Topeng.

Topeng.
15.


__ADS_3

Rama yang memiliki jadwal padat pun sangat jarang makan bersama sekarang, setelah sekolah dia harus ke perusahaan mendiang kakeknya untuk menangani sekaligus belajar tentang bisnis. Terkadang pemuda itu pulang di atas jam sepuluh malam saking banyaknya hal yang harus dipelajarinya.


Sesekali Andi membantu Rama ketika pemuda itu tugas piket, hanya membantu sedikit agar kawannya itu tak terlalu kelelahan. "Jangan terlalu memaksakan diri, Ram?!" ucap Andi yang merasa sedikit kesal temannya seakan tak memiliki waktu istirahat.


"Tak apa, hanya segini masih bisa kutanggung!" balas Rama sembari memamerkan senyum simpul, senyum yang seakan mengatakan kalau dirinya masih baik-baik saja.


"Ya, ya, ya, bisa kulihat dengan sangat jelas?!" cibir Andi memutar bola matanya kesal. Sahabatnya itu selalu saja keras kepala dan tak pandai menjaga dirinya sendiri, selalu mengatakan baik-baik saja, nyatanya dia sering mimisan beberapa kali.


"Ha-ha, ha-ha, sungguh aku baik-baik saja, An!" kata Rama meyakinkan kawannya. "Dan kamu juga banyak membantu, bukan?" lanjut pemuda itu.

__ADS_1


"Syukurlah kalau kamu sadar kalau aku udah banyak bantu ini-itu! Aku cuma gak mau kalau kamu sakit dan membuat Nek Lidya sedih, Ram?!" aku Andi jujur.


"Tenang saja, aku gak gampang sakit, kok!" balas Rama cepat. Pemuda itu berkata jujur, dia bahkan tak pernah jatuh sakit ketika dirinya hidup dalam kepelikan dulu, tidur seperti tak tidur karena harus selalu waspada, makan apa saja yang bisa dimakan bahkan jika itu jamur yang belum diketahui beracun atau tidaknya. Jadi tak mungkin dirinya jatuh sakit hanya karena bekerja lebih keras di kehidupannya kali ini, apalagi pekerjaannya terbilang sangat normal meski sedikit menumpuk.


"Kalau sudah selesai mengomelnya, pulang sana! Temani nenek aja, kasian nenek kalau gak ada temen ngobrol?!" ucap Rama bercanda.


"Aku gak ngomel, ya. Aku tuh cuma kasih saran! Ngasih masukan buat sahabat aku yang bebal satu ini?!" ketus Andi kesal karena diusir.


"Siapa? Siapa yang ngambek? Aku? Malas ngambek sama orang yang batu kayak kamu, Ram!" sindir Andi mengingkari fakta kalau dirinya memang sedang ngambek.

__ADS_1


"Iya, iya, yang gak ngambek, pulang gih sana! Ntar aku nyusul ..., kalau udah kelar tapi?!" Rama menarik sudut bibirnya sedikit.


"Nunggu kamu kelar sempat lebaran monyet, Ram. Ayo, balik sekarang!" Andi dengan sikap masa bodohnya pun menarik tangan sahabatnya itu.


"Tapi kerjaan aku masih banyak, An," kata Rama berusaha menolak ajakan kawannya.


"Masih ada hari esok! Kamu gak kasihan sama Nek Lidya? Beliau selalu nungguin, loh agar bisa makan malam sama-sama. Lagian kata Nek Lidya, perusahaan gak bakal bangkrut cuma gara-gara kamu pulang tepat waktu?!" cerocos Andi panjang lebar.


"Makanya aku narik tangan kamu biar kamu mau ikut pulang, ini perintah dari 'Penguasa rumah'?!" lanjut Andi menekankan kata 'Penguasa rumah' agar kawannya tak lagi memiliki alasan untuk menolak. Akhirnya Rama pun memilih untuk mengalah dan mengikuti keinginan kawannya ini, salahnya juga terlalu sibuk dan jarang menghabiskan waktu dengan sang nenek. Beruntung, ada Andi yang bisa menemani sang nenek, agar beliau tidak terlalu kesepian.

__ADS_1


Di perjalanan, Andi membiarkan kawannya memejamkan mata. Dia sangat yakin kawannya satu ini pasti kelelahan walau tak mau mengakuinya. "Ram, sudah sampai!" kata Andi pelan takut membuat kawannya terkejut.


Rama tersenyum kecil. "Aku tahu!" katanya langsung turun dari mobil, meninggalkan Andi yang berkedip bingung.


__ADS_2