Topeng.

Topeng.
26.


__ADS_3

Begitu sampai di rumah, Rama segera mandi dan berganti pakaian. Dia lalu bergegas ke ruang makan, dirinya menjadi yang pertama hadir di tempat itu. "Nenek belum datang?" tanya Rama pada pelayan yang menyiapkan sarapan untuk mereka bertiga.


"Nyonya besar sebentar lagi akan turun katanya, tuan!" balas si pelayan sopan. Rama mengangguk paham, membiarkan pelayan tadi meneruskan apa yang dilakukannya sebelumnya.


"Pagi kesayangan nenek!" ucap Nek Lidya yang melangkah mendekat. Rama berdiri, menarik kursi untuk sang nenek. "Pagi, nek." Rama tersenyum cerah hanya untuk sang nenek.


"Ha-ah, andai saja senyum sobatku ini bisa diabadikan, pasti bakalan laku keras kalau aku jual di kampus," desah Andi membuat Rama menatap sobatnya itu dengan tatapan tak suka.


"Seperti kekurangan uang saja?!" ketus Rama dengan senyum mengejek.


"Benar begitu? Jajan yang nenek kasih kurang, ya?" Nek Lidya bertanya dengan serius.

__ADS_1


Andi menggeleng gelabakan. "Gak, Nek Lidya, gak! Andi cuma bercanda tadi, cuma pengen ngusilin Rama aja, kok," aku Andi cepat.


"Kalau kurang bilang, ya. Nenek tahu kalian butuh lebih banyak untuk pengeluaran kalian di masa-masa seperti ini!" Andi mengangguk cepat, sedangkan Rama tertawa mengejek kawannya itu. Andi berdecih pelan, niat hati mengerjai kawannya, ternyata malah dia yang hampir makin merepotkan pemilik rumah ini.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Sehabis sarapan, Rama dan Andi menemani sang nenek berkebun di taman belakang. Nek Lidya menggunakan topi lebar untuk menghindari matahari yang sedikit lebih terik dari biasanya. "Nek, bagaimana kalau kita menghabiskan waktu di rumah kaca saja? Di sini terlalu panas, aku takut nenek sakit nanti," ajak Rama, pemuda itu mengelap peluh di dahinya dengan punggung tangannya.


"Nenek kalian ini cukup kuat, ya! Jangan perlakukan nenek seperti anak kecil yang terlalu rentan dengan cuaca!" bantah si nenek keras kepala. Kedua pemuda itu menggelengkan kepala lemah, mereka hanya bisa mengikuti keinginan sang nenek. Sesekali Rama dan Andi bergantian mengusap peluh nenek mereka, ketiganya menghabiskan waktu dengan bahagia.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...

__ADS_1


Keesokan harinya, Rama memerintahkan kepala pelayan untuk memanggil beberapa tukang, dia membutuhkan jasa mereka untuk membuat atap. Terserah jenis atap apa yang harus dipasang, dia tak terlalu tahu tentang itu, yang penting atapnya cocok untuk berkebun. Kebetulan Rama hari ini tak ada kelas, jadi dia bisa mengamati secara langsung pekerjaan mereka.


Biaya tak jadi masalah bagi pemuda itu, dia memiliki cukup banyak tabungan dari upah kerjanya dan sisa jajan yang diberikan sang nenek. Jadi, dia bisa memakai uangnya untuk masalah ini. Rama juga tak merasa memiliki keperluan lain, jadi lebih baik uangnya digunakan untuk kepentingan neneknya. Melindungi sang nenek prioritas utamanya saat ini.


"Kamu sedang apa di sini, Ram?" tanya si nenek.


"Renovasi kebun nenek!" jawab Rama singkat.


"Huh, kebun nenek mau kamu apakan, bocah nakal?" si nenek berkacak pinggang, tak suka kalau ada yang menganggu tempat favoritnya.


Rama memeluk neneknya dengan manja. "Rahasia, dan nenek tak boleh menolaknya?!" ucap Rama disertai senyum lebar. Nek Lidya menghela napas, nama bisa dia menolak wajah manis cucunya yang seperti ini. Nek Lidya pun mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


__ADS_2