Saya merasa baikan bahkan meski hanya baru meminum sedikit!" puji Rama sekaligus berkomentar.
"Baguslah kalau kamu suka, nenek akan membuatnya setiap kamu terlambat pulang!" balas sang nenek.
"Kalau begitu saya akan memastikan untuk pulang lebih cepat, nek."
Rama menggeleng cepat. "Bukan begitu, nek. Saya hanya tak ingin nenek yang kelelahan sebagai gantinya nanti!" jelas Rama.
Nek Lidya tersenyum senang, lalu perempuan tua itu bangkit dari duduknya. "Ini sudah larut, istirahalah, cucuku yang nakal!"
__ADS_1
"Nenek juga!" balas Rama ikut berdiri dan memberikan sang nenek pelukan singkat.
"Ingat, jangan bekerja lagi! Masih ada hari esok! Ngapain juga karyawan di perusahaan kalau kamu terus yang mengerjakan semuanya? Haruskah nenek memecat mereka semua dan mulai mencari pekerja baru yang lebih kompeten?"
Rama mengangkat tangannya tanda kalau dia kalah. "Tak ada pekerjaan untuk malam ini, saya berjanji! Saya akan mandi dan langsung tidur begitu masuk ke kamar?!"
Nek Lidya mengangguk puas, dia percaya cucunya akan selalu memegang janji yang dia ucapkan. "Selamat tidur, nak. Bermimpi lah yang indah!" kecupan singkat mendarat di dahi Rama, tentu saja Rama harus menunduk karena dirinya lebih tinggi dari sang nenek sekarang.
"Nenek juga, selamat malam dan mimpi indah untuk nenek!" Rama membalas kecupan sang nenek di pipi perempuan tua itu. Dia menyukai saat-saat seperti ini, dia merasa dirinya benar-benar bagian dari keluarga ini dan bukan hanya orang asing yang mencuri tempat orang lain. Jika ditanya apa sekarang dia masih berakting, maka jawabannya hanya satu. Saat ini rama melakukannya dengan lebih santai dan tanpa akting sama sekali, dirinya sudah bisa mengekspresikan rasa kasih sayang dengan tulus dan gak dibuat-buat. Hidup bersama selama beberapa tahun, telah menumbuhkan perasaan kasih sayang antar keluarga di hati Rama yang dulunya hanya ada kekerasan dan kekejaman dunia. Rama berharap harinya yang damai akan selalu berjalan seperti ini tanpa ada halangan sama sekali.
__ADS_1