Topeng.

Topeng.
62.


__ADS_3

Sudah tiga hari Andi perang dingin dengan Rama, Rama juga tak ada niat mendekati. Pemuda itu hanya meninggalkan catatan kalau dia meminta maaf, dia juga mengatakan tak akan menemui kawannya itu sampai Andi sendiri yang siap untuk berbicara lagi.


Di satu sisi Andi menghela napas lega, tetapi di sisi lain, pemuda itu merasa kesal. Dia merasa kalau dirinya tak begitu penting, makanya sahabatnya bisa begitu santai tak bertegur sapa dengan dirinya. Dia tak tahu saja kalau sahabatnya hanya ingin memberi waktu lebih banyak padanya, agar dia tak lagi merasa kesal.


Dikarenakan hal itu, Andi menjadi semakin sering uring-uringan. Dia tak mengurus tugasnya, sering tak konsen saat di kelas, bahkan Andi terlihat malas dan sering mencoret-coret bukunya. "An, kamu kenapa, sih?" tanya Kiara heran. "Dari beberapa hari yang lalu selalu gak fokus," lanjut gadis itu menegur kawannya. "Kita disuruh ikut kuis, bukannya belajar, kamu malah bengong sambil coret-coret gak jelas begitu!" omel Kiara setengah kesal dengan kelakuan Andi.


"Gak ada apa-apa!" timpal Andi dengan nada datar.


"Udah aku bilang kan kemarin, kamu harus cerita biar masalah kamu gak makin dan makin numpuk gini!" desak Kiara.


"Dan aku juga udah bilang gak ada yang mau aku ceritain, Ara!" timpal Andi berdiri dan pergi meninggalkan kelas. Tak peduli dosen di depan memanggilnya, hukuman itu urusan belakang.


Kiara melongo, sesaat kemudian dia memanggil nama Andi. Sayangnya sahabatnya itu sudah keburu pergi. "Aku udah kelewatan, ya?" tanya gadis itu pada dirinya sendiri. Kiara mengangkat bahu ringan. "Nanti aku minta maaf, deh," katanya memutuskan meminta maaf kalau bertemu dengan Andi nanti.


Andi sendiri memilih pulang, persetan dengan sisa kelas yang belum dia hadiri. Biarlah sekali ini dia bolos, tak ada yang akan dirugikan juga.


Begitu sampai rumah, Andi menghentikan langkahnya. Dia melihat kawannya menatap pintu kamarnya dengan tatapan yang, ahh, entahlah. Susah dijelaskan karena Andi tak pernah melihat kawannya menatap seperti itu. "Ngapain di situ?" tanya Andi tiba-tiba bersuara. Suaranya cukup keras hingga mengejutkan sahabatnya.


Suara Andi membuat Rama tersentak kaget, pemuda itu menoleh dan melihat kawannya yang sudah tiba. "Oh," gumam Rama hendak tersenyum, tetapi kemudian dia membuang muka ke lain arah. "Aku ... aku akan pergi," kata Rama berbalik, memilih menjauh dari pandangan sahabatnya.


"Apa segitu gampangnya menghindari aku?" tanya Andi mengepalkan tangannya.


Rama menunduk lebih dalam. "Hanya itu yang bisa kulakukan sambil terus meminta maaf," balas Rama dengan suara pelan.


"Harusnya kamu cari cara kalau memang ingin dimaafkan!" kata Andi secara tak sadar meninggikan suaranya.


"Hanya itu cara yang bisa kupikirkan di saat kamu gak mau ngeliat aku," balas Rama tersenyum kecut. "Makanya aku hanya bisa meminta maaf dengan menyelipkan kertas dari pintu kamar kamu," lanjut Rama.


Andi ingin membantah, tapi memang itu yang dia katakan pada kawannya. Jadi, dia tak bisa mengatakan kalau dirinya tak masala sekarang. "Tak bisakah kita berbicara sambil bertatapan muka?" gerutu Andi membuang muka ke arah lain.


"Apa tak masalah? Aku hanya tak ingin membuat kamu semakin kesal dengan melihat wajahku," balas Rama yang tetap berdiri di tempatnya, membelakangi sahabatnya sendiri.


"Cih, justru aku semakin kesal kalau kamu terus bertanya seperti itu?!" decih Andi tak suka.


"Baiklah," ucap Rama bertindak seperti anak yang penurut, dia berbalik menghadap Andi, tetapi pemuda itu enggan menatap kawannya. "Katakan apa yang ingin kamu katakan, aku akan menjadi pendengar yang baik dan menerima semua cacian, makian, omelan, atau apa pun itu," lanjut Rama dengan nada pasrah.


"Kamu kira aku setua itu apa? Aku gak suka ngomel, tahu gak?!" kilah Andi cepat. Apa untungnya marah-marah, yang ada dia hanya akan makin kesal saja.


"Aku gak bilang kalau kamu udah tua, aku cuma nyuruh kamu bicara, terserah mau mengumpat atau apa pun itu, aku gak masalah. Setidaknya dengan melakukan itu, mungkin kekesalan kamu bakalan hilang, meski hanya sedikit," jelas Rama menanggapi.


"Ini gak akan ada selesainya. Biarkan aku bertanya, kenapa kamu mengaku? Padahal kalau kamu diam saja, kita tak akan begini, dan aku juga gak akan tahu semua kebohongan kamu!" ucap Andi menyilangkan tangannya, siap mendengar apa pun pengakuan yang terucap dari belah bibir kawannya itu.


"Karena aku yang seperti ini pun merasakan perasaan takut dibenci dan dijauhi," aku Rama. "Aku serakah, bukan?" kekeh pemuda itu terdengar menyakitkan.


"Apa kamu memiliki niat untuk pergi kalau aku memberi maaf padamu?" tanya Andi lagi.


"Pergi? Kemana?"ucap Rama balik bertanya. "Bahkan jika kamu tak suka melihatku, aku akan tetap di sini. Lagi pula kakek menyuruh aku menjadi pelindung buatmu," lanjut pemuda itu dengan nada getir. Walau dia diusir sekalipun, dia tak akan pergi. Mungkin dia akan menjauh sebentar, tapi tak akan benar-benar meninggalkan sisi sahabatnya sendirian.


"Bagus, karena aku juga tak suka sendirian!" timpal Andi mengangguk-anggukkan kepalanya.


Mata Rama terbelalak, apa itu artinya kawannya telah memberikan maaf untuk dirinya. "Apa ... kita berbaikan?" tanya Rama hati-hati. "Aku bisa muncul di depan kamu?" tanya pemuda itu lagi.

__ADS_1


"Jangan bercanda! Kamu menipu dan membohongi aku begitu lama,lalu kamu ingin dimaafkan secepat ini? Heh, keterlaluan?!" dengus Andi. Rama menundukkan wajahnya lagi, ahh, dia terlalu berharap. Karena sudah mengetahui bagaimana hidup bersama keluarga, Rama jadi serakah dan ingin terus seperti itu. Padahal dia harus menebus kesalahannya untuk sekarang, bisa-bisanya dia berpikir kalau semua sudah selesai dan siap termaafkan.


"Maafkan aku, sepertinya aku kehilangan akal dan menjadi semakin serakah lagi," ucap pemuda itu dengan nada getir, dia menggigit bibirnya merasa kesal dengan dirinya sendiri.


"Pertama, jangan menghindar. Jika ingin minta maaf, lakukan dengan benar saat kita bertatap muka. Kedua, mulai sekarang harus jujur. Jangan berbohong meski sedikit pun, hal sekecil apa pun ceritakan semuanya, bahkan jika itu tak penting. Ketiga, teruslah menjadi Rama. Sahabat aku, keluarga aku, cucu kakek dan nenek. Aku terlalu malas mengurus dan meluruskan semua pada orang lain, jadi cukup kita saja yang tahu kebenarannya. Terakhir, meski aku gak bisa memberi kata maaf sepenuhnya, tetapi aku lebih kesal dan uring-uringan karena kita tak saling bertegur sapa. Jadi, tolong bicara padaku setiap hari seperti biasanya," ucap Andi membulatkan keputusannya. Dia belum tahu apa dia telah memaafkan Rama atau tidak, tapi yang dia tahu dirinya sangat kesal hanya karena masalah yang terjadi antara mereka.


"Terima kasih dan maaf," ucap Rama dengan mata berkaca-kaca.


"Astaga, jangan menangis sobat. Aku benci melihat sisi Rama yang seperti ini!" timpal Andi menyembunyikan wajahnya yang juga sama-sama terlihat buruk, menahan tangis itu sangat tidak mengenakkan.


"Aku tak peduli, terima kasih karena telah memberi aku kesempatan." Rama mengucek matanya, tak membiarkan air mata menetes, dia harusnya tersenyum, bukannya menangis di saat seperti ini.


"Ck, terserah sajalah. Aku lapar, ayo kita makan di luar nanti," ajak Andi berniat memperbaiki hubungan persahabatan mereka berdua.


"Baik, pilih makanan apa saja yang kamu suka, aku yang traktir!" timpal Rama bersemangat.


"Gak, kali ini aku yang bayarin!" tolak Andi cepat. Suasana hatinya sedikit lebih baik, jadi dia ingin makan di luar dan membayari semuanya.


"Aku yang salah, jadi aku yang harus bayar!" timpal Rama keras kepala.


"Mood aku lagi bagus, jadi jangan rusak lagi!" kata Andi membuang muka ke arah lain.


Rama terdiam sejenak, setelahnya dia kembali mengatakan sesuatu. "Kamu traktir makanannya, biar aku yang bayarin minuman dan selebihnya!" ucap Rama mencetuskan ide asal.


Andi berpikir sebentar, setelahnya dia menganggukkan kepala tanda setuju dengan ide kawannya. "Oke, gak masalah," balas Andi setuju. Keduanya pun keluar bersama dan menghabiskan waktu sama seperti saat mereka belum ada masalah.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


"Yo, ngapain di sini? Kamu masuk kelas ini juga?" kata Andi yang melangkah semakin mendekat.


Kiara menggelengkan kepalanya. "Gak, aku sengaja di sini untuk meminta maaf," balas Kiara mengaku.


"Hah? Minta maaf? Buat apa?" tanya Andi menatap heran Kiara.


Kiara memainkan kedua tangannya sambil menunduk. "Itu ... kemarin aku ngerasa kalau aku sedikit keterlaluan," katanya mencuri-curi lihat ke arah kawannya yang berdiri di depannya.


Seakan teringat sesuatu, Andi malah memekik tertahan. "Ahh, kalau soal itu, sepetinya aku yang seharusnya meminta maaf sama kamu. Maaf karena mood aku buruk, aku malah ngebentak kamu yang gak ada salah sama sekali," timpal Andi menggaruk pipinya canggung.


"Okey, jadi kita saling memaafkan, kan?" tanya Kiara menyimpulkan. Andi mengangguk, mengucapkan kata 'Ya', sebelum keduanya saling berjabat tangan sambil bertukar senyum. "Opss, aku harus pergi. Kelas aku hampir dimulai sebentar lagi," ucap Kiara melepaskan jabatan tangan mereka dengan cepat.


"Hati-hati, semangat di kelas. Nanti kita makan bersama!" teriak Andi cukup nyaring, sehingga membuat dirinya langsung menjadi pusat perhatian. Cepat-cepat Andi menyingkir, masuk ke dalam kelas dan duduk seolah bukan dirinya yang berteriak tadi.


Waktu berlalu begitu cepat, kini Andi dan Kiara sedang duduk di kafe dekat kampus mereka. Jangan harap kalau mereka hanya berdua, Andi memanggil Jonathan agar bergabung dengan dirinya dan juga Kiara. Kiara juga tak protes, menurut gadis itu, semakin banyak tema berkumpul, akan semakin seru suasananya.


"Rama gak ikut?" tanya Jo yang baru sadar kalau salah satu kawannya tak hadir.


"Masih sibuk, banyak kerjaan," kata Andi menimpali dengan cepat.


"Gimana kalau kita berdua ikut ke rumah kamu, trus buat kejutan untuk Rama? Biar dia lupa akan kesibukannya meski cuma sedikit," usul Jo menjentikkan jarinya.


"Wuah, aku setuju. Kita bisa buat kue-kue gitu atau apa lah yang manis-manis," timpal Kiara cepat.

__ADS_1


"Emang ada yang bisa buat kue? Ada gitu di antara kita yang bisa berurusan di dapur?" tanya Andi ragu.


"Beuh, jangan ditanya," ucap Kiara menggebrak meja. "Aku gak bisa," lanjut gadis itu menundukkan kepalanya.


"Elah, kukira bisa, tahu-tahunya malah gak," decih Jonathan yang tadinya sepertinya sudah sangat berharap. "Apa? Jangan liatin aku kayak gitu, aku juga gak pintar ngurusin dapur," aku Jo saat dirinya ditatap oleh kedua temannya.


"Kalau kamu, An?" tanya Kiara dan Jonathan hampir bersamaan.


"Aku bisa sedikit, tapi belum pernah nyoba buat makanan manis gitu," aku Andi. Dia memang bergantian masak beberapa hari ini karena para pembantunya diberi libur.


"Sempurna!" ucap Kiara bersemangat. "Jadi kamu bisa masak apa aja?" tanya gadis itu penasaran.


"Hmm, gak banyak," timpal Andi sambil berpikir.


"Iya apa aja?" kata Jo tak sabaran.


"Rebus air, masak mie, ceplok telor, hmm, sama buat nasi goreng," balas Andi nyengir kuda. "Dan jangan harapkan nasi goreng ala resto yang penampilannya keren dan enak dilihat. Bisa dimakan aja udah sukur, dari sepuluh kali percobaan, mungkin hanya dua yang bisa dikatakan berhasil dan rasanya cukup lumayan.


"Astaga, yang begitu dikategorikan bisa ngurus dapur?" keluh Kiara tak percaya. Kenapa masak air harus dimasukkan, itu kan semua orang juga bisa.


"Aku mau muji, tapi aku gak bisa berkata-kata karena mendengar pernyataan kamu tadi, An," timpal Jonathan menggelengkan kepalanya lemah.


"Kenapa? Apa yang salah? Aku serius, loh," kata Andi menanggapi kedua kawannya.


"Gak ada, kamu paling benar," ucap Jo dan Kiara secara bersamaan. Andi malah tertawa senang, merasa kalau dirinya sedang dipuji.


"Begini aja, kita beli makanan penutup yang rasanya manis," usul Kiara tak yakin menyerahkan urusan dapur pada Andi.


"Kenapa gak aku aja yang masak? Rama selalu muji makanan yang aku buat, kok," ucap Andi setengah protes.


Jonathan menepuk bahu Andi pelan. "Begini kawan, kamu kan udah capek kuliah, udah capek menghadiri kelas. Jadi, kalau bisa dipermudah, kenapa harus dipersulit?" kata Jonathan disertai senyum kecil, berharap kawannya terbujuk dan tak bersikeras berurusan dengan dapur.


"Yup, lagian kamu juga gak bisa buat makanan manis. Jadi lebih baik kita beli aja, dan makan bersama saat Rama udah balik," timpal Kiara.


Andi mengangguk setuju. "Baiklah, kurasa tak masalah dan menghemat waktu juga. Tambahkan beberapa cemilan di daftar belanjaan yang akan kita beli," ujar Andi yang setuju-setuju saja dengan kedua kawannya.


"Kita patungan, oke?" timpal Jo meminta persetujuan.


"Biar aku yang bayar," kata Andi dan Kiara bersamaan.


"Ini kejutan buat Rama dan Rama itu sahabat aku, jadi aku yang harus bayarin semua pengeluaran!" ucap Andi cepat sambil menatap Kiara.


"Huh, aku juga temannya Rama, jadi aku bisa dan berhak membayari semua, kan?" timpal Kiara memicingkan mata. Keduanya beradu pandang dan tak ada yang mau mengalah.


"Kalian berdua jangan keras kepala, oke?" lerai Jo menengahi. Kita bagi tiga semua pengeluaran, dan bayar bersama. Bukankah Rama teman kita semua?" lanjut pemuda itu berharap perang tatap-menatap antara Kiara dan Andi cepat selesai.


Andi dan Kiara saling menatap, kemudian mereka berdua mengangguk bersama. "Oke, lakukan seperti itu saja!" kata keduanya lagi-lagi secara bersamaan.


...°°°°°...


...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...

__ADS_1


__ADS_2